Senin 02 Agustus 2021, 00:05 WIB

Selamat Hari Raya Baha'i, Sebuah Tanggapan

Wildan Hasan, Guru Ngaji | Opini
Selamat Hari Raya Baha

Dok pribadi
Wildan Hasan,

DI tengah ramainya perbincangan atas kontroversi Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas yang menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada organisasi Baha'i, Usman Kansong (Dewan Redaksi Media Grup) menulis satu artikel provokatif di harian Media Indonesia (30/7) berjudul Selamat Hari Raya Baha'i. Banyak hal yang harus diluruskan dalam tulisan tersebut yang jika tidak dilakukan akan menjadi sebuah pembiaran terhadap upaya pembodohan dan pemutarbalikkan opini publik.

Usman Kansong (UK) menulis Baha'i sebagai agama. Sementara pemerintah, Presiden Sukarno yang melarang Baha'i menyebutnya sebagai organisasi. Begitu pula Presiden Abdurrahman Wahid yang mencabut keputusan Presiden Sukarno menetapkannya juga sebagai organisasi (Keputusan Presiden RI nomor 69 tahun 2000). Jadi Baha'i secara hukum di Indonesia adalah organisasi bukan agama. Apa yang dilakukan UK dengan menyebut Baha'i sebagai agama bertentangan dengan hukum. 

UK menulis Baha'i mengenalkan perdamaian dan cinta kasih. Bagaimana cara memahami sebuah sekte yang merusak dan menodai pihak lain (agama tertentu) disebut mengenalkan perdamaian dan cinta kasih? Pada 1848 Baha'i mengumumkan penghapusan syariat Islam, menurut Baha'i syariat sebelumnya batal dan dusta dengan datangnya nabi di zamannya, Al Bab berkata, "Saya ini lebih baik dari Muhammad. Qur'anku lebih baik dari Alqur'an Muhammad." (Miftahul Babil Abwab: 20). Dia berkata, "Sesungguhnya nabi kalian tidak meninggalkan setelah matinya selain Alqur'an. Maka inilah kitabku Al Bayan, bacalah dan baca niscaya kalian akan mendapatkannya lebih fasih ungkapannya dari Alqur'an. Sedang hukum-hukum yang dikandungnya menghapus hukum-hukum yang ada dalam Alqur'an." (Musthafa Mahmud, Haqiqatul Baha'iyah). 'Agama' dengan pernyataan-pernyataan kebencian dan kedengkian seperti itukah yang disebut mengenalkan perdamaian dan cinta kasih?

Pengikut Bab disebut UK memaklumkan diri keluar dari Islam. Artinya mereka murtad dari Islam. Seseorang yang keluar dari keyakinan sebelumnya menunjukkan ada hal yang tidak disukainya pada keyakinan atau agama sebelumnya. Hakikatnya mereka memang tidak cinta kepada Islam. Meskipun dalam Islam tidak ada hak untuk murtad karena murtad dari Islam berarti melepaskan satu-satunya jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Islam akan 'membiarkannya' selama tidak menghina dan menodai Islam setelah dia jadi kafir, sebagaimana Islam memperlakukan umat di luar Islam. Beda halnya dengan para pengikut sekte Baha'i yang memaklumkan diri di luar Islam tetapi ajarannya merusak dan menodai agama lain. Inikah pula yang disebut 'agama' perdamaian dan cinta kasih?

Baha'i menolak hegemoni segelintir agama dan bangsa dalam membentuk tatanan dunia baru. Pernyataan UK tersebut menjadi bukti bahwa Baha'i tidak memiliki sikap toleran kepada agama lain. Jika agama atau bangsa yang besar- selama dengan cara benar- mempengaruhi wacana dan gerakan dunia apa yang salah? Itu haknya. Tentu saja boleh jika sekte Baha'i bisa melakukannya pula. Islam dan umat Islam sering dituduh intoleran tanpa bukti yang memadai, adalah Baha'i yang merusak ajaran Islam dan menodainya tidak dianggap telah bertindak intoleran. 

UK secara generatif mengasumsikan sesuatu ada sebagai respons atas sesuatu. Padahal tidak semua hal terjadi dalam pola sebab akibat. Jika Adam diciptakan sebagai respons atas kehendak Tuhan, kehendak Tuhan sebagai respons atas apa? Dalam tulisannya UK pun menyebut Syiah lahir sebagai respons atas Sunni. Syiah lahir bukan respons atas Sunni. Hanya yang awam sejarah yang akan menyebut Syiah terbentuk sebagai respons atas Sunni. Pengetahuan dan pemahaman sejarah UK betul-betul memprihatinkan. 

Islam pun tidak tepat benar jika disebut sebagai respons atas 'agama jahiliyah' semata. Islam sebagai agama tauhid, risalahnya dibawa dan didakwahkan sejak masa nabi pertama, Adam 'alaihis salam. Islam dihadirkan untuk membimbing manusia bertuhan kepada Tuhan yang benar (Allah), meninggalkan penyembahan kepada selain Allah dan hidup sesuai ajaran Allah.

Yang membedakan Islam dengan agama lainnya apalagi dibandingkan dengan hanya sebuah organisasi massa semacam Baha'i, Islam adalah agama wahyu. Di antara agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus diberikan oleh Allah yang tercantum dalam kitab sucinya (QS Ali Imran: 19,85, QS Al Maidah: 3). Islam terbukti sebagai satu agama yang namanya tidak tunduk oleh penamaan manusia. Islam adalah satu-satunya agama yang masih satu. Islam memiliki Tuhan Yang Satu yang tidak diperdebatkan nama-Nya. Ibadah punya sistem ibadah yang satu di seluruh dunia. 

Islam adalah agama wahyu yang final. Islam memiliki ajaran-ajaran yang bersifat final, yang tidak tunduk oleh perubahan zaman, pergantian tempat dan budaya. Dalam konsep teologi, syahadat Islam tidak pernah berubah sepanjang zaman. Islam tidak mengenal perkembangan teologi eksklusif, inklusif, lalu pluralis. Sebab, konsep teologi Islam didasarkan pada wahyu. Islam bukan agama sejarah yang konsep-konsep ritualnya berkembang dan berubah mengikuti perkembangan zaman. 

Konsep Islam tentang Tuhan bersifat autentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Alqur'an yang juga bersifat autentik dan final. Tuhan dalam Islam dikenal dengan nama Allah. Allah adalah nama diri dari Dzat Yang Maha Kuasa. Umat Islam tidak mengalami perbedaan dalam masalah nama dan konsep Tuhan.

Berbeda dengan agama lainnya, Islam bukan nama tempat, ras, suku, bukan pula nama orang atau pembawanya. Penamaan Islam sebagai din hanya berkaitan dengan konsep, misi dan ajaran di dalamnya yang bersifat universal. Tidak seperti UK yang hanya memahami agama sebagai respons atas hal yang sakral, Islam adalah nama sebuah agama (proper name/ismul 'alam) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Makna 'Islam' itu sendiri digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam berbagai sabda beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah Saw menyebutkan definisi Islam, "Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau berkemampuan melaksanakannya." 

Akhirnya, sebagaimana Menteri Agama yang melanggar hukum dengan menyebut Baha'i sebagai agama, UK yang membunyikannya sama telah pula melanggar hukum. Menteri Agama dan UK serta yang sepemahaman dengan keduanya sebagaimana dijelaskan oleh Dr Taufiqurrahman Sahuri, mantan komisioner Komisi Yudisial, dapat dibawa ke pengadilan dengan tuduhan melakukan perbuatan melawan hukum.

Baca Juga

MI/Ebet

Peduli Cuaca

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 26 September 2021, 05:35 WIB
Ia harus jadi peringatan bagi kita semua, khususnya para pemangku kepentingan kota, supaya...
Dok pribadi

Rendahnya Ekonomi Petani di Hari Tani

👤Hendro Puspito, Pengusaha, Mahasiswa Program Doktor Pengembangan SDMĀ  Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga 🕔Sabtu 25 September 2021, 15:10 WIB
Merinding jika melihat keadaan petani yang semakin hari tiada perbaikan ekonomi. Tingkat kemiskinan petani semakin...
MI/Duta

Hari Paru Sedunia

👤Tjandra Yoga Aditama M ajelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Ketua Umum PDPI 1999-2002 d uta 🕔Sabtu 25 September 2021, 05:05 WIB
DUNIA masih terus bergulat dengan pandemi covid-19, suatu penyakit paru yang menghantam kehidupan umat...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya