Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
UCAPAN Gubernur Bali Made Mangku Pastika soal tidak berfungsinya fakultas pertanian di seluruh Bali dan para doktor pertanian di Bali hingga saat ini masih menimbulkan kontroversial.
Hal itu kembali disinggung oleh beberapa peserta simkrama terakhir di Art Center Denpasar, Sabtu (28/7). Beberapa peserta simakrama membela Pastika.
"Para doktor pertanian tidak perlu tersinggunglah. Ini memang fakta. Pertanian Bali belum terurus maksimal," ujar seorang peserta simakrama.
Mendengar ucapan itu, Pastika langsung menjelaskan dirinya sengaja melontarkan kritik tersebut. Kritik itu sangat perlu karena memang banyak sekali persoalan pertanian di Bali yang tidak diatensi oleh para ilmuwan pertanian di Bali. Bahkan, Pastika sudah bertanya kepada para doktor pertanian di Bali, apakah ada program yang lebih baik demi pertanian di Bali, selain Simantri. Para ilmuwan pertanian di Bali juga tidak bisa menjawabnya.
"Saya memang sengaja membuat para doktor pertanian itu tersinggung. Kalau tersinggung itu baik, dan diharapkan bisa segera ada hasilnya. Kalau hanya diam saja, itu tanda-tanda tidak baik," kata Pastika.
Ia pun mencontohkan dirinya sendiri yang merupakan mantan polisi tetap bisa mengurus pertanian. Seharusnya pakar pertanian lebih tahu tentang pertanian. Perhatian diharap segera datang dari para pakar tersebut. Minimal bisa mencegah penyakit busuk batang yang melanda cabe, membuat anggur Seririt manis, membuat pisang bisa berbuah banyak, membuat jeruk Kintamani manis dan seterusnya. Teknologi itu bisa dilakukan. Produk pertanian lokal Bali itu sangat berkualitas.
"Kenapa kita harus menggunakan buah impor. Padahal buah impor itu mulai dipetik hingga sampai ke meja makan di Bali kurang lebih satu bulan. Sudah pasti ada bahan pengawetnya. Sebab kalau tidak ada pengawet, usia buah yang sudah matang hanya sampai tiga hari. Karena ada pengawet, bisa mencapai satu bulan usianya," pungkasnya.
Bahan pengawet, imbuh Pastika, merupakan sumber penyakit, terutama penyakit kanker. Survei terakhir di Amerika, 7 dari 10 orang yang berusia di atas 60 tahun sudah menderita kanker. Ini karena mengkonsumsi bahan makanan yang sudah mengandung bahan pengawet.(OL-6)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved