Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Dunia memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 akan mencapai 5,1%. Penguatan ekonomi domestik mulai ditandai capaian produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2017 yang naik menjadi 5,06%.
Adapun pertumbuhan ekonomi kumulatif dari kuartal I sampai kuartal III 2017 tercatat 5,03%. Dalam APBN Perubahan 2017, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,2%.
Membaiknya perekonomian Indonesia didukung sejumlah aspek. Di antaranya peningkatan harga komoditas, penguatan ekonomi global, pertumbuhan investasi, membaiknya konsumsi masyarakat hingga kebijakan moneter dan keuangan yang relatif akomodatif. Kontribusi positif itu diyakini terus berlanjut untuk menyokong pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Kondisi ekonomi Indonesia terus menguat sejak kuartal III dan akan berlanjut sampai akhir 2017. Selain karena terdorong faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi global, faktor domestik seperti konsumsi rumah tangga dan swasta menunjukan lampu hijau. Konsumsi pemerintah juga lebih dari cukup," papar Kepala Perwakilan Bank Dunia Rodrigo Chaves dalam Indonesia Economic Quarterly 2017, Rabu (14/12).
Menyoroti geliat pertumbuhan investasi di Tanah Air, Rodrigo mengamini terjadi pertumbuhan signifikan dalam 4 tahun terakhir. Bahkan, aliran penanaman modal asing saat ini diklaim terbesar dalam kurun 7 tahun terakhir. Pertumbuhan investasi melalui pembentukan modal tetap bruto (PMBT) kuartal III 2017 tercatat 7,11% dengan andil terhadap PDB mencapai 30%.
Derasnya arus investasi yang masuk tidak lepas dari perbaikan iklim investasi yang mendapat pengakuan sejumlah lembaga pemeringkat internasional, seperti Standard and Poor's (S&P) dan Moody's. Juga laporan kemudahan berinvestasi (ease of doing business/EoDB) 2018 versi Bank Dunia yang menempatkan posisi Indonesia naik dari 91 ke 72.
"Kami melihat minat investor terhadap aset Indonesia terus menguat, begitu pula dengan masuknya investasi asing yang melesat dalam 7 tahun terakhir. Keyakinan investor ini dipengaruhi fundamental keuangan makro yang baik, begitu juga dengan pengelolaan fiskal," imbuhnya.
Bank Dunia menyatakan fundamental ekonomi Indonesia cukup kokoh untuk mempertahankan momentum perbaikan ekonomi. Rodrigo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 mencapai 5,3% atau lebih rendah dari target APBN 2018, yakni 5,4%.
Di satu sisi dia memandang target penerimaan pajak 2018 sebesar Rp 1.618,1 triliun terbilang menantang tetapi berpotensi dicapai. Pun target defisit fiskal APBN 2018 disebut lebih rendah dari periode sebelumnya, yakni sebesar 2,19% dari PDB, akan memberikan peningkatan ruang fiskal dalam jangka pendek. Dalam hal ini, Bank Dunia sependapat bahwa defisit fiskal 2018 tidak jauh dari target pemerintah lantaran sejalan dengan perkiraan ekonomi makro dan reformasi kebijakan termasuk perpajakan.
Sementara itu, tingkat inflasi cenderung terkendali, Bank Dunia perkirakan 3,5% tahun depan. Begitu pula indikator lain seperti rupiah diprediksi stabil yang akan ikut memperbaiki tingkat konsumsi rumah tangga di Indonesia.
Kendati demikian dia menggarisbawahi pemulihan konsumsi harus bisa ditangkap sektor ritel atau penjualan eceran. Apalagi perkembangan perdagangan elektronik (e-commerce) mulai menggeser tren belanja masyarakat dari konvensional ke berbasis online. Pun, konsumsi masyarakat mulai beralih ke sektor jasa. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved