Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
GUBERNUR Bali Made Mangku Pastika mengatakan sebanyak 30% pasien yang masuk rumah sakit jiwa (RSJ) karena merasa beban adat terlalu berat.
Hal ini disampaikan Pastika untuk menjawab keluhan seorang warga bernama Ketut Wenten yang mengadu ke forum simakrama, dirinya didenda oleh salah satu desa adat di Kota Denpasar sebesar Rp5 juta.
"Saya ini krama tamiu (pendatang) dari luar Denpasar. Karena beberapa persoalan di desa adat, saya didenda R 5 juta. Ini sangat memberatkan buat saya. Saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari banjar," ujar Ketut dalam forum Simakrama di Ksarnawa Art Center Denpasar, Sabtu (28/7).
Menanggapi keluhan itu, Pastika segera meminta persoalan ini menjadi perhatian para prajuru adat di seluruh Bali. Menurut Pastika, apa yang dialami oleh Ketut Wenten itu baru pada tingkat ngambek.
"Ini namanya ngambek. Bagaimana kalau banyak krama Bali yang pindah agama. Dan agama lain sangat siap menampung hal itu. Ini sangat berbahaya untuk Bali ke depannya," jawab Pastika.
Ia mengatakan, zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Jangan sampai terjadi perubahan besar di Bali. Ini memang tidak bisa dilakukan secara revolusioner, tetapi pelan-pelan, mau tidak mau harus berubah. Bila merujuk pada data pasien RSJ Bangli, 30% pasien datang karena adat istiadat maka para prajuru adat di Bali harus mulai berpikir untuk melakukan penyesuaian, tetapi tidak sampai mengurangi nilai-nilai fundamental adat dan budaya Bali.
Selain itu, krama Bali harus memiliki kualitas sumber daya yang tinggi. Sebab, zaman semakin terbuka, perubahan tidak bisa dicegah. Warga Bali harus berpacu dengan kualitas. Bila tidak, maka Bali akan terlindas. Beberapa kasus di dunia kerja sudah terbukti. Banyak orang Bali tidak disukai karena kualitas dan etos kerja yang kurang menguntungkan perusahan.
Kalau warga Bali tidak kuat, maka akan tersingkir. Dan akan diisi oleh orang luar Bali. Lalu orang Bali marah, dengan alasan rasis, diskriminatif, non Hindu, dan sebagainya. Padahal persoalan mendasarnya karena taruhan kualitas, etos kerja dan sebagainya.(OL-6)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved