Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Pembangkit Berbasis Ebt Tetap Harus Sesuai Harga Keekonomian

Dwi Tupani, Laporan dari Paris
11/12/2017 23:15
Pembangkit Berbasis Ebt Tetap Harus Sesuai Harga Keekonomian
(Dirut PLN Sofyan Basir---Ist)

TIGA perjanjian kerja sama (letter of intent/LOI) untuk pembangunan pembangkit PLN berbasis energi baru terbarukan (EBT) ditanda tangani PLN di paris, Prancis, Senin (11/12).

Tambahan tiga kerja sama tersebut, menurut Direktur Utama PLN Sofyan Basir akan menambah daya pembangkit PLN berbasis EBT yang saat ini berjumlah 69 proyek dengan daya 1.260 MW.

Tambahan tiga proyek dalam bentuk LOI itu antara lain ada di Kalimantan, Tanah Laut berkapasitas 70 Mw yang akan dibangun beberapa tahap. Lalu dua proyek pembangkit yang di Denpasar 100 Mw, Denpasar I dan Denpasar II di wilayah Bali Barat dan Bali Timur dibangun bertahap sesuai sistem ada.

"Jadi (proyek pembangkit EBT) yang saat ini berdaya 1.260 MW, ditambah dengan (tiga proyek baru) 70 MW dan 100 Mw ini sepanjang sejarah PLN. Ini yang paling besar dalam setahun ini," ujar Sofyan di Kantor UNESCO, Paris, Prancis, Senin (11/12).

Menurut Sofyan, upaya PLN terus meningkatkan kerja sama dengan investor di bidang EBT menunjukkan komitmen PLN dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan penggunaan EBT dalam sistem kelistrikan nasional. Namun ia menekankan, harga listrik yang menggunakan EBT harus sesuai dengan harga keekonomian.

"Harga keeokomian yang paling penting menjadi dasar kebijakan PLN dan pemerintah. Keeokomian harga harus dijaga, proyek renewable jangan angkat harga pokok produksi listrik. Apalagi harga listrik saat ini kan tidak naik, stagnan," tambahnya.

Hal kedua yang juga penting dalam proyek EBT ialah penempatan pembangkit di daerah terluar, terdepan, dan terpencil. Menurut Sofyan, PLN bahkan menginginkan pembangkit di satu pulau bisa menghasilkan energi 50 mw untuk 50 pulau, sehingga diharapkan 1 pulau 1 mw.

"(Proyek) renewable kalau bisa lokasi scattered. Selama ini pakai diesel, kita beberapa jam pakai surya atau angin. Kita ingin 50 pulau 50 mega 1 pulau 1 mega watt," ulasnya.

Sofya mencontohkan, harga listrik pembangkit EBT harus di bawah US$6 sen per kwh dari pembangkit surya, air, geotermal, dan biomassa. Sebab harga US$6 sen per kwh itu lebih murah dari energi fosil. Akan tetapi penggunaan pembangkit cuma 4 jam jadi harus ada intermiter (pengalihan) pembangkit dari EBT ke pembangkit diesel.

"Pulau terpencil tadinya pake diesel 24 jam harganya US$14 sen per kwh. Kalau setiap hari ada 4 jam dengan harga US$6 sen kita berhemat luar biasa," lanjut Sofyan.

Hingga kini, lanjut Sofyan, penggunaan EBT pada pembangkit listrik PLN mencapai 12,9%. Untuk itu pihaknya optimistis pada 2025 jumlah penggunaan EBT bisa mencapai 23%. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya