Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PELEMAHAN rupiah sering menjadi isu yang diangkat sebagai salah satu penggambaran kondisi perekonomian Indonesia. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan paling tidak ada dua tantangan yang harus diselesaikan untuk meredam tergerusnya nilai rupiah, yaitu defisit transaksi berjalan dan ketidakpastian kebijakan AS.
Pada tantangan struktural, Indonesia tengah berupaya keluar dari jebakan masyarakat berpendapatan menengah. Saat ini penduduk Indonesia berada pada pendapatan per kapita sekitar US$3.400 per tahun dan untuk keluar dari jebakan harus mencapai pendapatan di atas US$12 ribu per kapita.
Hanya sedikit negara yang bisa keluar jebakan pendapatan menengah. Rata-rata negara tetap berada di dalamnya dan Indonesia kini masih berada pada tingkat lower middle income (pendapatan menengah rendah).
Tantangannya, diakui Dody, berat. Dalam tahapan pendapatan menengah ini Indonesia memiliki bonus demografi, namun akan berakhir 10-15 tahun ke depan. Jika bonus itu tidak termanfaatkan, khususnya untuk menggenjot produktivitas, Indonesia akan kehilangan modal.
“Dari sisi ekonomi makro kami melihat dukungan dari faktor produksi modal teknologi menjadi mutlak. Kita harus keluar tidak saja dari demand policy yaitu kebijakan moneter, kebijakan fiskal, tapi juga lebih dari kebijakan dari sisi suplainya,” ujar Dody di Jakarta, Selasa (6/11).
Indonesia juga masih memiliki tantangan masalah infrastruktur, pendidikan, kelembagaan dan inovasi. Perjalanan Indonesia sejak 1981- saat ini, isu utama adalah mengenai sisi eksternal karena Indonesia menjalani ekonomi terbuka, namun dengan ukuran yang relatif kecil.
Pada 1981-1997, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 6% dengan defisit transaksi berjalan di 2,74%. Kemudian di 1998, Indonesia mengalami krisis ekonomi dan pertumbuhan ekonomi kontraksi pada 3,6% rata-rata. Meski begitu, transaksi berjalan surplus karena impor menurun tajam akibat ekonomi tidak tumbuh.
Saat Indonesia kembali ekspansi dengan pertumbuhan di 5,3%, transaksi berjalan kembali defisit.
“Artinya kalau ekonomi Indonesia tumbuh cenderung diikuti transaksi berjalan yang defisit. Sekarang, bila melihat negara lain, inti masalahnya apakah Indonesia mampu menuju surplus secara positif, buka karena impor kontraksi ataupun harga komoditas sedang naik,” ujar Dody.
Ketika transaksi berjalan Indonesia surplus, seharusnya berasal dari transaksi dagang yang surplus dan itu diperoleh dari sisi manufaktur. Dody memberi contoh dari negara regional yaitu Vietnam, yang memiliki rasio manufaktur terhadap PDB sebesar 16%, hanya selisih sedikit dari Indonesia yang 21%. Akan tetapi, komposisi ekspor Vietnam 76% berasal dari manufaktur, sedangkan Indonesia hanya 48%.
Ini yang mendorong transaksi dagang Vietnam tumbuh sebesar 8,5% dan Indonesia hanya di 1,7%. Apabila Indonesia hendak menuju kepada level pendapatan menengah tinggi harus mampu menggenjot penjualan produk yang diolah dengan komponen impor rendah.
“Konten impor kita masih lebih besar. Komitmen pemerintah dan Bank Indonesia akan menekan masalah defisit transaksi berjalan ini, yang selalu muncul dari waktu ke waktu,” ungkap Dody.
Dilihat dari siklus, perlambatan ekonomi terjadi hampir di semua negara, kecuali AS. Respons kebijakan semua menunjukkan kecenderungan suku bunga di banyak bank sentral . Suku bunga kebijakan AS, Fed Fund Rate, masih akan naik di Desember, dan 2-3 kali kenaikan susulan di 2019.
Di negara kawasan, bank sentral mulai menaikkan suku bunga di kuartal IV 2018 maupun 2019. Artinya dari konteks moneter, suku bunga dan likuiditas akan ketat di tahun depan.
“Sangat tergantung dari apakah sisi risiko perdagangan sudah akan melambat,” imbuh Dody.
Kemudian, melihat sekarang gambaran dari AS, imbal hasil dan suku bunga di AS naik. Masalah ketidakpastian kebijakan juga meningkat.
“Artinya dari sisi global, belum bisa dikatakan kepastian AS sudah mulai terlihat,” ucapnya.
Nilai tukar rupiah selama satu minggu belakangan relatif menunjukkan pergerakan yang stabil di bawah Rp15 ribu, dengan depresiasi sebesar 10,6% sampai 22 Oktober lalu.
Aliran modal masuk sudah mulai terjadi seminggu terakhir. Sentimen membaik karena secara fundamen meski ada kekurangan, perekonomian Indonesia dinilai masih lebih baik dari kawasan.
Ke depan, kebijakan menghadapi ketidakpastian sampai akhir tahun masih dalam evaluasi Bank Indonesia. Masalah defisit transaksi berjalan dan ekspor-impor masih utama.
Kedua, persaingan modal di kawasan. Semua negara dalam suku bunga tinggi berusaha menarik aliran modal yang semakin terbatas ke negara masing-masing.
Di domestik, tantangan akan ada pada masalah likuiditas di sistem keuangan, neraca korporasi, risiko dari inflasi, dan kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang kontraksi akibat suku bunga yang tinggi.
Akar masalah yaitu defisit transaksi berjalan, sebut Dody, harus diatasi terlebih dahulu. Kalau tidak, rupiah akan terus mengalami tekanan. Bagi BI, apa pun yang dilakukan pemerintah, mereka tetap menjaga stabilitas nilai tukar.
Di domestik, Indonesia juga menghadapi masalah inflasi bila pemerintah nanti melepas subsidi bahan bakar serta risiko dari defisit transaksi berjalan. “Jangka pendek menekan defisit dilakukan dengan peningkatan pajak impor, serta implementasi biodiesel 20,” tukas Dody. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved