Sabtu 16 Oktober 2021, 05:00 WIB

Perjalanan Merajut Titik Temu Kebudayaan

Afifah Ahmad Alumnus Universitas Internasional Al Mustafa Iran, Penulis, Founder Ngaji Rumi, traveler, dan penggerak Gusdurian Teheran. | Opini
Perjalanan Merajut Titik Temu Kebudayaan

Dok. Pribadi

 

DUA seniman Khorasan memetik dotar, sebuah alat musik tradisional, sambil melantunkan syair-syair cinta Rumi di penginapan tradisional Nashtifan, kota di timur Iran yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Ditemani alunan musik dan langit yang bertabur bintang, saya mengenang kembali perjalanan menyusuri tanah Persia selama 10 tahun sejak 2009.

Perjalanan pertama (2009-2013) dimulai dengan menyusuri kota-kota penting di Jalur Sutra, dari Tabriz, Isfahan, Yazd, hingga Shiraz. Menyelami jejak-jejak sejarah sambil mencari pertalian budaya. Perjalanan tahap kedua (2014-2019) dilanjutkan dengan menyisir kota-kota di perbatasan Iran, dari Jolfa yang terletak di kawasan paling barat hingga Nashtifan di ujung timur Iran.

Jika di perjalanan pertama lebih banyak menggali artefak dan situs bersejarah, perjalanan kedua membawa perjumpaan dengan keragaman suku, bahasa, dan keyakinan. Tak jarang saya menginap di rumah penduduk lokal agar dapat berinteraksi dan mengenali lebih jauh budaya masyarakat setempat. Dari sinilah ruang belajar untuk saling berdialog dan saling menghargai semakin terbuka.

Sejatinya, perjalanan dapat menjadi media efektif untuk membangun jembatan antarbangsa yang merupakan misi penting penciptaan manusia sebagaimana amanat yang dipesankan Alquran Surah Al-Hujarat ayat 13: “Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.

 

 

Belajar traveling dari ulama klasik hingga Gusdur

Secara historis, tradisi traveling sudah dikenal di dunia Islam sejak abad pertengahan. Ibnu Batutah, seorang traveller muslim abad ke-14, di usianya yang masih muda telah melintasi lebih dari 40 negara hitungan geografis hari ini. Bahkan, hampir seluruh negeri muslim telah dikunjunginya. Legasinya berupa dua jilid buku catatan perjalanan, menjadi rujukan penting para traveller di seluruh dunia sampai hari ini.

Bukan hanya Ibnu Batutah, banyak ulama klasik, baik ahli fikih maupun tokoh sufi, yang gemar melakukan perjalanan, seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Jalaluddin Rumi, Saadi Shirazi, Attar Nisyaburi, Bayazid Bastami, dan masih banyak nama lainnya. Mereka mencari guru-guru terbaik di bidangnya serta mencerap pengalaman dari tempat dan tradisi yang berbeda. Tak mengherankan jika akhirnya mereka melahirkan karya yang penuh dengan warna cinta dan kemanusiaan.

Bahkan, Rumi telah melintasi kota-kota penting di kawasan Asia Tengah selama 10 tahun sebelum menetaskan magnum opusnya Matsnawi Maknawi. Sebuah buku yang sampai hari ini menjadi kitab suci kemanusiaan dan cinta. Sepertinya, perjalanan telah memengaruhi cara pandang dan berpikir seorang Rumi dan banyak tokoh lainnya.

Di bumi Nusantara, para penyebar Islam periode awal juga merupakan ulama pengembara sekaligus pedagang. Para tokoh ulama Nusantara, seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Jumadil Kubra, dan Syekh Ibrahim Samarkandi berlayar melintasi berbagai wilayah sambil berdagang sebelum tiba di bumi Nusantara. Corak dakwah para pendahulu yang adaptif dengan budaya lokal dipengaruhi interaksi sebelumnya dengan berbagai budaya.

Tradisi melakukan perjalanan, baik karena berdagang maupun belajar telah menginspirasi banyak tokoh dan ulama beberapa generasi setelahnya. KH Abdurrahman Wahid merupakan salah satunya. Gusdur sendiri yang dikenal sebagai tokoh pluralis menghabiskan masa mudanya dengan belajar dan berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Gusdur tak hanya belajar dari tradisi Timur Tengah, tapi juga berinteraksi dengan budaya di negara-negara Eropa.

Setelah kembali ke Tanah Air, Gusdur pun banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk berziarah, bertemu dengan para tokoh dan ulama daerah, serta mendengar langsung aspirasi masyarakat di tingkat bawah. Bahkan, hal ini dilakukan jauh sebelum ia mengemban amanat sebagai Presiden Indonesia. Kelak pengalaman inilah yang membuat kebijakannya lebih inklusif dan membela kalangan yang terpinggirkan.

 

 

Catatan santri traveller

Tradisi mengirimkan anak-anak ke pesantren di luar kota hingga ke berbagai negara Timur Tengah menjadi sejarah panjang di lingkungan keluarga Nahdliyyin. Hari ini, para santri telah menyebar di lima benua dengan mengambil bidang studi yang beragam. Selain mempelajari kelebihan dari negara yang ditempati, kehadiran para santri berperan sebagai jembatan mengenalkan budaya Indonesia di tempatnya masing-masing.

Bagi saya sendiri, tinggal dan berada di negeri Persia menjadi kesempatan berharga untuk mengenal, belajar, dan memahami budaya Liyan. Sejak 2009 sampai sekarang, saya menyisir berbagai wilayah di Iran. Di Abadan, kota di ujung selatan Iran yang berbatasan dengan negara Irak, saya menjumpai masyarakat Iran etnik Arab. Mereka berbicara dan mengenakan pakaian layaknya orang-orang di jazirah Arab. Perjumpaan ini sekaligus meruntuhkan persepsi saya tentang negara Iran yang selama ini identik dengan suku Persia.

Di lain kesempatan, saya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Gomishan, kota di timur laut Iran yang berbatasan dengan negara Turkmenistan. Saya kembali dikejutkan dengan suasana yang sangat berbeda dari keseharian yang saya jumpai di Kota Teheran. Mayoritas warga Gomishan ialah etnis Turkmen dan penganut Islam ahlusunah. Perjalanan kali ini juga mematahkan anggapan saya selama ini bahwa di Iran hanya dihuni penganut Syiah. Perjalanan-perjalanan selanjutnya semakin memberikan insight baru tentang perjumpaan dengan keragaman.

Di antara perjalanan yang paling berkesan ialah saat mengunjungi kediaman Mamosta Qadiri, seorang ulama ahlusunah suku Kurdi dari Kota Paveh. Mamosta ialah panggilan pemuka agama semacam Tuan Guru. Ia menyambut kami dengan hangat, apalagi saat mengetahui kalau saya berasal dari Indonesia. Air mukanya tampak berseri dan senyumnya merekah. Sepertinya Mamosta memiliki kenangan indah tentang Indonesia. Ia segera berdiri, mengambil buku biografi miliknya, lalu menunjukkan foto dirinya bersama para santri di salah satu pesantren di Jakarta pada 1980.

Pertemuan yang berlangsung pada akhir musim panas, September 2017 ini, dihadiri juga oleh keluarga Muhammad Amin Javadian yang berlatar belakang Syiah. Di tengah obrolan saya dan Mamosta, keluarga Javadian ikut terlibat perbincangan hangat. Bahkan, mereka tak segan mendiskusikan masalah keyakinan yang terkesan sensitif, tetapi dibicarakan secara lapang dan terbuka tanpa ada keinginan untuk menghakimi salah satu kelompok.

Saya sangat bahagia menjadi saksi pertemuan dua keluarga ini. Seolah meruntuhkan dinding kebekuan yang selama ini terbangun kuat. Pertemuan hari itu memberi rasa persaudaraan yang kuat. Ibu Muhammad Amin berkali-kali berterima kasih kepada saya karena telah menjadi perantara pertemuan mereka.

Perjalanan dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan masyarakat dengan berbagai latar belakang. Perjalanan mengajarkan kita untuk melihat, mendengar, dan menghormati budaya, adat istiadat, serta berbagai keunikan lainnya. Banyak konflik terjadi karena bermula dari prasangka dan kesalahpahaman. Perjalanan dapat membuka koneksi ke tempat-tempat yang jauh berbeda dari dunia kita. Karena itu, perlahan akan meruntuhkan dinding kecurigaan yang menghantui relasi antara umat manusia.

 

 

Tetap menjadi Indonesia

Perjumpaan dengan beragam budaya selama melakukan perjalanan acap kali membuat seorang traveller lebur dan merasa menjadi bagian masyarakat dunia. Barangkali ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana bisa terus membangun jembatan budaya antarbangsa dengan tetap menjaga identitas kedirian. Rumi dalam salah satu syairnya pernah berpesan, meski kau telah berjalan jauh, jangan pernah lupakan tempat asal berpijakmu.

Pesan ini selalu saya ingat, terutama saat melakukan perjalanan. Identitas keindonesiaan selalu saya coba ekspresikan sekecil apa pun bentuknya. Kadang dengan mengenakan baju batik atau kaus bergambar tokoh nasional. Tidak sedikit yang akhirnya bertanya dan tentu ini menjadi kesempatan berharga untuk mengenalkan budaya Indonesia. Di lain waktu, saya sengaja membawa dan memberikan suvenir khas Indonesia kepada tuan rumah tempat kami menginap agar mereka tetap terkenang dengan nama Indonesia.

Saya percaya, people to people contact masih sangat diperlukan untuk memperkuat relasi budaya antarbangsa di samping upaya diplomasi formal yang telah dilakukan kedua negara selama ini. Apalagi, dalam konteks masyarakat Iran yang belum terlalu mengenali budaya Indonesia. Sebagai santri traveller yang memiliki kesempatan mengunjungi berbagai pelosok kota di Iran, saya bahagia menjadi bagian kecil untuk merajut titik temu kebudayaan.

Baca Juga

MI/ADAM DWI

Pengadilan HAM Dinanti

👤Amiruddin al-Rahab Wakil Ketua Komnas HAM-RI, Pengajar di FH Ubhara Jaya 🕔Rabu 08 Desember 2021, 05:05 WIB
TUJUAN utama dari disahkannya UU tentang Pengadilan HAM, ialah untuk mempertanggungjawabkan dan menyelesaikan pelanggaran HAM yang berat...
MI/Seno

Tekfin dan Masa Depan Perbankan Syariah

👤Faizi Dosen Tetap Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Doktor Bidang Keuangan dan Perbankan Syariah Universitas Utara Malaysia 🕔Rabu 08 Desember 2021, 05:00 WIB
Tantangan nyata hadirnya teknologi keuangan mengubah struktur perbankan dan pasar keuangan secara...
dok.pribadi

Kesempatan Emas Menyelamatkan Garuda

👤Annalia Bahar, Peneliti Muda di Jenggala Center Foundation 🕔Selasa 07 Desember 2021, 22:11 WIB
PKPU adalah opsi terbaik saat ini untuk ‘menyelamatkan’ Garuda Indonesia, ketimbang mengejar restrukturisasi dari luar skema...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya