Minggu 29 September 2019, 00:40 WIB

Setahun Hidup di Bawah Tenda Darurat

M TAUFAN SP BUSTAN | Weekend
Setahun Hidup di Bawah Tenda Darurat

MI/M TAUFAN SP BUSTAN
Posko pengungsian Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah.

 

SEORANG perempuan ­paruh baya jongkok mengisi ­jeriken, ember, dan loyang kosong dengan air bersih. Diiringi sepoi angin, ia kemudian bersantai menunggu senja.

Nurlina, demikian perempuan itu berupaya menikmati hidup lewat keramahan alam yang ada. Selain itu, terlebih soal harta benda, tidak banyak yang ia punya.

Bahkan, tempat tinggal pun, sudah setahun ini Nurlina hidup di posko pengungsian Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah. Hal itu ia jalani setelah rumahnya ludes diisap bumi seusai gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang, menjelang malam pada 28 September 2018.

“Saya tinggal dengan suami dan anak di sini. Bisa dibilang masih berharap bantuan. Kalau tidak ada lagi (bantuan), berusaha sendiri,” tutur perempuan berusia 60 tahun itu, Sabtu (21/9).

Setahun sudah bencana alam melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Sejatinya, warga yang menjadi korban telah dipenuhi haknya, tetapi itu belum terealisasi sepenuhnya.

Di posko pengungsian Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, misalnya, masih ada 251 kepala keluarga atau 1.010 jiwa warga yang merupakan korban gempa dan likuefaksi perumahan nasional (­perumnas). Banyak warga tidak juga beranjak dari pengungsian karena hunian sementara (­huntara) yang diberikan pemerintah tidak sesuai kebutuhan.

Contohnya, dialami keluarga Marhamah, 50, yang anggota keluarganya mencapai delapan orang. Akibat luas rumah tidak dapat menampung, mereka pun kembali ke posko.

Ada pula keluarga yang menginginkan huntara tetapi tidak masuk daftar penerima hunian. Keluarga yang berhak menerima huntara hanyalah keluarga dengan bangunan rumah yang terkena gempa merupakan milik pribadi. Sementara itu, ada pula beberapa keluarga tetap tidak bisa menerima huntara tanpa alasan yang jelas meski telah terdata.

Untuk bertahan hidup di posko, sejumlah pengungsi menjalankan berbagai usaha sebisanya. Ada yang menjual jajanan anak-anak, menjadi pengojek, dan pekerjaan serabutan lainnya. Mereka berharap semangat mereka untuk bangkit dari keterpurukan segera mendapat dukungan dari pihak terkait. (M-1)

Baca Juga

Instagram @jokowi

Presiden Ingatkan Penyanyi Cilik Farel Prayoga untuk Tidak Lupa Belajar

👤Devi Harahap 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:40 WIB
Penampilan Farel Prayoga di Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 2022, di Istana Merdeka membuat para tamu ikut...
dok: Setkab

Baju Adat Dolomani hingga Kebaya Karya Didiet Maulana di Istana Negara

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 10:50 WIB
Tak hanya pakaian adat yang telah terkenal seperti kebaya, dari tahun ke tahun pakaian adat yang dihadirkan semakin...
MI/Devi Harahap

Yuk, Intip Pameran Arsip dan Mobil Kepresidenan RI di Sarinah

👤Devi Harahap 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 10:25 WIB
Pameran yang diadakan Kemenseneg ini memajang sebanyak tujuh unit mobil kepresidenan yang pernah menjadi kendaraan dinas dan digunakan oleh...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya