Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 naik 2,95 juta orang ketimbang Agustus 2017 menjadi 131,01 juta orang. Kenaikan serupa juga terjadi pada Tingkat Partsipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang meningkat 0,59 poin persen.
Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan peningkatan tersebut disebabkan proyek-proyek padat karya yang dijalankan pemerintah saat ini. Penyerapan tenaga kerja yang meningkat juga menjadi cerminan pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,17%.
"Tenaga kerja yang tumbuh itu cerminan dari meningkatnya elastisitas penciptaan lapangan kerja karena kombinasi dari proyek-proyek yang berkaitan dengan pedesaan dan padat karya. Bahkan, dari turunan-turunan proyek infrastuktur. Dilihat dari strategi pemerintah itu (peningkatan penciptaan lapangan kerja) akan secara alamiah terjadi," kata Ari dihubungi Media Indonesia, Senin (5/11).
Ari menambahkan, ada perubahan pola perputaran ekonomi beberapa tahun belakangan. Menurut catatannya, pada periode 2010-2014 elastisitas penciptaan kesempatan kerja rata-rata naik 0,22% di tiap 1% kenaikan pertumbuhan ekonomi. Pola mulai bergeser di periode 2015-2018, di mana setiap 1% pertumbuhan ekonomi, elastisitas meningkat dua kali lipat menjadi 0,53%.
Pemerintah kemudian mengubah cara untuk menarik lebih banyak investasi luar negeri datang ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada lebih banyak kesempatan kerja menjadi pancingan bagi swasta dan luar negeri untuk mau berinvestasi ke Indonesia.
"Tetap kita butuh pemerintah untuk tingkatkan keampuan tenaga kerja. Pemerintah kasih 'gula' dulu baru swasta dan luar negeri ikut bergabung. Ini memberi sinyal kepada swasta untuk lakukan investasi," tuturnya.
Pada periode 2010-2014 pertumbuhan tenaga kerja lebih disebabkan boom komoditas, di saat harga batu bara dan kelapa sawit membaik. Ketika itu, penyerapan tenaga kerja tidak terasa langsung. Baru setelah pemilik perkebunan dan tambah bergeser ke sektor properti penciptaan tenaga kerja dirasakan.
"Dulu orang berani pasang dulu hasilnya dilihat kemudian. Sekarang orang lebih konservatif. Peningkatan jumlah tenaga kerja ini berita bagus bahwa permintaan domestik sedang oke. Jadi kalau ada investasi, paling tidak dari domestik bisa diserap," ungkapnya.
Peningkatan jumlah kesempatan kerja ini terjadi di tengah bergejolaknya nilai tukar rupiah. Namun, data ini bisa menjadi basis untuk perusahaan domestik melakukan ekspansi melalui ekspor.
"Walaupun ada pelemahan rupiah ternyata perekonomian domestik masih menjanjikan. Bahkan dengan ini pengusaha bisa masuk ke ekspor. Dari domestik bisa jadi basis untuk ekspor kalau domestik sudah terpenuhi, sudah balik pokok." tandas Ari. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved