Senin 03 Mei 2021, 02:30 WIB

Arwah

Nasaruddin Umar | Renungan Ramadan
Arwah

MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

ARWAH bentuk jamak dari kata ruh berarti roh. Imam Al-Gazali pernah menceritakan pemandangan kehidupan arwah di Alam Barzah.

Ternyata kehidupan arwah di alam sana tidak jauh beda dengan kehidupan di dunia. Ada arwah yang sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian apalagi kiriman dari karib kerabatnya di dunia. Mereka ini hanya memperebutkan doa-doa generik orang hidup seperti doa para khatib Jumat, "Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang-orang Islam laki-laki dan perempuan. Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal".

Begitu kata-kata wal amwat (… dan orang-orang yang sudah meninggal) diucapkan maka laksana anak-anak ayam yang ditaburkan benih. Mereka memperebutkan benih-benih itu dengan susah payah. Itulah pemandangan orang-orang tidak punya keluarga yang mendoakannya.

Dalam pemandangan lain, ada sejumlah orang yang duduk santai tidak ikut rebutan. Ditanya, kenapa Anda tidak ikut rebutan? Dijawab, kami tidak perlu rebutan karena anak dan keluarga kami selalu mendoakan dan mengirimkan surah Al-Fatihah setiap seusai salat lima waktu.

Namun, tidak lama kemudian, mereka juga ikut rebutan bersama arwah lainnya. Mereka ditanya, kenapa kalian ikut rebutan? Dijawab, kemarin kami tidak perlu rebutan, tetapi anak kami yang selama ini mendoakan sudah meninggal, sementara cucu-cucu kami tidak lagi melanjutkan tradisi itu.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar pergi ke suatu tempat dan melewati permakaman. Rasulullah tiba-tiba berhenti di sebuah makam. Abu Bakar bertanya, kenapa engkau berhenti di sini Rasulullah?

Rasulullah menjawab, orang di bawah makam ini sedang disiksa lantaran tidak bersih ketika ia buang air kecil atau besar.

Lalu Rasulullah mengambil sebuah tangkai, dalam sebuah syarah hadis disebut pelepah korma, lalu ditancapkan di atas makam. Rasulullah menyatakan sepanjang tangkai (pelepah korma) ini masih segar, orang ini akan diringankan siksaannya.

Dalam sebuah hadis sahih juga dikatakan apabila anak cucu Adam meninggal, terputuslah seluruh amalnya kecuali anak yang senantiasa mendoakan orangtuanya, ilmu yang bermanfaat yang masih terus diamalkan orang lain, dan amal-amal jariyah.

Dalam hadis lain juga dikatakan siapa umatku yang senantiasa berselawat terhadapku, aku tahu dan kelak di hari kemudian aku akan memberikan syafaat/pembelaan terhadapnya. Alquran sendiri menganjurkan kita untuk selalu mengirimkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzab/33:56).

Ayat dan hadis-hadis di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa orang-orang hidup masih bisa memberikan efek terhadap orang-orang yang sudah wafat. Kesempatan berbuat baik setiap orang tidak hanya terbatas ketika seseorang itu hidup.

Kita bisa berbuat baik terus-menerus kepada keluarga kita yang sudah meninggal dengan cara berdoa dan melakukan amal kebajikan untuk dan atas nama keluarga kita tersebut. Termasuk di antaranya menunaikan ibadah haji atau umrah untuk anggota keluarga yang sudah meninggal.

Alangkah kikirnya kita sebagai anak atau anggota keluarga terdekat, tetapi tidak pernah atau malas kita mendoakan keluarga kita yang sudah meninggal. Siapa malas mendoakan orang yang sudah meninggal, dikhawatirkan dia tidak menerima doa jika kelak dia sudah meninggal.

Berdoa tidak mesti harus datang ke makam orang yang didoakan. Di atas sajadah di tengah malam buta seusai salat tahajud mungkin lebih baik ketimbang kita ke makam, tetapi tidak ada ketulusan.

Memang, alangkah baiknya seandainya kita sebagai keluarga dekat datang menziarahi makam keluarga sambil mendoakan mereka. Di bibir makam kita bisa membayangkan jasa baik orangtua di masa lampau lebih khusyuk. Namun, jangan sampai kita meminta doa terhadap mereka. Kitalah yang mendoakan mereka.

 

Baca Juga

Mi.Seno

Apa Arti Kembali ke Fitrah?

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 12 Mei 2021, 05:35 WIB
HARI Raya Idul Fitri sering dipopulerkan dengan istilah ‘kembali ke fitrah’. Tapi apa sesungguhnya arti...
MI/Seno

Menggapai Kekhusyukan Beribadah

👤Nasaruddin Umar 🕔Selasa 11 Mei 2021, 04:00 WIB
KHUSYUK dalam beribadah masih sering diartikan sebagai konsentrasi puncak dengan mengerahkan segenap pikiran hanya tertuju kepada Allah...
MI/Seno

Iktikaf

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Senin 10 Mei 2021, 04:00 WIB
TRADISI 10 hari terakhir Ramadan yang paling fenomenal di Indonesia ialah iktikaf...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-05-15

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 15 Mei 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:31 WIB
Subuh : 04:41 WIB
Terbit : 05:53 WIB
Dzuhur : 11:49 WIB
Ashar : 15:11 WIB
Maghrib : 17:57 WIB
Isya : 18:52 WIB

TAUSIYAH