Headline
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
BELASAN anak kecil itu berbaris memanjang, tangan mereka saling memegang pundak atau pinggang teman yang berada di depan. Ketika berjalan, barisan itu lebih menyerupai ular panjang. Sambil bernyanyi, mereka berjalan memasuki gerbang yang dibuat leh 2 anak yang berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan di atas kepala. “Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari, inilah dia yang paling belakang.” Sobat Medi masih ingat atau mungkin sering memainkan permainan ini enggak ya?
Itu lo permainan seru bernama ular naga yang dimainkan banyak anak membentuk ular. Biasa dimainkan anak-anak di luar rumah di pagi hari, sore hari, dan tidak jarang dimainkan pada malam hari. Ular naga bisa di mana saja, seperti teras rumah, lapangan atau halaman rumah yang agak luas. Bahkan permainan ini sering dilakukan di bawah cahaya bulan purnama loh. Masih tidak tahu? Mari simak medi!
Diikuti 2.500 anak
Minggu pagi (8/1) itu, Tim TGR, Traditional Games Returns gabungan Mahasiswa London School of Public Relations Jakarta, Forum Anak Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan dan Bekasi) dan Fasilitator Forum Anak Jakarta menggelar kampanye Kembali ke Permainan Tradisional. Slogan yang disuarakan, Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! Kegiatan seru ini dilaksanakan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Cibesut, Jakarta Timur. Menurut kak Citra Demi Karina, Fasilitator Forum Anak yang juga Tim Kampanye TGR, ide kampanye berawal dari keprihatinan terhadap anak-anak Indonesia yang hampir tidak mengenali lagi permainan tradisional seperti, congklak, petak umpet, atau ular tangga.
“Anak-anak saat ini lebih memilih bermain gadget dan menonton video di Youtube. Kondisi ini dipengaruhi kemajuan teknologi, yang menjadikan anak-anak mudah mengakses beragam aplikasi di gadget. Tapi di sisi lain, berdampak negatif yang menjadikan anak-anak cenderung individualistis karena mereka lebih senang memainkan permainan di gadget sendirian,” kata Citra.
Selain dipusatkan di RPTRA Cibesut, kegiatan ini juga serempak dilakukan di 69 RPTRA lainnya dengan diikuti 2.500 anak dari seluruh RPTRA. Di RPTRA Cibesut sendiri terdapat beberapa kegiatan yakni senam bersama, parade anak-anak, pementasan silat, tarian daerah, angklung hingga puncaknya permainan tradisional. Yeah, seru nih sobat!
Lima permainan
Permainan memang selalu seru untuk dilakukan ya sobat, dulu sebelum era digital seperti sekarang ini, anak-anak bermain di luar rumah dengan riang, mereka bisa mengeksplorasi tempat sekitar dan kemampuan tubuhnya loh. Tapi sayang, dengan adanya teknologi berbagai permainan pun sudah ada dalam versi digital pula. Dengan hanya duduk, mereka bermain gim lewat jari saja. Hasilnya, mereka menjadi antisosial karena hanya bermain sendiri. Kini, mereka kembali merasakan 5 permainan seru yang sudah dilakukan anak pada era dahulu dan masih asyik dilakukan di masa sekarang.
Selain ular naga, ada lompat karet, yang populer dan favorit anak angkatan 70-90an. Uniknya, sebelum memulai harus membuat roncean tali dari karet gelang dijadikan sarana bermain dan berolahraga. Kedua, ada congklak yang dikenal juga dengan nama dakon, congkak, mokaotan atau mancala dalam bahasa Inggris. Permainan ini sangat digemari terutama anak wanita. Congklak dipercaya berasal dari negeri Afrika atau Arab, tapi cukup identik permainan tradisional masyarakat Jawa menggunakan papan berlubang 16 diisi dengan biji-bijian, batu, kelereng atau plastik. Siapa yang mengumpulkan biji paling banyak, dialah yang menang.
Permainan lainnya berupa benteng yang seru dan menegangkan. Jika anggota kelompoknya kena disentuh lawan, maka mereka menjadi tahanan lawannya, sedangkan anggota lainnya harus membebaskan temannya atau menangkap lawannya hingga tak seorang pun lawan yang bertahan. Permainan ini mencerminkan perjuangan bangsa Indonesia saat melawan penjajah, semua anggotanya berusaha untuk mengamankan daerahnya dan memperoleh kejayaannya yang di simbolkan dengan menduduki benteng lawan.
Seruan main di luar
Sementara itu, di tempat yang berbeda ada permainan dampu bulan, atau engklak yang dimainkan di sebidang tanah yang arena permainannya berbentuk kotak-kotak yang berjumlah 9. Kalian pasti tahu kan? Iya, pemainnya harus berjalan melompat dengan satu kaki melewati batu yang berada di garis lalu kembali ke garis start sambil mengambil batu miliknya. “Biasanya kalau di rumah aku main gim di gadget saja, seru sih tapi lebih seruan main diluar seperti ini. Bisa sambil berolahraga karena main dilapangan, walaupun capek tapi seru sekali,” kata Herman, kelas 4 SDN CBU 07 Petang.
Pastinya, tak hanya seru namun kita bisa kembali merasakan hangatnya bermain bersama teman-teman. Mereka belajar kejujuran, logika, tanggung jawab, bekerja sama, olah tubuh hingga yang paling penting bersosialisasi atau berinteraksi dengan teman. Yuk lupakan gadget dan bermain di luar dengan temanmu, lebih asyik dan sehat! (Suryani Wandari/M-1)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved