Selasa 28 April 2015, 00:00 WIB

Jumlah Anak Pengedar Meningkat

Jumlah Anak Pengedar Meningkat

Atara/Dhoni Setiawan

 
ANAK-ANAK kini bukan lagi hanya menjadi sasaran untuk menjadi pengguna narkotika dan obat berbahaya atau narkoba, melaikan juga diposisikan sebagai pengedar oleh para bandar. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam tiga tahun terakhir bahkan jumlah anak pengedar narkoba meningkat 300%.

"Pada 2012 jumlah anak yang menjadi pengedar narkoba ada 17, tetapi pada 2013 bertambah menjadi 31 dan pada 2014 naik lagi mencapai 42 anak," kata Ketua KPAI Asrorun Ni'am Sholeh di Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan di Indonesia usia anak yang rentan terlibat dalam peredaran narkoba bervariasi. Bahkan, saat ini KPAI menangani murid sekolah dasar (SD) yang menjadi pengedar narkoba. Dengan penanganan yang cepat, diharapkan di waktu mendatang tidak ada lagi anak yang dimanfaatkan untuk mengedarkan barang terlarang tersebut.

Dalam menyelesaikan kasus anak yang terlibat sebagai pengedar dan pengguna narkoba, Asrorun meminta agar mereka diperlakukan sebagai korban sehingga harus direhabilitasi. Alasannya mereka hanya dijadikan alat peredaran narkoba.

"Anak yang terlibat dalam tindak pidana seperti itu seharusnya direhabilitasi karena kita harus memosisikan anak sebagai korban. Kenyataannya di lapangan, banyak anak yang seharusnya direhabilitasi justru malah dipenjarakan," katanya.

Dengan semakin banyaknya anak yang terlibat narkoba, kata Asrorun, KPAI dan BNN juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menyepakati langkah perlindungan anak dari bahaya narkoba. Dalam MoU tersebut kedua pihak menyepakati untuk melakukan pendampingan terhadap anak yang ketergantungan narkotika untuk selanjutnya mengarahkannya ke institusi penerima wajib lapor (IPWL).

Sementara itu, Ketua BNN Anang Iskandar mengatakan kerja sama kedua lembaga itu menjadi langkah preventif setelah banyak kasus penyalahgunaan narkotika terjadi di Indonesia.

Di sisi lain, tiga pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Bekasi, Jawa Barat, ditangkap BNN Provinsi DKI Jakarta, kemarin, saat sedang membeli 'obat kuning' di Apotek Hara, Jalan Tawas Raya nomor 26, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

'Obat kuning' atau pil triheksipenedil itu adalah obat untuk penderita penyakit parkinson dan berfungsi sebagai penenang otot yang tegang. Namun, jika obat itu dikonsumsi tidak sesuai dengan aturan, efeknya menyebabkan 'fly'.

Kepala BNNP DKI Jakarta Ali Johardi mengatakan setiap pembelian triheksipenedil harus disertai resep dokter. Namun, di Apotek Hara obat tersebut dijual bebas dengan harga Rp20 ribu per bungkus berisi 10 pil. Pegawai Apotek Hara berinisial S mengatakan terpaksa menjual obat itu karena pernah diancam para pembeli ketika menolak menjual obat tersebut. (Mal/Gan/J-2)

Baca Juga

Antara

Anggaran Penanganan Covid-19 DKI Tahun Jauh Berkurang

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:29 WIB
JUMLAH anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD DKI Jakarta tahun ini hanya Rp2,1...
winnetnews.com

Polisi Kantongi Identitas Pelaku Penembakan Remaja di Jakbar

👤Rahmatul Fajri 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:17 WIB
Seorang remaja bernama Idris Saputra, 18, ditembak oleh orang tak dikenal di kawasan Mangga Besar, Taman Sari Jakarta Barat, Selasa (22/6)...
ucdavis.edu

Wagub Tegaskan Non DKI Bisa Terima Vaksin di Wilayahnya

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:11 WIB
Warga non DKI dimungkinkan untuk dilayani mendapatkan vaksinasi di Jakarta dengan syarat membawa surat keterangan domisili saat datang ke...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya