Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

65 Bendungan dalam Lima Tahun

31/8/2016 01:00
65 Bendungan dalam Lima Tahun
(MI/PALCE AMALO)

PEMBANGUNAN bendungan untuk mencukupi kebutuhan air di sektor pertanian tidak hanya dilakukan di Nusa Tenggara Timur. Direktorat Jendral Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen SDA PU-Pera) telah merancang program besar pembangunan 65 bendungan pada kurun 2014-2019. Dirjen SDA Kementerian PU-Pera, Mudjiadi, menjelaskan saat ini pemerintah tengah mengusung program ketahanan air, selain ketahanan pangan dan energi. Menurutnya, ketahanan air ialah suatu kondisi ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air di segala bidang secara berkelanjutan. Termasuk mampu memitigasi bencana banjir. “Ada tiga hal pokok yang ditangani Ditjen Sumber Daya Air, mulai kemampuan menyediakan air untuk segala kebutuhan. Kemudian konservasi atau keberlanjutan, dan pengendalian bencana yakni banjir," kata Mudjiadi.

Ada beberapa fungsi dari infrastruktur yang bisa menangani tiga hal itu. "Salah satunya bendungan. Bendungan juga menjadi jawaban untuk mitigasi pemanasan global yang memunculkan kondisi ekstrem, seperti banjir dan kekeringan. Di sinilah nilai strategis bendungan," tambah Mudjiadi. Di Indonesia saat ini hanya ada 215 bendungan dengan total kapasitas air 15 miliar meter kubik. Jumlah itu masih sangat minim. Mudjiadi memaparkan volume air 15 miliar meter kubik bila dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, hasilnya ialah sekitar 53 m3/kapita/tahun. Jumlah itu mirip dengan Ethiopia saat mengalami kekeringan yang hanya memiliki air dengan kapasitas 38 m3/kapita/tahun. Kondisi Indonesia masih di bawah Thailand. Negara itu memiliki kemampuan kapasitas ketersediaan air mencapai 1.300 3/tahun/kapita. Di negara maju, seperti Amerika Serikat, ketersediaan air sudah mencapai 5.000 m3/kapita/tahun. "Dengan kondisi ini terlihat untuk air baku masyarakat Indonesia lebih banyak bergantung pada alam," kata Mudjiadi. Ketergantungan dengan alam juga terkait dengan kondisi iklim. Saat ini, dari total irigasi di Tanah Air seluas 7,2 juta hektare, hanya 11% air yang berasal dari bendungan. Sisanya, 89%, ialah air sungai. Jika kondisi iklim kering, air juga kering. “Di sinilah letak strategis bendungan. Manfaatnya juga banyak antara lain sebagai tampungan air untuk pengendalian banjir. Untuk ketersediaan air baku, irigasi, industri, pembangkit listrik dan sebagainya," tutur dia.

Langkah Kementerian PU-Pera memenuhi kebutuhan air selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo, yang akan membangun 65 bendungan di seluruh Indonesia sepanjang 2014-2019. Dalam mewujudkan 65 bendungan selama pemerintahan Jokowi-JK, Ditjen SDA Kementerian PU-Pera memakai pola yang tetap ramah lingkungan. Apabila sebelumnya pembangunan bendungan harus menggunakan hutan karena sulitnya mencari lahan pengganti, saat ini pemerintah menggunakan pola tukar menukar kawasan hutan. Sekarang digunakan pola model pinjam pakai. "Sekarang untuk proyek-proyek strategis nasional bisa pinjam pakai. Tanahnya tetap milik kehutanan, tetapi kita pinjam di daerah genangan," terang Mudjiadi. Dengan adanya pembangunan bendungan di banyak wilayah, diharapkan tidak ada lagi warga Indonesia yang kekurangan air. "Kementerian PU-Pera dalam lima tahun ke depan berupaya mengatasi kekurangan air dengan membangun infrastruktur tampungan air, terutama di kawasan timur Indonesia dan pulau-pulau kecil," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono di Jakarta, baru-baru ini. Pemerintah menaruh perhatian serius pada pembangunan infrastruktur bendungan di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Proyek besar pembangunan bendungan juga ikut membantu pertumbuhan ekonomi, terutama di wilayah pembangunan bendungan, karena dapat menyerap banyak tenaga kerja. (PO/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya