Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI wilayah kepulauan, Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki akses lebih terbuka dengan daerah lainnya. Tak heran jika awal masuknya Islam di Sulawesi Tenggara sangat dipengaruhi Kesultanan Ternate pada abad ke-16 silam.
Menurut Abdul Alim, seorang dosen arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, sejarah masuknya Islam di Sultra diawali dari Kepulauan Buton pada 1550 Masehi dan sejak awal abad ke-17 Islam menjadi sendi kehidupan di Kerajaan Buton.
"Menurut sejarah bahwa Buton menjadi sentral dan tersebarnya agama Islam di Sultra. Setelah abad 16-17 Islam melebar di jazirah Buton dan Muna, akhir abad 18 bergeser ke Konawe Selatan yang dulu disebut Tinanggea dan Konawe Kepulauan yang dulu disebut Wawonii dan sampai ke Kolaka Utara," ungkapnya.
Di tiga tempat itu menjadi pusat pendidikan agama Islam. Kala itu di Buton ada istana yang disebut Keraton Buton yang juga pusat agama Islam. Pada zaman Kesultanan Buton, agama Islam menyebar melalui Sultan Muh Idrus (1824-1851) yang membuat buku soal Islam dan mengajarkannya hingga ke masyarakat bawah.
Di awal masuknya Islam di Sultra melalui pintu Pulau Buton dari Kesultanan Ternate. Setelah itu beberapa daerah terpangruh, misalnya di Konawe Rajanya Lakidende terpengaruh dari Pulau Wawonii.
"Pada abad ke-19 Islam menjadi kebutuhan masyarakat, bahkan bukan hanya Kesultanan Ternate yang menyebarkan Islam di Sultra, ada beberapa wilayah penyebaran Islam masuk dari pengaruh Kerajaan Luwuk dari Sulawesi Selatan," ungkapnya.
Itu disebabkan di Sultra sebagai jalur pelayaran sehingga banyak pedagang Islam dari Sulawesi Selatan dan Ternate itu mulai berdagang sembari menyebarkan Islam hingga ke wilayah pelosok.
Kebutuhan keagamaan itulah yang berhasil masuk dan diterima masyarakat, bahkan pemuda mulai merantau ke dua daerah itu untuk belajar agama yang lebih dalam lagi.
"Kesimpulannya, islamisasi zaman dulu melalui dua pintu besar dan para pedagang. Akses laut memberikan efek yang besar. Akan tetapi, dari catatan sejarah, pengaruh Islam Jawa, khususnya kerajaan Demak, sangat kecil kemungkinan. Yang pasti Kesultanan Ternate dan Kerajaan Luwuk itulah yang sangat berpengaruh terhadap islamisasi di Bumi Anoa ini," tandas Alim.
Hal serupa diungkapkan Sekda Sultra, Asrun Lio. Di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi, tidak semua wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri atau otonom berstatus sebagai kesultanan. Demikian pula dengan daerah-daerah yang telah masuk Islam didapati pula daerah yang masih mempertahankan status ketatanegaraannya dengan penyebutan kerajaan. (RR/H-1)
Selain itu, cabai merah turun Rp3.816 menjadi Rp52.184/kg, bawang merah turun Rp833 menjadi Rp43.484/kg, serta bawang daun turun Rp630 menjadi Rp8.700/kg.
Sajian kuliner Nusantara dihadirkan untuk membawa kembali kenangan Ramadan yang identik dengan kebersamaan keluarga dan kehangatan suasana rumah.
Menjelang Ramadan 2026, Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah tidak menunggu waktu mepet untuk mengendalikan inflasi.
Harga bahan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali normal sementara, pasokan maupun stok aman dan lancar menjelang Ramadan.
dalam realitasnya, tidak sedikit Muslim yang belum sempat melunasi utang puasa Ramadan dengan puasa qadha Ramadan hingga hilal bulan suci berikutnya kembali tampak.
Memahami niat puasa qadha Ramadan dan ketentuannya sangat penting agar ibadah pengganti ini sah secara syariat. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai puasa qadha.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved