Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
MARTIN (JS Khairan) ingin kembali ke Jakarta. Dia harus menyelesaikan naskah film untuk tugas kelompok kuliah
“Martin, kamu tidak boleh kembali ke Jakarta sebelum menyelesaikan pesan ayahmu,” kata Ibu Martin.
Itulah awal konflik yang mendera Martin, seorang dari Kota Waingapu, Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang bercita-cita menjadi sutradara film. Ayah Martin sudah setahun meninggal, tapi belum dimakamkan. Alasannya, ibunya Martin belum bisa menggelar upacara penghormatan pemakaman yang layak. Upacara yang layak butuh dana tidak sedikit.
Suatu ketika, melalui tetua adat, Ayah Martin berpesan dalam mimpi. Pesannya agar Martin membuka sebuah kotak. Dalam kotak, Martin menemukan kamera video dan beberapa kaset.
Di lain hari, Martin berkunjung ke tempat temannya, penyiar. Sang kawan sedang menyiarkan kabar orang hilang dan info seputar buruh migran. Ya, banyak warga NTT yang menjadi buruh migran. Mereka kadang pergi dengan memalsukan data KTP dan KK karena bagi warga pemeluk kepercayaan Marapu, pernikahan mereka tak tercatat sehingga ketika memiliki anak tak bisa mendapatkan KK.
Begitulah adegan demi adegan dalam film Humba Dreams, garapan terbaru sutradara Riri Riza. Sebuah film yang menawarkan sejumlah plot untuk menunjukkan kompleksnya kehidupan masyarakat Sumba di zaman serbamodern seperti sekarang. “Dalam film ini, saya ingin menggambarkan banyak persoalan dan mempertemukannya dengan masalah yang kontemporer,” kata Riri seusai pemutaran film Humba Dreams di Yogyakarta, Sabtu (27/7).
Lewat film berdurasi 75 menit ini Riri mengetengahkan kepercayan Marapu yang masih dipegang teguh masyarakat ‘Tana Humba’. Salah satu adat- istiadatnya ialah penyelenggaraan upacara penghormatan bagi mereka yang wafat. Namun, karena persoalan biaya, tidak jarang jenazah warga yang meninggal tak langsung dimakamkan --ingat latar tempat pada adegan-adegan awal film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak? Kadang disimpan sampai belasan tahun, ada yang puluhan tahun.
“Itu satu hal yang saya anggap menarik untuk digambarkan,” kata Riri.
Ketertutupan masyarakat tradisional menerima kemungkinan nilai-nilai baru juga Riri gambarkan di Humba Dreams. Misalnya, lewat upaya Martin yang harus bekerja keras membuktikan kesungguhannya menjadi sutradara kepada lingkungannya.
Riri juga menyuguhkan potongan cerita soal buruh migran di NTT, yang kemudian tak jelas keberadaannya.
Secara apik, bermacam persoalan masyarakat yang berkelindan di Sumba, Riri jahit sedemikian rupa menjadi sebuah film berjudul Humba Dreams.
“Saya tidak ingin membatasi tentang persoalan anak muda Sumba saja, kehidupan perempuan Sumba saja, Marapu saja, tapi apa saja yang saya dapat dan semua punya persinggungkan satu dengan yang lain,” ujar Riri.
Ia menambahkan, film ini rencananya hanya akan diputar di komunitas-komunitas film sebagai pengantar diskusi. Harapan Riri, Humba Dreams akan mengantarkan penontonnya kepada katarsis. (FU/M-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved