Minggu 25 Oktober 2020, 01:20 WIB

Melupakan Sejarah

Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend
Melupakan Sejarah

MI/Ebet
Ono Sarwono Penyuka wayang

BELUM lama ini ada pergunjingan dalam dunia pendidikan kita terkait dengan kabar kabur dihapuskannya mata pelajaran sejarah di sekolah. Sempat ada yang seru memprotesnya. Pemerintah lantas meredamnya dengan memastikan bahwa mata pelajaran tersebut tetap ada atau dipertahankan.

Di belahan bumi mana pun, sejarah itu bagian tidak terpisahkan dari perjalanan sebuah bangsa dan negara. Sejarah adalah ‘nenek-moyang’ yang sepantasnya menjadi rujukan untuk melangkah ke depan. Melupakan sejarah sama saja mengingkari diri sendiri.


Cicitnya Resi Palasara

Dalam cerita wayang, ada rezim penguasa yang akhirnya musnah karena membuang sejarahnya. Itulah yang dialami Kurawa. Ini contoh memiriskan dari suatu generasi sebuah bangsa yang pongah mengabaikan asal-usulnya.

Kisah Kurawa ini memang sungguh tragis. Sebagai keturunan wong agung (piyayi luhur) tetapi jatuh menjadi hina dan kemudian tamat riwayatnya akibat mengemohi sejarahnya. Mabuk kenikmatan (kekuasaan) duniawi yang menjadi pemantik kehancurannya.

Kurawa adalah keluarga yang beranggotakan seratus orang. Mereka semua keturunan pasangan Drestarastra dengan Gendari. Drestarastra ialah putra sulung Begawan Abiyasa yang pernah menjadi Raja Negara Astina bergelar Prabu Kresnadwipayana.

Abiyasa alias Sutiknaprawa adalah putra tunggal Begawan Palasara dengan Durgandini, putri Raja Wiratha Prabu Basuparicara dengan Dewi Andrika. Palasara ialah putra Bambang Sakri dari pertapaan Retawu dengan Dewi Sati.

Nama Palasara, yang berarti senjata ampuh, itu pemberian kakeknya, Resi Manumayasa. Namun, sesungguhnya nama tersebut merupakan anugerah penguasa Kahyangan Jonggring Saloka, Bathara Guru.

Sejak kecil, Palasara tekun menjalani laku prihatin. Perangainya halus, pendiam, dan welas asih terhadap semua makhluk. Ia dikenal suka memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan. Kegemaran laku darmanya itulah yang kemudian mempertemukannya dengan Durgandini.

Darah keresiannya itu menurun kepada putranya, Abiyasa. Sejak belia, Abiyasa tekun mesu budi, suka tirakat, menjalani tapa brata, dan menidurkan nafsu-nafsu duniawi untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Namun, dalam perjalanan hidupnya, Abiyasa tidak bisa melawan kodratnya. Lewat perintah ibunya, ia harus menjadi Raja Astina. Kedudukan yang tidak pernah dibayangkan, apalagi diinginkan. Eloknya, kepemimpinannya yang ber-roh keresian, Astina menjadi negara kuncara yang disegani banyak bangsa lain.

Negara yang adil dan makmur. Rakyat hidup sejahtera dan ayem tenteram. Tidak ada praktikpraktik kehidupan nista. Semua warga memiliki standar nilai dan moral tinggi dalam hidup berwarga, bermasyarakat, dan bernegara.

Karena jiwa keresian itu pula, Abiyasa tidak ingin lama-lama menjadi penguasa. Ia secepatnya meninggalkan kenikmatan duniawi dan kembali ke pertapaan. Abiyasa lengser keprabon (turun takhta) ketika ketiga putranya, yakni Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura beranjak dewasa.


Merampas kekuasaan

Jadi, bila ditilik dari sejarahnya, Kurawa adalah keturunan orangorang mustikaning jagat, para piyayi luhur. Mereka merupakan trahresi dan raja besar. Dalam tubuhnya mengalir darah orangorang langka yang napas dan perilaku utama sebagai tulang sumsum hidupnya.

Pun, sejak kecil mereka mendapat perhatian besar dari ahli waris sejati takhta Astina, Resi Bhisma. Kurawa dicarikan guru mumpuni dalam segala ilmu yang diharapkan bisa menjadikan mereka sebagai para kesatria pilih tandhing (hebat). Namun, semua yang serba ‘wah’ tersebut lenyap. Kurawa seperti generasi dari antah-berantah yang tidak memiliki sejarah. Kurawa mirip keturunan begundal. Mereka liar memburu kekuasaan. Takhta Astina yang menjadi haknya Pandawa, mereka rampas dengan terang-terangan.

Bahkan, demi kekuasaan itu, Kurawa tega berbuat keji terhadap Pandawa yang tidak lain ialah adik sepupunya sendiri. Berulang kali terungkap kebusukan Kurawa yang berusaha melenyapkan nyawa Pandawa. 

Kenapa Kurawa menjadi generasi yang terputus dari trah dan sejarahnya? Ini karena mereka dengan kesadaran penuh melupakan  sejarahnya sendiri. Lalu, kenapa itu bisa terjadi? Karena ada seseorang yang berada di belakangnya, yakni Arya Suman yang kemudian kondang bernama Sengkuni.

Sengkuni, paman Kurawa dari pihak ibu, mengindoktrinasi keponakannya itu bahwa hidup tanpa memiliki kekuasaan akan sengsara. Jiwa luhur dan perilaku utama tidak bisa dijadikan modal hidup makmur dan sejahtera. Maka, ia injeksikan paham pragmatisme sehingga Kurawa membuang sejarahnya.

Kurawa menjadi bengis dan menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Dan, ketika kekuasaan dalam genggaman, itu pun hanya untuk memuaskan nafsu. Kekayaan negara diganyang untuk berfoyafoya. Mereka mengabaikan tujuan mulia Prabu Bharata ketika mendirikan Negara Astina.

Maka, tidak aneh bila Kurawa tidak ‘mengenal’ kakeknya sendiri, Begawan Abiyasa, di Pertapaan Saptaarga. Oleh karena itu, tidak ada ceritanya Kurawa sowan ke Abiyasa. Antara kakek dan cucunya bak bumi dan langit.

Keengganan Kurawa itu memang karena tidak doyan nasihat atau ajaran luhur. Mereka benar-benar jatuh dalam pengaruh Sengkuni,
pengamal mahzab Machiavelis. Apa pun dilakukan asalkan tujuan (kekuasaan) tercapai.

Sebenarnya, saat rezim Kurawa berkuasa, Bhisma masih setia mendampinginya meski sudah tidak lagi berada di istana Astina. Bhisma yang memilih tinggal di Talkanda, tidak pernah bosan menasihati Kurawa (Prabu Duryudana).

Bhisma memberikan saran bagaimana menjalankan pemerintahan yang baik, yang memikirkan rakyat. Juga jangan berbuat jahat kepada Pandawa yang sedarahnya. Tapi, Duryudana keras kepala dan hatinya membatu. Ia benar-benar menutup diri dari semua nasihat baik.


Terkubur zaman

Maka, tidak aneh bila selama Kurawa berkuasa, Astina menjadi kucem (kusut) Nama besar negara yang sebelumnya disegani negara-negara lain menjadi pudar pamornya. Para raja negara lain yang masih bersahabat dengan Astina tinggal raja-raja korup dan manipulatif.

Pada akhirnya, Kurawa mesti mempertangungjawabkan sekaligus menebus perilaku melenceng mereka di Kurusetra dalam Perang  Bharatayuda. Mereka terkubur zaman karena mengabaikan sejarah leluhurnya hanya karena terbelenggu nafsu duniawi. (M-2)

Baca Juga

MI/ Tangkapan layar diskusi publik virtual Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Selasa (1/12) malam.

Dikhawatirkan Mulai Jenuh, Konser Virtual Perlu Terobosan

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 18:00 WIB
Penyelenggara konser virtual di Tanah Air dinilai perlu mencontoh terobosan yang ada di Korea...
Screenshot

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Ko-Produksi Film Dokumenter

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 13:03 WIB
Sebelum berjalan lebih jauh dalam ko-produksi, dproduser harus terlebih dulu menyiapkan dokumen legalnya. Akan lebih baik jika memiliki...
zoom

Ini Cara Mengelola Bisnis yang Beretika

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 03 Desember 2020, 12:47 WIB
Menurut Andy Noya buku ini hadir tepat waktu. Ia optimis kalau nilai-nilai pemikiran yang ada di buku ini justru paling tepat yang bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya