Sabtu 09 April 2022, 04:30 WIB

Ancaman Toleransi Tasyaddud dan Guluw

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Ramadan
Ancaman Toleransi Tasyaddud dan Guluw

MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

 

TASYADDUD sering dimaknai sebagai penganut paham keagamaan garis keras (hard liner). Jika ia berupaya mengontrol pengamalan syariah di masyarakat dan melakukan tindakan atau penilaian ekstrem kepada orang lain, biasanya disebut tasyaddud.

Jika sudah melakukan aksi kekerasan secara nyata dan menimbulkan kecemasan dan ketakutan kepada orang lain, orang itu disebut teroris.

Sebelum menjadi tasyaddud biasanya diawali dengan perilaku guluw, yakni sikap berlebih-lebihan di dalam menjalankan praktik ibadah. Karena itu, praktik tasyaddud dan guluw perlu dicermati karena keduanya berpotensi menimbulkan masalah di masyarakat.

Namun, perlu ditegaskan jangan sampai klaim ini digunakan sebagai kekuatan untuk mendiskreditkan atau mengucilkan seseorang karena alasan-alasan subjektif. Misalnya, yang bersangkutan menjadi saingan politik.

Seorang muslim menjalankan syariah Islam dan memaksakan kehendaknya dengan cara-cara kekerasan agar orang lain, seperti dirinya tanpa menghiraukan prinsip-prinsip dawah, maka yang bersangkutan biasa disebut dengan tasyaddud.

Adapun orang yang mengamalkan syariat Islam tanpa menghiraukan kesehatan diri dan kemaslahatan keluarga dan orang lain maka itu disebut guluw.

Tasyaddud dan guluw keduanya merupakan bentuk pengamalan syariat, tetapi dicela di dalam Al-Qur’an.

Dasarnya banyak sekali. Suatu ketika Rasulullah didatangi seorang sahabat dengan mengatakan, "Alhamdulillah, saya sudah lama tidak lagi makan siang." Rasulullah bertanya kenapa? Maka ia menjawab. “Karena berpuasa sepanjang hari.”

Rasulullah bukannya memberikan apresiasi positif, tetapi marah dengan mengatakan, “Aku nabi, tetapi masih memberi hak terhadap anggota badan untuk makan.” Dalam hadis lain Rasulullah meminta sahabat-sahabatnya cukup dengan puasa Daud, puasa Senin-Kamis, dan lain-lain.

Tidak lama kemudian datang lagi seorang sahabat kepada Rasulullah dan mengatakan, “Alhamdulillah, sudah lama saya tidak tidur malam.” Rasulullah bertanya kenapa? Sahabat itu menjawab, “Malam-malam aku gunakan salat sepanjang malam.” Rasulullah menjawab dengan agak kesal dengan mengatakan, “Saya ini nabi, tetapi tetap memberikan hak-hak badan saya untuk tidur.”

Sahabat lain datang lagi menyampaikan kepada Rasulullah bahwa dirinya sudah tidak pernah lagi berhubungan suami istri. Rasulullah bertanya kenapa? Lalu ia menjawab, “Habis waktu saya untuk beribadah dan membersihkan diri.” Rasulullah menanggapinya dengan agak marah, “Saya ini nabi, tetapi masih tetap memberikan hak-hak kepada istri-istri saya.”

Dialog Rasulullah dengan sahabat-sahabatnya sebagaimana dijelaskan di atas menunjukkan bahwa beribadah sekalipun, jika berlebihan, juga tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan (al-ghuluw) adalah tidak baik. Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik urusan adalah yang dilakukan dengan biasa-biasa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit.”

Apalagi perbuatan yang mengatasnamakan Islam dengan cara-cara kekerasan, seperti pengeboman dan penyanderaan (tasyaddud), sama sekali tidak ada tempatnya di dalam agama.

Mengamalkan ajaran agama secara berlebihan bukan saja tidak sejalan dengan tujuan ibadah itu sendiri, yaitu mewujudkan ketenangan, ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan. Itulah sebabnya para ulama menetapkan kaidah bahwa Al-Ashlu fi al-‘ibadah al-haram illa ma dalla ‘ala jawazih (Pada dasarnya semua ibadah itu haram, kecuali yang ada dalil khusus yang membenarkannya).

Ukuran baik atau buruknya seseorang tidak diukur oleh berlebih-lebihannya dalam menjalankan ibadah, melainkan secara wajar menjalankan keseimbangan di dalam hidupnya. Rasulullah pernah mengatakan, “Khairun nas anfa’uhum lin nas (Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya).”

Dalam kenyataannya, tasyaddud dan guluw hanya memberikan citra negatif terhadap Islam sebagai agama dan membuat banyak orang memberi kesan bahwa Islam adalah agama kekerasan. Padahal Islam sesuai namanya, Islam, berarti pasrah, damai, dan tenteram.

 

Baca Juga

Ist

Masyarakat Puas Kinerja dari Pemerintah dan Polisi Tangani Arus Mudik

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 15 Mei 2022, 21:22 WIB
Masyarakat merasakan puas atas kinerja dari Pemerintah Indonesia dan Polri terkait hal penanganan dan penyelenggaraan arus mudik Hari Raya...
DOK Pribadi.

Program Ramadhan Brand Berbagi Salurkan 1.000 Lebih Paket

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 09 Mei 2022, 21:50 WIB
Harapannya, seluruh donasi yang diberikan dapat menjadi berkah, tidak hanya bagi penerima, tetapi juga untuk perusahaan sebagai...
Dok. Mahasiswa Diaspora di Saint Petersburg

Lebaran Penuh Kegembiraan di Saint Petersburg

👤 Naila Maziya Labiba ! Mahasiswi Program Master di Saint Petersburg State Technological Institute (Technical University) 🕔Jumat 06 Mei 2022, 14:25 WIB
Acara silaturahim yang bertemakan Pulang Kampoeng ke Rumah Nenek dibuka dengan sambutan Ketua persatuan mahasiswa Indonesia di Saint...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Rabu, 18 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN