Headline

Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.

Prosedur Pos Komando TNI AD Bakal Dipersingkat

Golda Eksa
31/7/2018 12:39
Prosedur Pos Komando TNI AD Bakal Dipersingkat
( ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

TNI Angkatan Darat berencana mempersingkat teknis pos komando atau prosedur hubungan komandan dan staf dalam mengambil keputusan di wilayah operasi. Hal itu akan terealisasi setelah Markas Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan (Kodiklat) TNI AD merevisi modul prosedur tersebut.

Demikian dikatakan Komandan Brigade Infanteri Raider 9/Komando Cadangan Starategis TNI AD (Kostrad) Kolonel Inf Robby Suryadi disela-sela kegiatan Latihan Bersama Garuda Shield - 12/2018.

Kegiatan yang melibatkan TNI AD dan US Army digelar di Pusat Latihan Pertempuran Korps Marinir Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Selasa (31/7).

US Army, sambung Robby, telah menerapkan metode tujuh langkah prosedur komandan dan staf yang dikenal dengan istilah the military decision making process (MDMP). Berbeda dengan TNI AD, yang prosesnya masih terlalu panjang dengan 11 langkah, dari perencanaan hingga pelaksanaan operasi.

"US Army mengenal tujuh langkah. Itu dimulai dari komandan brigade yang menerima perintah operasi, kemudian membuat perencanaan terkait tugas pokok dengan pelbagai informasi intelijen, diaplikasikan, membuat mekanisme, dan selanjutnya menggerakkan pasukan," ujarnya.

Menurut dia, TNI AD sudah lama ingin mempersingkat prosedur dengan model US Army. Namun, rencana itu tidak bisa diputuskan sepihak karena tetap menunggu revisi modul prosedur hubungan komandan dan staf dari Kodiklat TNI AD.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya rasa Kodiklat TNI AD sudah merevisi hal itu dari kerja sama Garuda Shield ini. Kemudian ada beberapa personel kita yang sekolah ke luar negeri, sehingga nanti dapat lebih disederhanakan lagi prosedur hubungan komandan dan staf. Teknisnya itu sebenarnya sama, tapi lebih simpel lagi begitu."

Dalam pelatihan ini, melibatkan 120 orang prajurit Kostrad dengan komposisi 20 perwira, sisanya bintara dan tamtama. Begitu pula dengan US Army yang mengirimkan prajurit dengan jumlah hampir setara. Kegiatan akan berlangsung selama 12 hari sejak Senin (30/7).

Robby mengemukakan, dalam pelaksanaannya seluruh pasukan ditempatkan di satu brigade untuk kemudian melaksanakan operasi militer. Namun, di dalam brigade itu pemimpinnya bukan satu orang, melainkan dua, yaitu komandan brigade dari Kostrad dan US Army.

"Kemudian di mixed operasinya dan dikerjakan secara bersama. Intinya, operasinya dibuat sama, termasuk komposisi anggota dia (US) dan Kostrad yang bergabung dan nanti produknya satu," terang dia.

Hal senada disampaikan Ajudan Jenderal Hawai US Army National Guard Mayjen Arthur Joe Logan. Menurut dia, model pelatihan bersama antara angkatan darat kedua negara sangat penting. Kegiatan itu diakuinya dapat semakin mengharmoniskan hubungan bilateral Indonesia-AS.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi praktik terbaik pelatihan militer antara Indonesia dan Amerika. Kami juga memiliki keterikatan selama bertahun-tahun dengan TNI. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk saling berbagi teknik operasi militer bagi kedua belah pihak," kata dia.

Logan mengapresiasi sambutan dan keramahan para prajurit TNI AD yang menjadi peserta pelatihan di Puslatpur Marinir Baluran. Ia optimistis kerja sama yang memupuk semangat patriotisme tidak hanya sebatas teknis pelatihan militer.

"Namun dapat pula dilakukan dengan berbagi kebudayaan, sehingga kita saling memiliki pemahaman yang lebih baik. Kami mengerti bagaimana keadaan masyarakat Indonesia sebagai mitra strategis Amerika di Pasifik," pungkasnya.(OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya