Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
PASANGAN yang menjalani hubungan jangka panjang, kerap mengeluhkan penurunan gairah seks. Hal ini terutama dirasakan dibandingkan masa awal hubungan yang penuh antusiasme dan sulit untuk menahan diri.
Para terapis seks mengingatkan agar pasangan tidak terjebak pada standar tinggi yang kerap tidak realistis. Ketimbang mengidamkan seks yang sempurna, pasangan ini disarankan bangun kembali keintiman dengan konsep good-enough sex.
Konsep ini diperkenalkan Michael Metz dan Barry McCarthy, yang menekankan pentingnya menemukan makna positif, realistis, dan memuaskan dalam kehidupan intim. Menurut para pakar, meski tidak bisa kembali ke masa awal yang penuh gairah, pasangan tetap bisa memiliki “Sex Life 2.0” yang sama baiknya, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Seks yang teratur dinilai bisa menjadi seks terbaik karena membuat pasangan lebih nyaman dan rileks. “Banyak manfaat dari kehidupan seks yang sehat, kepuasan pribadi, kepuasan hubungan, hingga rasa hidup yang lebih bermakna, dimulai ketika pasangan berhubungan seks setidaknya sekali seminggu,” ujar terapis seks asal New York, Eva Dillon, yang menyarankan jadwal intim minimal seminggu sekali, idealnya dua kali.
Menurut Dr. Rachel Needle, codirector Modern Sex Therapy Institutes di Florida, menjadwalkan seks justru membuatnya lebih mungkin terjadi. “Sama seperti kita menyisihkan waktu untuk hal-hal penting, menempatkan seks di agenda membantu mencegahnya tersisih dari daftar prioritas. Antisipasi juga bisa menambah rasa bersemangat,” jelasnya.
Needle mengatakan kedekatan bisa dilakukan lewat hal sederhana. Seperti bergandengan tangan atau berbagi tawa, serta menciptakan suasana rileks dengan kamar yang rapi, lilin, musik lembut, dan refleksi diri sebelum berintim.
Komunikasi jadi kunci penting dalam hubungan intim. “Komunikasikan sebelumnya tentang apa yang diinginkan, bicarakan saat berhubungan mengenai apa yang enak atau tidak, lalu setelahnya ungkapkan apa yang disukai dan ingin diulang,” jelas Lehmiller.
Untuk membuat obrolan lebih seru, psikolog asal Los Angeles, Dr. Sara Nasserzadeh, menyarankan “menu waktu seksi”. Buatlah daftar berisi hal-hal yang bisa memberi kepuasan bagi Anda dan pasangan. Dari menu itu, pasangan bisa memilih bersama dengan keyakinan apa pun yang dilakukan akan tetap terasa memuaskan.
Otak adalah organ seks terbesar, karena rangsangan sering kali muncul dari pikiran. Pasangan bisa membangun suasana intim dengan berbagai cara, seperti saling berbagi fantasi, membaca erotika bersama, atau menonton tontonan dewasa yang etis.
“Pasangan yang menjalani good-enough sex tahu cara menggunakan fantasi dan menjaga perspektif erotis saat berhubungan,” ujar Sokoll. “Mereka belajar untuk mengerotisasi momen, pasangan, dan diri mereka sendiri agar bisa masuk ke dalam suasana erotis," lanjutnya.
“Keluhan terbesar orang dewasa yang lebih tua tentang kehidupan seks mereka adalah ‘cara lama sudah tidak berhasil lagi,’” ujar Lehmiller.
Ia menekankan kenikmatan memang berubah seiring waktu, tapi itu bukan berarti seks menjadi lebih buruk. Dengan menyesuaikan diri pada kondisi saat ini, ditambah kreativitas, kemauan, dan keterbukaan, seks justru bisa semakin memuaskan hingga usia lanjut, terutama ketika sudah adanya rasa nyaman dengan pasangan.
Jika Anda melepaskan ekspektasi tentang bagaimana seks seharusnya, hubungan intim bisa berbentuk apa saja. Yang terpenting adalah kesenangan, bukan performa. “Ketika kesenangan menjadi tujuan utama, kecemasan soal performa biasanya berkurang, dan ruang untuk bermain jadi terbuka,” jelas Dillon. “Coba dekati keintiman dengan pikiran ‘Apakah aku menikmatinya sekarang?’ daripada ‘Bagaimana performaku?’ Selama Anda berdua menikmati momen, itulah good-enough sex.”
Jadi, kalau Anda merasa seks mulai terasa biasa saja, jangan pikirkan apa yang kurang. Cukup nikmati dan buat jadi “cukup baik”, karena dengan begitu hubungan akan terasa luar biasa. (CNN/Z-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved