Headline
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
Membahas Pulau Belitung nan eksotis, tak adil nian hanya mengetahui pariwisatanya yang bikin laris. Nyatanya, masih banyak keindahan seni yang tak boleh luput dari mata para turis.
BILA berbicara Pulau Belitung kepada teman maupun famili, terbesit di benak kita suatu tempat yang terkenal sekaligus fenomenal karena menjadi lokasi film Laskar Pelangi, ataupun beberapa keelokan pantai nan aduhai dibalut alunan sunyi.
Namun, tak adil nian jika hanya mengetahui pariwisatanya yang bikin laris. Nyatanya, masih banyak keindahan yang tak boleh luput dari mata para turis. Pulau yang menyimpan eksotisme ini rupanya memiliki kesenian nan indah rupawan, tak kalah dengan pesona alamnya yang selalu menjadi andalan.
Adalah kesenian gambus yang merupakan salah satu kesenian khas masyarakat di Kabupaten Belitung Timur, tepatnya di Desa Batu Penyu. Ada empat macam kesenian gambus di Desa Batu Penyu, yakni Gambus Sayang De Sayang, Gambus Kijang Lage, Gambus Inang-Inang, dan Gambus Kreasi.
Meski begitu, Gambus Inang-Inang rupanya memiliki keunikan tersendiri ketimbang kesenian gambus lainnya karena berbentuk vokal dengan iringan alat musik gambus dan dimainkan dua orang secara bersamaan pada satu alat musik gambus.
Selain itu, permainannya dilakukan dengan cara dipetik dan dipukul secara berbarengan. Pemain yang berperan sebagai pemetik gambus juga sebagai penyanyi, sedangkan yang satu lagi berperan sebagai pemukul gambus menggunakan penyaca.
Penyaca ialah alat pukul yang terbuat dari rotan dan dibentuk ujungnya menggunakan api sehingga berbentuk setengah oval. Penyaca terbuat dari rotan karena memiliki tekstur yang lentur dan ringan sehingga ketika dipukul menghasilkan suara yang bagus. Senar yang dipukul dengan penyaca juga bertujuan menggandakan suara senar dan memberikan pola ritmis pada permainan Gambus Inang-Inang.
Alasan kesenian Gambus Inang-inang dimainkan dua orang secara bersamaan ialah menuntut kekompakan antara kedua pemain. Pak Yuhansyah, selaku pemukul senar Gambus Inang-Inang yang lahir pada 25 November 1964, 55, mengatakan, setiap peran dalam permainan Gambus Inang-Inang sangat penting. Terutama dalam menyanyikan lagu Inang-Inang.
Sebagai bentuk dari kesenian rakyat, Gambus Inang-Inang mengandung gambaran kehidupan pada zaman dulu. Lirik dengan bahasa Belitung asli mengandung ungkapan-ungkapan perasaan terdalam dan irama yang dimainkan secara pelan, halus, mengalun, dan sendu. Berikut beberapa lirik dari lagu Inang-Inang yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Inang-inang....
Aduh kenapa Inang-inang menangis
Inang-inang....
Kenapa ayahmu sendirian, ibu tidak pulang, ayahmu tidak ada yang perhatian
Nanti ayahmu dibawa pulang
Asal mula
"Kesenian Gambus Inang-Inang ini yang kami ketahui, awal mulanya dari kebiasaan orang Belitung kalau di hutan rimba membuat ladang karena masih sepi sekali. Diawali dari sebuah keluarga, sepasang suami istri yang setiap hari berkegiatannya di ladang. Pada suatu hari, si istrinya ini sering berdiam diri di tepi ladang tanpa meminta izin kepada suaminya. Jadi, suaminya ini sering merasa kehilangan istrinya karena tak tahu pergi ke mana," cerita dari Pak Yuyu, sapaan akrab Pak Yuhansyah, ketika dihubungi Media Indonesia beberapa pekan lalu.
Dia melanjutkan, suatu hari sang istri mendengar alunan yang syahdu dan mendayu ketika berdiam diri. Ia pun menyukai alunan tersebut walaupun entah siapa yang memainkannya, seperti suara mistis. Sang suami yang sudah memperhatikan sejak lama ke mana perginya sang istri, akhirnya mengetahui bahwa istrinya sering berdiam diri di tepi ladang dengan pohon besar untuk tempat bersandar.
Sang suami pun menyadari bahwa istrinya menyukai alunan tersebut dan kemudian ia membuatkan alat musik (gambus) untuk menyeimbangi dan mempelajari dari alunan mistis itu. Ia pun akhirnya memainkan alunan mistis tersebut kepada istrinya agar sang istri tidak pergi berdiam diri lagi.
Alunan nan syahdu dan mendayu itu juga ada yang berbentuk suara "he, he, he, he". Suara itulah yang konon menjadi asal muasal irama Gambus Inang-Inang.
Usut punya usut, ternyata Inang-inang juga berasal dari kata inang dalam bahasa Belitung yang artinya pengasuh. Hal itu rupanya berkaitan dengan sejarah Gambus Inang-Inang yang diceritakan Pak Yuyu. Karena sang suami begitu perhatian kepada istrinya agar tak selalu berdiam diri lagi, ia pun ingin terus merawat sang istri agar tak selalu menyendiri dengan memainkan alunan syahdu dan mendayu tersebut.
Kesenian Gambus Inang-Inang diyakini juga sebagai bentuk ungkapan hati seorang laki-laki kepada pujaan hatinya.
Merawat tradisi
Kesenian Gambus Inang-Inang, sampai sekarang ini, ternyata hanya Yuyu dan Sapri Sahari (satu-satunya pasangan Yuyu yang menjadi pemetik senar dan penyanyi Gambus Inang-Inang) yang ahli memainkannya. Sapri, 61, mempelajari vokal Gambus Inang-Inang secara autodidak dan mengenal kesenian tersebut saat berusia 22 tahun.
Ia merupakan generasi ketiga pemain kesenian Gambus Inang-Inang setelah Kik Gumbai dan Kik Mutot. Pada Kik Mutot-lah Sapri Sahari belajar Gambus Inang-Inang dan Yuyu mempelajarinya dari Sapri Sahari.
Saat ini, kondisi kesehatan beliau sudah semakin menurun dan hanya Pak Yuyu yang 'diwariskan' untuk menceritakan sejarah dari kesenian tersebut.
Dari dulu hingga kini, kesenian Gambus Inang-Inang masih digunakan masyarakat desa setempat sebagai sarana pertunjukan dalam kegiatan upacara adat di Desa Batu Penyu, Belitung Timur.
Salah satunya pada Upacara Maras Taun (selamatan tahun) yang diselenggarakan sebagai hiburan rakyat. Maras Taun saat ini dimaknai sebagai perwujudan syukur yang dipanjatkan kepada Allah SWT.
Kesenian Gambus Inang-Inang pun sudah mengalami perkembangan dan tidak hanya berupa pengungkapan perasaan kepada pujaan hati, tetapi juga bisa berupa petuah yang disesuaikan dengan permintaan dari acara yang didatangi.
"Sebenarnya dalam Gambus Inang-Inang ini pesan yang terkandung di dalamnya juga berisi nasihat dan juga berkaitan dengan agama. Disesuaikan misalnya di suatu tempat ingin membawakan irama tersebut dengan lagu-lagu yang bernuansa agama atau nasihat," pungkas Yuyu.
Gambus Inang-Inang memang sudah mulai diperkenalkan kepada generasi muda dan dibantu penyosialisasiannya dengan dinas terkait. Akan tetapi, masih banyak yang belum selihai Yuyu dan Sapri, dan masih selalu mengandalkan mereka untuk memainkannya. Belum lagi kondisi mereka yang sudah mulai dimakan usia.
Terakhir, kesenian tradisi yang sarat sejarah dan romansa itu perlu untuk dijaga dan dilestarikan. Khususnya kepada para generasi muda dengan segala sifat ketrengginasan.
Jangan sampai ketika harta yang sudah menjadi warisan, justru lenyap ditelan kemusnahan, atau bahkan diklaim negara lain yang tak tahu malu dan aturan. Saat itu tiba, malah baru merasa perlu untuk diperjuangkan.
Tradisi itu kekayaan, tradisi itu kebanggaan, bukan sesuatu yang mesti ditinggalkan. (M-4)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved