Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi April 2018 sebesar 0,10%. Tingkat inflasi kalender sepanjang Januari-April 2018 tercatat 1,09%. Meski komponen bergejolak (volatile) food memiliki andil negatif terhadap inflasi seiring terkendalinya harga komoditas strategi, namun pemerintah harus mewaspadai Bulan Ramadan yang identik dengan potensi gejolak harga.
“Memang inflasi ada tren penurunan. Kinerja pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan dan Bulog yang bisa menekan inflasi pangan April 2018, perlu diapresiasi. Tapi tantangan ke depan ialah menjaga inflasi pangan Bulan Ramadhan,” ujar ekonom INDEF Berly Martawardaya kepada Media Indonesia, Kamis (3/5).
Menilik Bulan Ramadan 2017 lalu yang jatuh pada Mei-Juni, tingkat inflasinya relatif tinggi hingga 1,08%. Sedangkan periode Bulan Ramadan 2016 jatuh pada Juni-Juli dengan tingkat inflasi mencapai 1,35%.
Berly menekankan upaya pemerintah mengendalikan stok dan harga selama Bulan Ramadan tidak boleh kendor agar inflasi tetap terjaga di level aman. Apalagi permintaan selama Bulan Ramadhan berpotensi meningkat. Dalam APBN 2018, pemerintah menargetkan tingkat inflasi sebesar 3,5%.
“Kalau (upaya pengendalian) kendor, ya bisa naik lagi inflasi. Beberapa komoditas yang harus diwaspadai karena ada potensikenaikan ialah beras, daging sapi, bawang merah, bawang putih dan cabai,” tutur Berly.
Senada, pengamat ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengatakan tekanan inflasi terbesar Bulan Ramadhan bersumber dari permintaan musiman (seasonal demand).
Selanjutnya, faktor lain yang berpotensi meningkatkan inflasi yaitu tekanan “imported inflation” imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menyusul nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi cukup tajam sepanjang April 2018, menurutnya, pelamahan kurs mendorong kenaikan biaya produksi industri yang mayoritas menggunakan bahan baku impor, berikut meningkatkan harga barang konsumsi yang diimpor.
“Jadi tekanan inflasi terbesar untuk Mei dan Juni 2018, terbesar datang dari permintaan musiman Bulan Ramadhan. Faktor lain yang akan mempengaruhi inflasi adalah tekanan “imported inflation” akibat pelemahan rupiah. Ini menaikkan biaya produksi industri yang gunakan komponen impor. Begitu juga dampak dari kenaikan harga minyak dunia,” terang Eric yang memproyeksikan tingkat inflasi sampai akhir tahun 2018 (year on year/yoy) sebesar 4,0%. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved