Selasa 28 April 2015, 00:00 WIB

Selektif Pilih Investor

MI/IRENE HARTY | Megapolitan
Selektif Pilih Investor

ANTARA/Widodo S. Jusuf

 
PERBANKAN Tiongkok menyiapkan dana sebesar US$50 miliar (sekitar Rp649 triliun) untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. Komitmen pembiayaan itu cukup fantastis dan dinyatakan hampir berbarengan dengan sentilan Presiden Joko Widodo terhadap dominasi lembaga-lembaga donor IMF, Bank Dunia, dan ADB.

Chief Economist of PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, Anggito Abimanyu, menganggap baik komitmen Tiongkok untuk memberikan pinjaman dana infrastruktur lebih dari Rp600 triliun asalkan tidak disertai kepentingan tertentu.

''Yang penting proyeknya itu bermanfaat bagi kita. Enggak ada kepentingan apa-apa. Enggak ada kepentingan seperti pinjaman-pinjaman yang selama ini kita sepakati untuk pinjaman luar negeri, bahan baku harus dari negara yang bersangkutan, dan sebagainya,'' papar Anggito di Kantor Pusat BRI, Jakarta, kemarin.

Persyaratan lain seperti eksekusi mudah, suku bunga murah, dan tenor jangka panjang menjadi hal yang diharapkan dan penting untuk mengurangi beban utang di masa yang akan datang.

Sebagai informasi, dari US$50 miliar komitmen perbankan Tiongkok, sebanyak US$10 miliar atau sekitar Rp129 triliun disiapkan untuk ikut mendanai pembangunan transmisi dan pembangkit listrik yang dikerjakan PT PLN (persero). Sisanya antara lain diperuntukkan proyek pembangunan smelter. PT Antam (persero), proyek pembangunan light rail transit (LRT) yang dikerjakan PT Adhi Karya (persero). Kemudian, ada pula pembiayan untuk pembangunan pelabuhan Sorong, Papua, yang menjadi bagian dari tugas PT Pelindo II (persero).

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Ki Syahgolang Permata mengatakan pihaknya belum sampai pada pertimbangan mendapatkan pendanaan dari perbankan, termasuk bank asal Tiongkok. Sementara ini, pendanaan proyek LRT Cibubur-Dukuh Atas, Jakarta, sejauh 30 km masih berfokus pada penyertaan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,4 triliun dan penerbitan saham baru (rights issue) senilai Rp1,34 triliun.

Rights issue Adhi Karya dijadwalkan akhir Juni 2015. ''Kalau belum rights issue, kita bicara pinjaman, nanti takutnya missed,'' ungkap Ki Syahgolang, kemarin.

Tidak sembarangan
Direktur Utama PLN Sofyan Basir menyatakan tidak mempermasalahkan niat Tiongkok untuk masuk ke pembiayan proyek kelistrikan di Tanah Air.

Kendati begitu, Sofyan menegaskan PLN dan pemerintah tidak sembarangan menerima tawaran perusahaan-perusahaan Tiongkok. Untuk proyek pembangkit listrik PLN, pihaknya menyeleksi ketat.

''Kita hanya minta lima BUMN (Tiongkok) karena berdasarkan kualifikasi sudah berprestasi di dunia,'' ujar Sofyan via sambungan telepon, kemarin.

Pembatasan dan seleksi ketat itu dilakukan mengingat buruknya kualitas pembangkit listrik yang dibangun Tiongkok di Fast Track Program (FTP) I. Pemerintah Tiongkok bersedia bertanggung jawab atas kejadian itu.

Pembangkit-pembangkit tersebut saat ini disewa Tiongkok dan jika sudah dibenahi, akan diserahkan kembali ke PLN.

Sebagai informasi, FTP I yang menargetkan pembangunan pembangkit listrik dengan kapasitas total 10 ribu Mw, hingga saat ini baru terealisasi sekitar 8.000 Mw. Proyek sangat molor dari target selesai pada 2010. (Bow/Jes/E-1)

Baca Juga

Antara

Anggaran Penanganan Covid-19 DKI Tahun Jauh Berkurang

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:29 WIB
JUMLAH anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD DKI Jakarta tahun ini hanya Rp2,1...
winnetnews.com

Polisi Kantongi Identitas Pelaku Penembakan Remaja di Jakbar

👤Rahmatul Fajri 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:17 WIB
Seorang remaja bernama Idris Saputra, 18, ditembak oleh orang tak dikenal di kawasan Mangga Besar, Taman Sari Jakarta Barat, Selasa (22/6)...
ucdavis.edu

Wagub Tegaskan Non DKI Bisa Terima Vaksin di Wilayahnya

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:11 WIB
Warga non DKI dimungkinkan untuk dilayani mendapatkan vaksinasi di Jakarta dengan syarat membawa surat keterangan domisili saat datang ke...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya