Sabtu 06 Agustus 2022, 07:40 WIB

Kebengisan Manusia dalam Imajinasi William Golding

Putri Rosmalia | Weekend
Kebengisan Manusia dalam Imajinasi William Golding

Dok. PT Bentang Pustaka
Cover Lord of the Flies

 

NAMA William Golding tentu sudah tak asing lagi di telinga para penggemar sastra. Berbagai penghargaan telah diraih sastrawan asal Inggris tersebut. Golding bahkan mendapat salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia, Nobel dalam bidang sastra pada 1983.

Kepopuleran nama Golding tak dapat dipisahkan dengan judul novel debutnya, Lord of the Flies. Novel yang diterbitkan pertama kali pada 1954 itu merupakan salah satu karya sastra yang hingga saat ini masih dielu-elukan banyak orang di seluruh dunia.

Tahun ini, tepatnya pada Februari 2022, versi bahasa Indonesia dari Lord of the Flies baru saja diterbitkan oleh penerbit Bentang. Menggunakan judul serupa versi aslinya, Lord of the Flies menambah daftar panjang karya sastra berwujud cerita tentang anak-anak yang sarat akan pesan dan makna tentang kehidupan manusia.

Lord of the Flies berisi cerita tentang sekelompok siswa sekolah dasar yang terjebak dalam sebuah pulau terpencil. Mereka terdampar setelah pesawat yang mereka tumpangi saat berwisata ditembak jatuh.

Sekelompok anak laki-laki tersebut terpaksa harus berupaya bertahan hidup dan menyelamatkan diri dari bahaya yang ada di alam liar. Untuk pertama kali dalam hidup mereka, mereka harus bisa bertindak dan mengambil keputusan tanpa bantuan orang dewasa.

Beberapa tokoh utama yang hadir dalam cerita ialah Ralph, Jack, Piggy, dan Simone. Selebihnya merupakan tokoh pendukung yang kerap digambarkan sebagai sekelompok anak kecil dan tim paduan suara gereja.

Dalam perjalanan bertahan hidup di pulau, anak-anak tersebut harus bisa bertindak layaknya seorang dewasa yang sudah berpengalaman. Mereka mulai menyusun strategi dan belajar berorganisasi dengan baik.

Meski awalnya semua berjalan lancar dan mereka merasa senang bisa hidup di sebuah pulau tanpa orang dewasa yang banyak aturan, pada akhirnya, semua mulai memburuk. Perselisihan, perebutan kepemimpinan, hingga kekerasan menjadi hal-hal yang tidak terhindarikan.

Sebuah kisah petualangan anak-anak yang mulanya menakjubkan dan mendebarkan bergeser menjadi sebuah cerita mencekam yang sarat akan kekejaman. Kepolosan yang awalnya muncul dalam tokoh-tokoh tersebut berubah menjadi sebuah gambaran akan kelam dan bengisnya sifat asli manusia ketika merasa terhimpit.

Novel tersebut berlatarkan kehidupan pada era perang yang berkecamuk di Eropa. Tak disebutkan dengan jelas pada medio dekade berapa peristiwa itu terjadi. Penulis hanya menyiratkan kondisi yang mana saat itu Inggris sebagai negara asal anak-anak tersebut masih ada dalam kondisi perang.

 

Alegori

Begitu banyak hal yang dapat dikuliti dari novel Golding tersebut. Namun, di antara sekian banyak hal, salah satu yang paling dominan hadir ialah nuansa alegoris yang sangat kental.

Narasi yang dihadirkan dalam setiap halaman novel tersebut seakan tak mentah-mentah menggambarkan apa yang ada dalam cerita. Akan tetapi, memiliki makna yang lebih rumit dan merupakan perwakilan dari berbagai hal yang ada dalam diri manusia.

Golding seakan ingin menegaskan kenyataan pahit tentang sifat alami manusia yang kerap disangkal banyak orang. Bahwa pada akhirnya dalam kondisi terhimpit, setiap orang akan selalu berupaya mencari kesenangan dan keselamatan dirinya sendiri.

Bertahan hidup merupakan naluri alamiah manusia yang kerap menggiring ke kekejaman. Naluri yang dalam perjalanannya juga kerap membuat seorang manusia, sebaik dan setulus apa pun ia awalnya, bisa menjadi sosok yang paling menyeramkan untuk dibayangkan.

Salah satu contoh akan gambaran tersebut yang ada dalam novel ialah tentang perebutan kepemimpinan yang terjadi antara Ralph dan Jack. Keduanya digambarkan sebagai sosok-sosok paling mendominasi di pulau itu.

Kesepakatan antara Ralph dan Jack untuk mengatur upaya bertahan hidup dengan kerja sama yang baik perlahan-lahan harus berakhir. Ego mereka untuk menjadi pemimpin dan menggunakan strategi buatan masing-masing mengalahkan logika dan komitmen untuk berjalan beriringan.

Baik Ralph maupun Jack merasa berhak menjadi pemimpin kelompok. Keduanya beranggapan telah memiliki andil besar dalam upaya bertahan hidup dan berhak menjadi yang paling dihormati.

“Aku sudah memberi kalian makanan,” kata Jack, “Dan para pemburuku akan meindungi kalian dari binatang buas itu. Siapa yang mau bergabung dengan sukuku?”

“Aku pemimpin di sini,” sergah Ralph, “Karena kalian telah memilihku. Dan, kita akan tetap menjaga api tetap menyala. Sekarang kalian malah mengejar makanan,” (halaman 226)

Narasi akan sifat manusia yang kerap tak terkontrol dalam situasi terhimpit mungkin bukan hal yang baru. Namun, pada masa itu, Golding berhasil membuatnya istimewa lewat pemilihan sekelompok anak sebagai tokoh-tokoh utamanya.

Anak-anak merupakan wujud terbaik yang mungkin pernah ada dalam diri setiap manusia. Citra itu diruntuhkan dalam sekejap oleh Golding lewat novel ini. Hal yang mungkin akan membuat frustrasi bagi siapa pun yang berharap akan sajian sebuah cerita petualangan menyenangkan dalam novel ini.

Cerita tentang naluri bertahan hidup manusia yang penuh dengan keserakahan itu menjadi lebih mencekam dan mencengangkan karena dibalut dengan deskripsi tentang imajinasi anak-anak. Gambaran akan imajinasi tak terbatas seorang anak itu membuat cerita jadi semakin kaya dan sulit ditebak.

Salah satu unsur lain dalam novel tersebut yang menghadirkan kesan mendebarkan dan membuat penasaran ialah penokohan. Golding membangun setiap karakter dalam ceritanya dengan penuh daya tarik dan tak mudah ditebak.

Tak mudah menentukan siapa yang berperan sebagai tokoh antagonis atau protagonis dalam novel itu. Setiap tokoh memiliki karakter yang sulit dikotak-kotakkan.

Hanya ada sekilas gambaran tentang sifat dasar setiap tokoh yang kemudian dapat berubah seiring bergantinya halaman dalam setiap bab. Lagi-lagi sangat relevan dengan sifat manusia yang kerap dengan cepat berubah dalam kondisi tertentu.

Meski dipenuhi dengan kejutan dan kengerian, novel tersebut tetap memiliki sisi indah yang tetap menonjol sekalipun berkelindan dengan kehororan cerita yang ada. Golding menuliskan deskripsi dan narasi pada setiap bagian cerita dengan sangat menawan dan dialihbahasakan dengan apik oleh Ambhita Dhyaningrum, sang penerjemah.

Layaknya seorang sastrawan kisah percintaan klasik Eropa lainnya, Golding berhasil membuat novel ini tetap memiliki sisi romantis meski tak berlatarkan kisah percintaan. Kata dan frasa yang digunakannya dalam setiap paragraf sarat akan nuansa keindahan dengan kesan yang misterius.

“Ralph mengikuti naik turun gelombang sampai sesuatu dari keterasingan laut membuat otaknya mati rasa. Lalu, perlahan-lahan air yang melimpah tanpa batas ini menyita perhatiannya. Air itu adalah sekatnya, penghalangnya. Di sisi lain pulau, diselubungi fatamorgana di tengah hari, ditahan oleh perisai laguna yang sunyi, seseorang mungkin memimpikan penyelamatan. Namun, di sana dihadapkan pada ketumpulan laut. Terpisah sejauh berkilo-kilometer, seseorang akan bungkam, tak berdaya, dan seakan dikutuk,” (halaman 163).

 

Tanda tanya

Bagian akhir dari novel ini dibuat sederhana, tetapi tetap menyisakan tanda tanya. Tak digambarkan secara gamblang bagaimana akhirnya nasib seluruh anak-anak tersebut. Pembaca lagi-lagi dibuat bertanya-tanya dan sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam pikirannya sendiri bahkan hingga halaman terakhir buku selesai dibaca.

Layaknya dilema yang ada dalam setiap kehidupan seorang manusia yang takkan pernah berakhir. Begitulah Golding menyiratkan akhir dari cerita yang ada dalam Lord of the Flies.

Novel ini sangat sarat akan pesona yang memanjakan pembacanya. Bagi pembaca berusia muda atau remaja, novel ini akan jadi bacaan yang membangkitkan imajinasi akan sebuah petualangan menegangkan. Bagi orang dewasa, novel ini dapat menjadi bahan renungan yang dengan lihai mengusik kedamaian pikiran akan manusia dan kehidupan yang mereka jalani.

Satu hal yang pasti, novel ini tak akan cocok bagi pencinta genre drama romantis dengan akhir bahagia yang mudah ditebak. Sebaliknya, novel ini sangat cocok bagi penggemar genre horor dan thriller yang penuh kengerian. Kengerian yang sama layaknya sosok Beelzebub, salah satu setan dalam demonologi Kristen yang menjadi inspirasi Golding dalam memilih judul novel ini. (M-2)

 

 

Judul : Lord of the Flies

Penulis : William Golding

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum

Tahun : Februari 2022

ISBN : 978-602-291-877-6

 

Baca Juga

MI

Kunto Aji dan Sederet Musikus Hip Hop Rilis Menjadi Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 13:57 WIB
Menjadi Indonesia menjadi salah satu kampanye merayakan bulan kemerdekaan Indonesia pada...
HANDOUT / AFP

Ilmuwan Temukan Jejak Kaki Manusia dari Zaman Es di Amerika Utara

👤Adiyanto 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 13:19 WIB
Temuan ini memberi pencerahan baru tentang penghuni manusia paling awal di Amerika...
Dok. Pop Art Jakarta 2022

Yuk, Nikmati Karya Kreator Lokal di Pop Art Jakarta

👤Fathurrozak 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 21:06 WIB
Berlangsung mulai 13 Agustus, pameran yang menghadirkan antara lain Bumilangit dan Mice Cartoon ini dapat disimak secara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya