Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
CIRENG, ketan susu, dan teh thailand bertemu di Bekasi, Jawa Barat, dalam hilir mudik pengunjung Pasar Senggol di Summarecon Mal Bekasi yang berlangsung 15 April hingga hari ini.
Citarasa Asia yang menjadi tema tahun ini terpampang dari daftar menu yang ditempel di papan tulis di muka stan serta food truck. Bebek peking bersemu merah yang disajikan dengan nasi hainam bisa berjumpa dengan sushi dan soto betawi di satu meja.
Bukan cuma stan-stan yang ditata dengan aktratif dan kebersihan suasana bersantap yang membuat perayaan kuliner tahunan itu memikat pengunjung. Keriuhan yang terjadi di muka panggung serta aneka permainan penanda pasar malam, ontang-anting serta komidi putar, juga sukses membuat para pebisnis makanan di sana optimistis.
Muda yang Selasa sore (4/5) mencicipi teh tarik mamak di kedai Peng! Teh & Kopi Tarik dibuat terpukau dengan citarasa teh dan susunya yang berpadu sempurna plus aktraksi mengolahnya yang asyik. Dua cangkir besar berisi gula, teh, dan susu dikucurkan silih berganti.
Kiat sukses teh dan susu
Abuy, sang pemilik Peng!, yang merintis usahanya sejak setahun lalu, mengaku bergabung di Pasar Senggol setelah dihubungi langsung pihak penyelenggara Pasar Senggol. Membawa serta bahan baku teh tarik dari Malaysia, kopi gayo dari Aceh, serta teh thailand langsung dari ‘Negeri Gajah Putih’, Peng! berhasil membukukan penjualan 100-500 cangkir setiap harinya.
"Saya punya booth di Menteng Square, karena penting bagi pengusaha kuliner, termasuk yang mengandalkan penjualan dari event-event untuk juga punya stan tetap agar orang lebih percaya," kata Abuy yang memiliki dua set stan yang beberapa kali buka berbarengan di acara berbeda.
Kunci bisnisnya, kata Abuy, kualitas produk yang mesti ditebus dengan proses belajar hingga ke lokasi kultur kuliner yang hendak ditargetkan, perhatian pada tampilan produk dan stan, meng-update Instagram @Pengtarik serta menjalin jaringan dengan sesama pebisnis kuliner, terutama yang berjualan temporer.
"Saya sih inginnya punya banyak outlet, tapi itu jangka panjang. Untuk jangka pendek, event seperti ini bisa jadi solusi untuk merawat merek. Kami tak harus bayar biaya sewa yang mahal, ada crowd dan event yang di-create untuk mengundang pengunjung sehingga bisnis bisa terus bertumbuh," kata Abuy.
Inovasi tutut dan ceker
Puas menyeruput tradisi kuliner Melayu dari gelas Peng!, aroma cabai dan rempah yang tajam menuntun menuju aktraksi berikutnya. Ada aksi mengolah cabai rawit yang diulek kasar dipadukan dengan bumbu bersemu merah serta ceker-ceker ayam dan gurih di stan Ceker Begal. Selain ceker, sayap dan kepala pun diolah dalam teknik memasak yang kemudian menghasilkan harum yang menyengat sekaligus menggoda selera.
Hendra, sang pemilik Ceker Begal, selama lebih dari tiga pekan penyelenggaraan Pasar Senggol bermukim sementara di Bekasi. Mengawali bisnisnya tiga tahun lalu dengan tutut, sejenis keong sawah yang diolah dalam kuah kunyit, Hendra menjadikan Pasar Senggol sebagai wahana peluncuran varian baru.
"Ternyata responsnya cukup bagus, bisa terjual sampai 400 porsi di akhir pekan," ujar Hendra yang tergabung dalam Huap-Huap, komunitas pebisnis kuliner di car free day serta Bandung Culinary Night.
Inovasi serta keseriusan menjaga rasa, agar pembeli tak kapok jajan, menjadi kunci Hendra bisa total berwirausaha, lepas dari kewajiban mengikuti perintah atasan yang sempat dijalaninya selama sembilan bulan selama menjadi karyawan.
Dukungan penyelenggara
Keuntungan dari berkomunitas pula yang menghadirkan citarasa ketan berpadu selai stroberi, es krim, leci, serta aneka jeli di food truck Warung Tansu yang dikelola Rizky Firyan dan Henny Rina. Dengan dibantu satu karyawannya, keduanya bahu-membahu mengolah ketan susu alias tansu yang dipadukan dengan oncom pedas, serundeng kelapa, hingga es krim.
Tansu tergabung dalam komunitas Bandung Food Truck, sehari-hari, jika tak sedang mengikuti event, berjualan di kawasan Stadion Siliwangi."Ya mungkin kalau di Bandung, food truck-nya lebih bervariasi, inspirasinya dari makanan yang sehari-hari, tetapi diolah lebih seru. Itu yang menyebabkan kami dipercaya dan diundang ke sini," ujar Heni.
Sambil menyendok ketan susu nan legit dengan aneka topping meriah, patut pula dicoba dicicipi Cireng Galing Nyinden yang dicocol dengan cairan gula merah dengan ulekan rawit kasar di truk makanan yang diparkir tepat di seberangnya.
Pepey, sang pengelola, memang masih mendatangkan langsung cireng terasi hingga yang bercitarasa rawit yang dijualnya dari Bandung. Akan tetapi, dengan dukungan pengundang, di antaranya soal penginapan, jaringan pemasok bahan baku hingga sistem bagi keuntungan membuatnya berharap bisa eksis kembali di Pasar Senggol berikutnya. Jadi, mumpung masih berlangsung hingga hari ini, yuk ke Pasar Senggol! (M-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved