Headline
Pemerintah tegaskan KPK pakai aturan sendiri.
'HAJAR Bro' kalimat itu kerap ditafsir sebagai perintah. Acap kali pula identik dengan kekerasan karena kata hajar bermakna memukul. Namun, di kalang an anak muda, kalimat tersebut justru bisa menjadi semacam penyuntik semangat. Ia akan muncul saat keraguan datang, saat gamang coba menghadang. Tak perlu banyak pertimbangan, hajar saja. Atau dengan kata lain, lakukan saja. Makna semacam itulah yang ingin diangkat menjadi tema pameran seni rupa yang dihelat Komunitas Seni Matahari di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada 14-22 Januari 2016. Lima seniman Komunitas Matahari, Iwan Hasto, Ulilgama, Argo Nunggal, Wisnu Baskoro, dan Prayitno, bersepakat pameran diberi judul Hajar Bro. Para anggota komunitas itu terdiri dari para pekerja seni atau seniman yang semuanya berasal atau pernah mengenyam kehidupan dan studi di Yogyakarta.
Kini, mereka juga berada atau terdampar dalam kota yang sama, Jakarta. Dalam kuratorial disebut bahwa kalimat 'Hajar Bro' yang dijadikan tema merujuk pada proses kreatif seni rupa dalam level gagasan dan teknik perupanya. Sesederhana apa pun yang muncul dalam pemikiran dan goresan karya, mereka ‘menghajarnya’ begitu saja dengan menangguhkan pertimbangan. 'Ini seperti reaksi otomatis terhadap lingkungan yang karut-marut', begitu tulis kurator Kuss Indarto. Artinya, karya-karya dicipta sebagai respons dari segala kondisi masyarakat, entah itu sosial, ekonomi, politik, lingkungan, bahkan merespons diri sendiri. Selanjutnya, respons tersebut dituang dalam bentuk karya melalui teknik dan gaya setiap perupa. Iwan Hasto, misalnya.
Lewat medium cukil, ia menghadirkan perbedaan sudut pandang dari setiap individu, tergantung dari sisi mana melihatnya. Judul karyanya meneguhkan hal itu. Sebab lima karyanya berjudul sama; Point of View. Argo Nunggal mengekspresikan kegelisahan ekologi. Ia menggambar objek pohon dalam lukisan Generation Change, Mauku tak Sama seperti Mimpimu, dan Go Green. Namun, di balik itu juga tercium aroma pesan untuk berempati terhadap sesama. Karya We Never Walk Alone menampilkan sosok pria yang memegang payung bertiang bengkok.
Tangan kirinya tampak membawa pohon kecil yang tersiram hujan.
Lukisan berjudul Mauku tak Sama seperti Mimpimu membingkai dua anak saling berpandang dengan pot pohon di atas kepala masingmasing. Lain halnya dengan Ulilgama dan Prayitno yang bersepakat dengan penubuhan. Ulilgama membubuhkan banyak tubuh dalam fi gur balet pada karya Are You Brave Enough, Cup of Java, Never Give Up, dan Strawberry Chese Cake Nyam-Nyam. Lukisan Cup of Java, misalnya, menampilkan tiga tubuh dalam remang, sedangkan tubuh-tubuh lain dalam bayang putih. Tubuh mengambil jarak masing-masing. Sedikit bersinggung, kadang sering kali tak bersentuh.
Prayitno sedikit berbeda, ia mengayakan tubuh yang berkelindan satu dengan lainnya sehingga sering kali identitas tubuh menjadi kabur. Lukisannya memancing dan memainkan emosi. Ada banyak imajinasi yang muncul kala mengamati lukisan Prayitno berjudul Ambyar, Autoself, Efek Kuasa, Wong Binggung, dan Sambat. Semua menampilkan gambar tubuh tak utuh dan dalam posisi muskil. Namun, yang pasti, dalam catatannya, kuratorial lainnya, Prayitno, menulis, 'Kota Jakarta adalah medan depresi. Gerak patologi yang menggerogoti seluruh lapisan. Refl eksifi tas hanya sekadar menggawang dan menumpang lewat. Di sinilah realitas ambyar. Tidak karu-karuan menghajar dirinya sendiri". (M-4)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved