Selasa 12 Mei 2020, 06:45 WIB

Antisipasi Krisis Petani Simpan Padi

PO/LD/VL/TS/RF/AT/MY/JH/FB/JS/MR/N-2 | Nusantara
Antisipasi Krisis Petani Simpan Padi

MI/TOSIANI
Petani merontokkan gabah hasil panen di persawahan di Desa Madureso, Temanggung, Jawa Tengah, kemarin.

 

PANEN berlimpah membuat warga sejenak bisa melupakan ancaman krisis pangan. Mereka punya persediaan jika krisis pangan benar-benar datang.

“Di masa pandemi ini, kami menahan diri untuk tidak banyak menjual hasil panen karena mengutamakan kebutuhan sendiri,” kata Mel Foes, petani di Noelbaki, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, juga sebagai antisipasi gagal tanam pada musim kemarau tahun ini. “Kami hanya menjual beras ke pasar jika membutuhkan uang,” tambahnya.

Sebagai alasan lain, banyaknya stok beras juga membuat harga penjualannya anjlok. “Harga saat ini Rp10 ribu per kilogram, turun dari sebelumnya yang bisa mencapai Rp11 ribu-Rp13 ribu,” papar Mel.

Sementara itu, di Jawa Tengah, panen raya membuat upaya Bulog menyiapkan stok pangan menghadapi ancaman krisis berlangsung lancar. Sampai kemarin, Bulog Banyumas sudah menyerap 3.000 ton beras dari petani di Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap.

“Dalam satu minggu, kami bisa mendapat tambahan beras 1.000 ton. Tingginya penyerapan terjadi karena kami mengerahkan Satuan Kerja Bulog untuk turun ke perdesaan,” ungkap Pemimpin Cabang Bulog Dani Satrio.

Saat ini Bulog membeli beras dan gabah dengan harga sesuai Peraturan Menteri Perdagangan No 24 Tahun 2020. Gabah kering panen dan gabah kering giling dari petani dibayar dengan harga Rp4.200-Rp5.250 per kilogram. Di penggilingan, harga meningkat menjadi Rp5.300. Di gudang, Bulog menerima beras dengan harga Rp8.300.

Saat ini, berbagai pihak berusaha meningkatkan hasil pertanian. Di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, program Kostra Tani berbuah baik.

Di atas lahan seluas 200 hektare di Kecamatan Ranomeeto, Pangerang, koordinator Kos­tra Tani dan 12 penyuluh pertanian lainnya berhasil memotivasi petani sehingga bisa menggelar panen raya varietas sentana dan impara. “Setiap hektare bisa panen 5 ton. Produktivitas ini meningkat jika dibanding dengan sebelumnya,” kata Pangerang.

Di sisi lain, kurangnya permintaan juga membuat harga komoditas pertanian lainnya menurun. Salah satunya, beragam cabai dari Temanggung, Jawa Tengah, hanya dihargai antara Rp4.500-Rp9.000 per kilogram.

“Cabai keriting hijau paling renda, dihargai Rp4.500, dan yang tertinggi cabai rawit me­rah Rp9.000. Turun drastis dari sebelumnya rata-rata dihargai Rp25 ribu-Rp35 ribu,” keluh Budi Sarwanto, 42, petani di Desa Lungge, Kecamatan Temanggung.

Pandemi telah menjungkirbalikkan kebiasaan yang berlaku selama ini. Selama Ramadan, biasanya harga cabai beragam jenis selalu tinggi dan terus naik hingga Idul Fitri. (PO/LD/VL/TS/RF/AT/MY/JH/FB/JS/MR/N-2)

Baca Juga

Dok. Ini Viie Hospitality

Aksari Villa Tawarkan Liburan Romantis di Seminyak

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 23:55 WIB
Mengusung Perfect Romantic Stay dengan tawaran villa satu kamar yang sudah dilengkapi kolam renag privat dan...
Dok. Pribadi

Pansus DPRD Dogiyai Bawa Aspirasi Rakyat Papua ke Jakarta, Salah Satunya Menolak Pemekaran Provinsi

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Selasa 24 Mei 2022, 23:30 WIB
"Selama ini banyak aksi demo di masyarakat tentu kami tampung dan muaranya pada tiga hal pokok itu. Masyarakat tolak kebijakan Otsus...
MI/DEPI GUNAWAN

Partai Gelora Libatkan Deddy Mizwar Kampanye di Jawa Barat

👤Bayu Anggoro 🕔Selasa 24 Mei 2022, 22:50 WIB
Setelah verrikasi parpol faktual selesai, Partai Gelora khususnya di Jawa Barat akan langsung turun ke...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya