Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN politisi dan pejabat seluruh Afghanistan berkumpul di Kabul dengan pengamanan ketat, Senin (29/4). Agendanya, membahas perang dan langkah Amerika Serikat (AS) untuk menjalin kesepakatan damai dengan Taliban.
Lebih dari 3.000 orang diundang dalam pertemuan langka "loya jirga", yang digadang-gadang terbesar sepanjang sejarah Afghanistan modern. Upaya itu membuka peluang bagi mereka untuk menerima penyelesaian damai.
Secara harfiah, loya jirga berarti majelis besar di Pashto. Pertemuan diadakan di tengah negosiasi AS dengan Taliban, untuk menarik pasukan asing dari Afghanistan dengan imbalan gencatan senjata permanen berikut sejumlah komitmen dari Taliban.
Pembicaraan sejauh ini menyampingkan pemerintahan Afghanistan yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani, yang dipandang sebagai kaki tangan AS.
"Kami ingin menentukan garis utama dalam negosiasi dengan Taliban. Kami ingin mendapatkan saran yang jelas dari kalian semua," ujar Ghani pada awal pertemuan puncak.
Baca juga: Menlu RI dan Menlu Afghanistan Bahas Penguatan Kerja Sama
Pemerintahan Ghani berharap pertemuan dengan pertaruhan tinggi itu akan menetapkan kesepakatan terkait kondisi Kabul. Termasuk, kelanjutan konstitusi dan perlindungan hak perempuan, media dan kebebasan berbicara. Ghani turut mengundang kelompok Taliban, setelah gerilya perang yang tidak berhenti sejak 2001 lalu. Namun, para pemberontak enggan memenuhi undangan tersebut.
Sebagian besar wilayah Kabul diblokade pada Senin waktu setempat, yang didukung libur publik selama sepekan agar perhelatan itu berlangsung kondusif. Sejumlah ruas jalan di seberang ibu kota pun ditutup, begitu juga dengan beberapa titik wilayah perbukitan. Pada masa lalu, Taliban pernah menembakkan roket ke tenda yang menaungi pertemuan loya jirga.
Dalam sebuah pernyataan, Taliban bersumpah tidak akan menerima keputusan atau resolusi apapun dari loya jirga. Mereka memandang loya jirga terakhir diadakan pada 2013, ketika para pejabat Afghanistan mendukung perjanjian keamanan yang memungkinkan pasukan AS berjaga di wilayah tersebut.(AFP/OL-5)
PRANCIS berada dalam posisi dilematis di tengah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Emmanuel Macron mengkritik serangan militer terhadap Iran
Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan Iran hanya mengincar kemenangan atas AS dan Israel. Ia menuntut ganti rugi serangan dan pencabutan sanksi ekonomi.
Iran berencana menyerang pusat data dan infrastruktur serat optik di negara Arab yang digunakan militer AS. Ketegangan Timur Tengah meningkat pascaserangan Israel.
Presiden Masoud Pezeshkian ungkap 3 syarat akhiri perang dengan AS dan Israel. Militer Iran ancam serang titik ekonomi di Teluk Persia jika pelabuhan diincar.
PEMERINTAH Iran memperingatkan akan menindak keras demonstrasi anti-pemerintah di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Chuck Schumer mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari sedikitnya 140 personel militer AS mengalami luka-luka, termasuk delapan orang dengan luka serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved