Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
JUMAT (26/7) petang itu, ada kerumunan yang tak biasa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di amfiteater Jiwa Jawa Resort. Udara yang mulai dingin suhu berkisar 16 derajat celsius dan tirai kabut yang mulai turun, tak menyurutkan langkah mereka ke panggung terbuka di ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut tersebut.
Jamaah Al Jazziyah, begitulah sebutan mereka. Satu demi satu memadati venue dengan jaket tebal masing-masing, bersiap menyimak salah satu pesta jazz tahunan Tanah Air, Jazz Gunung Bromo 2019.
Di panggung yang beratapkan langit, dengan instalasi bambu melengkung bak kubah sebagai latar, Ngalam Jazz Community yang beranggotakan para seniman jazz se-Malang raya membuka pergelaran. Sengaja mereka mengover lagu-lagu bertempo medium-cepat, seperti Don’t You Worry ‘Bout a Thing dari Stevie Wonder, atau Staying Alive milik Bee Gees, untuk membangkitkan antusiasme penonton.
Debu menjadi penampil berikutnya di malam pertama festival yang bertema Jazz bersaksi untuk Ibu Pertiwi itu. Kumayl Mustafa Daood dkk mengajak penonton berdendang dengan alunan rebana dan biola, sebelum kemudian dua penari sufi berputar-putar seiring redupnya cahaya senja pada lagu pemungkas.
Seusai azan Isya, sekitar pukul 19.30 WIB, lampu panggung yang meredup sejak Magrib kembali menyala. Gugun Blues Shelter (GBS) tampil mengentak dengan Turn it On, Highlife, Mobil Butut, hingga Sweet Looking. Gugun, Fajar, dan Bowie yang tampil energik membawa Jamaah Al Jazziyah kembali panas. Bergoyang melupakan dinginnya malam.
Setelahnya, berturut-turut tampil Idang Rasjidi yang ditemani penyanyi seriosa Sastrani Wirata, dan Mus Mujiono. Tompi kemudian menutup malam pertama itu dengan apik.
Tak hanya piawai bernyanyi, musikus yang berprofesi ganda sebagai dokter bedah plastik itu juga lihai melempar canda sehingga suasana terasa intim. Di samping lagu-lagu miliknya, ia membawakan Bengawan Solo karya almarhum Gesang. “Saya belakangan ini senang lagunya (Bengawan Solo). Saya rekam lagu itu kolaborasi dengan Ricky Leonardi, arranger orkestra,” terangnya kepada penonton.
Roh
Tahun ini merupakan kali ke-11 penyelenggaraan Jazz Gunung Bromo yang digagas eks bankir Sigit Pramono, serta kakak-beradik Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto. Melalui ide kreatif tiga orang tersebut, terlahir event yang menjadi pionir dalam pesta jazz di alam terbuka di Indonesia ini.
Sigit, yang juga pemilik Jiwa Jawa di Bromo dan Ijen, mengatakan festival itu ditujukan untuk mengajak pencinta jazz menikmati musik sekaligus keindahan alam Bromo. Hal itu ia yakini dapat menjadi suatu pengalaman menonton yang berbeda.
Berbeda dengan sejumlah festival lain yang acap menghadirkan musisi lintas genre untuk memikat massa, Jazz Gunung 2019 cukup konsisten menjaga musikalitasny. Jazz tetap menjadi spirit utama festival, dihidupkan oleh musisi yang punya pamor di dunia jazz, seperti Tompi, Idang Rasjidi feat Mus Mujiono, Geliga, Ngalam Jazz Community, Ring of Fire Project feat Didi Kempot, Chandra Darusman Project, Sierra Soetedjo, Nita Aartsen Latin Jazz Project, Tristan, dan banyak lagi.
“Ini tantangan dan godaan banyak penyelenggara festival jazz sekarang. Demi pertimbangan tertentu, mereka memanfaatkan nama festival jazz, kenyataannya yang tampil bukan musisi jazz. Kami berusaha konsisten selama ini, meski kalau diperhatikan Jazz Gunung tidak melulu menampilkan jazz klasik. Ada fusion, acid, dan bahkan jazz bernuansa etnik,” terang Sigit kepada Media Indonesia.
Pada dasarnya, lanjut dia, jazz memang bukan musik asli Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya senantiasa menampilkan jazz etnik agar penonton merasakan keindonesiannya. “Kita konsisten menampilkan Ring of Fire Project dengan komandannya Djaduk Ferianto, menghadirkan bintang tamu berbeda-beda. Roh atau benang merah Jazz Gunung yang selalu kita tampilkan adalah jazz bernuansa etnik.”
Soal pilihannya mengusung musik jazz, Sigit beranggapan genre musik tersebut boleh dikatakan paling demokratis. Segala jenis musik dapat melebur dalam jazz. “Kita pernah tampilkan world music. Musik tradisi Jawa, Sunda, Melayu, keroncong, dangdut, dan terakhir campursari, luwes menyatu dengan jazz. Kita pernah tampilkan almarhum Slamet Gundono, Endah Laras, Soimah dan sekarang Didi Kempot. Penampilan mereka sangat percaya diri, setara dengan Syaharani, Andien, Glen Fredly, Tompi, Chandra Darusman,” ujarnya.
Bintang festival
Pada malam kedua festival, suasana terasa semakin hangat kendati dinginnya udara terasa menusuk tulang. MLD Jazz Project season 4 menjadi pembuka, diikuti Geliga, sebuah grup asal Pekanbaru, Riau, yang mengawinkan musik Melayu dengan jazz. Menjadikan suasana amfiteater Jiwa Jawa Resort terasa syahdu sore itu.
Menjelang malam, di atas panggung muncul seorang perempuan berbalut jaket coat cokelat muda, dengan topi baret berwarna lebih tua. Suaranya lembut menyapa penonton. Bersama dengan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sierra Soetedjo malam itu menghibur penonton dengan lagu Quando, Quando, Quando. “By the way alasan Bu Arumi (Arumi Bachsin, istri Emil -red) tidak ikut bukan karena saya duet dengan Mbak Sierra. Ibu Arumi ada acara promosi Jawa Timur,” kelakar Emil.
Penampil berikut membuat riuh para penonton. Selalu konsisten menyuarakan hati yang tersakiti oleh cinta, Didi Kempot yang belakangan bergelar Godfather of Broken Heart, tampil impresif dan layak didapuk sebagai bintang Jazz Gunung Bromo 2019.
Berbusana khas Jawa berwarna hitam dan belangkon, Didi seolah tak percaya tengah tampil di perhelatan jazz. “Saya ini masih tidak mengerti, kok bisa diundang di acara Jazz Gunung. Apa ada yang tahu lagu saya? Sebutkan yang tahu,” tanyanya kepada penonton.
Tak disangka, para penonton antusias menyebut sederet lagunya. Bahkan, saat diminta bernyanyi Stasiun Balapan, hit Didi pada 1999, penonton kompak bernyanyi dari awal hingga akhir. “Terima kasih, saya bangga sekali ternyata penggemar jazz kenal lagunya Didi Kempot,” ujar Didi terharu.
Seniman campur sari tersebut berkolaborasi dengan Ring of Fire Project pimpinan Djaduk Ferianto. Hasilnya ialah lagu-lagu campursari yang sukses dioprek menjadi nuansa jazz, seperti Sewu Kuto, Banyu Langit, Kangen Kowe, dan Stasiun Balapan.
Lagu Kangen Kowe menjadi lagu pembuka yang langsung membuat heboh penonton. Bukan hanya berirama jazz dan campursari, melainkan juga dipadukan rap dengan kolaborasi tambahan, yaitu Alit Jabang Bayi.
Sementara itu, pada lagu Stasiun Balapan, Djaduk, pimpinan Ring of Fire Project memasukkan unsur musik India. “Saya bayangkan ini Didi Kempot nang kereto bersama Mahatma Gandhi dari India sampai ke Stasiun Solo Balapan,” terang Djaduk soal aransemennya.
Melihat animo penonton terhadap Jazz Gunung 2019, dengan kapasitas 2.000 orang yang selalu nyaris penuh, Sigit mengaku optimistis dengan masa depan jazz di Tanah Air. “Saya pikir sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia ialah ladang subur untuk persemaian musik jazz. Apalagi bagi milenial yang jelas menyukai kebebasan dalam memilih jalan hidup dan menentukan kegemaran mereka,” pungkasnya. (M-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved