Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

DBS Research: 2018, Indonesia Tumbuh makin Cepat

Micom
11/12/2017 21:41
DBS Research: 2018, Indonesia Tumbuh makin Cepat
(ANTARA)

DBS Group Research menilai Indonesia sebagai salah satu negara dengan fundamental ekonomi terkuat di kawasan regional. Berbagai indikator menunjukkan performa prima, seperti rasio utang pemerintah di bawah 30% dari PDB, salah satu yang terendah di antara negara berkembang.

Pemerintahan yang stabil dan risiko politik relatif rendah, menjadikan ekonomi Indonesia berpotensi bergerak lebih cepat dalam beberapa tahun mendatang. Faktor eksternal menjadi penarik utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama yang berasal dari kenaikan harga komoditas.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik jadi 5,3% dan 5,4% pada 2018 dan 2019," ungkap Gundy Cahyadi, ekonom DBS Group Research, dalam laporan berjudul "Indonesia in 2018/19: Higher gear?".

Tantangannya ialah bagaimana pemerintah dapat mengakumulasikan berbagai indikator untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Contohnya, kata Gundy, mendorong investasi swasta yang sejak 2013 mengalami penurunan.

Ia menambahkan upaya pemerintah melalui pembangunan infrastruktur tampaknya sudah menuai hasil. Ini terlihat dari pertumbuhan investasi yang mencapai 7,1% pada kuartal III-2017, tertinggi sejak kuartal I-2013. Diperkirakan investasi berkontribusi sebesar 35% terhadap PDB 2017.

Di sisi lain, defisit diperkirakan akan mencapai 2,6% pada 2018, lebih tinggi dari perkiraan pemerintah sebesar 2,2%. DBS Group Research menyebut kenaikan defisit terutama akan didorong oleh potensi penurunan penerimaan pajak, ketimbang kenaikan anggaran belanja.

"Kendati demikian, tren kenaikan harga minyak mentah dunia akan meningkatkan pemasukan negara dari sektor migas. Dalam perhitungan DBS Group Research, setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% akan memberikan tambahan anggaran Rp6,7 triliun dalam APBN," sebut Gundy.

Sayangnya, ekspor Indonesia masih mengandalkan sektor komoditas, terutama batu bara yang tumbuh 49%, minyak sawit mentah sebesar 44%, dan migas 21%. Sementara ekspor produk manufaktur hanya tumbuh 2,5%.

Pemerintah telah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk komoditas. Ini dilakukan dengan menerbitkan 16 paket reformasi kebijakan dalam dua tahun terakhir. Terbukti, peringkat Indonesia dalam Ease of Doing Business yang dirilis Bank Dunia meroket dari peringkat 106 pada 2016 menjadi 72 pada 2018.

Investasi asing langsung ke sektor manufaktur pun mencatat rekor tertinggi sebesar US$16,6 miliar pada 2016. "Investor tidak lagi menjadikan sektor pertambangan sebagai tujuan investasinya, melainkan sektor permesinan dan elektronik," lanjutnya.

Lebih lanjut, DBS Group Research memprediksi Bank Indonesia akan mulai menaikkan suku bunga di kuartal IV 2018, membawa tingkat suku bunga kembali menjadi 5% di pertengahan 2019, mengingat antisipasi dari penguatan mata uang dolar AS yang akan membutuhkan suku bunga domestik yang lebih tinggi. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya