Senin 10 Mei 2021, 04:00 WIB

Iktikaf

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Renungan Ramadan
Iktikaf

MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

 

TRADISI 10 hari terakhir Ramadan yang paling fenomenal di Indonesia ialah iktikaf (i’tikaf). Iktikaf ialah berdiam diri di masjid untuk melakukan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT.

Iktikaf penting untuk mengimbangi daya tarik dunia yang sedemikian merasuk ke dalam jiwa dan pikiran kita selama ini. Datanglah ke rumah Tuhan menyerahkan diri sepenuhnya. Pasrahkanlah diri ini apa pun adanya terhadap Tuhan.

Terserah Dia. Jika Dia akan menyiksa kita, itu hak-Nya dan memang mungkin pantas kita menerima kenyataan itu mengingat banyaknya perbuatan kita yang melampaui batas dan tidak pantas yang pernah kita lakukan.

Akan tetapi, jika Dia akan memaafkan kita, memang Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sebesar apa pun dosa seorang hamba tidak ada yang bisa menghalangi-Nya jika Dia akan memaafkannya.

Sepanjang kita menjalani iktikaf tidak dibenarkan melakukan berbagai perbuatan duniawi, seperti berhubungan suami-isteri, keluar-masuk masjid tanpa keperluan, dan dianjurkan menutup aurat, serta memperbanyak amalan ibadah, seperti zikir, wirid, tafakkur, tadzakkur, di samping salat dan membaca ayat suci Alquran.

Rangkaian iktikaf harus diawali dengan niat. Iktikaf bisa beberapa hari khususnya pada 10 hari terakhir (‘asyr awakhir) Ramadan dan bisa juga beberapa saat. Inti iktikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah.

Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik, maka sesungguhnya lebih baik baginya daripada salat sunat. Muhasabah bisa diisi dengan zikir dan wirid atau tafakur, dan tadzakkur, selain salat-salat sunat.

Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya zikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan, sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin.

Tafakur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam, lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT.

Sementara itu, tadzakkur, sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan. Tadzakkur ketika diri sedang berada pada puncak kekhusyukan sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para auliya’ dan para Nabi.

Sebenarnya, inti iktikaf sesungguhnya ialah bagaimana mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin tenang, memperkuat optimisme, dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.

Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Gua Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping istrinya, Khadijah yang kaya dan bangsawan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini mungkin tidak perlu mencari gua yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman.

Bisa saja dengan melakukan iktikaf di salah satu masjid, misalnya yang sering dilakukan di dalam bulan suci Ramadan. Dalam masa pandemi seperti saat ini kita sebaiknya memilih masjid yang lebih aman untuk beriktikaf.

Di dalam masjid kita berniat untuk beriktikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Alquran lebih banyak, salat, tafakur, dan berzikir.

Niatkan bahwa masjid ini ialah Gua Hira atau Gua Kahfi yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Ashabul Kahfi, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan. Kualitas iktikaf dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya.

Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikit pun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan. Iktikaf dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan sama sekali tidak dirasakan sebagai beban.

Baca Juga

Mi.Seno

Apa Arti Kembali ke Fitrah?

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 12 Mei 2021, 05:35 WIB
HARI Raya Idul Fitri sering dipopulerkan dengan istilah ‘kembali ke fitrah’. Tapi apa sesungguhnya arti...
MI/Seno

Menggapai Kekhusyukan Beribadah

👤Nasaruddin Umar 🕔Selasa 11 Mei 2021, 04:00 WIB
KHUSYUK dalam beribadah masih sering diartikan sebagai konsentrasi puncak dengan mengerahkan segenap pikiran hanya tertuju kepada Allah...
MI/Ardi Teristi Hardi

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sambut Idul Fitri Dengan Kesahajaan

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Kamis 06 Mei 2021, 10:17 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan menyongsong Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan namun tetap...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-10-16

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 16 Okt 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:11 WIB
Subuh : 04:21 WIB
Terbit : 05:30 WIB
Dzuhur : 11:38 WIB
Ashar : 14:45 WIB
Maghrib : 17:58 WIB
Isya : 18:52 WIB

TAUSIYAH