Rabu 08 Juni 2016, 07:35 WIB

CELOTEH: Sijempol

Ronal Surapradja | Humaniora
CELOTEH: Sijempol

MI/SUMARYANTO

 

RAMADAN kali ini merupakan kedua kalinya buat anak saya yang besar ikut berpuasa. Dia sekolah di kelas 1 SD. Di hari pertama puasa, sore hari sepulangnya saya kerja dia berlari dan berkata, "Rama, aku hari ini puasanya bisa sampai jam tiga. Enggak apa-apa, ya?

"Saya menjawab, "Wah hebat kamu, besok lagi ya!" sambil mengacungkan jempol. Dia pun tersenyum bangga.

Anak kecil pun tahu arti dari jempol yang menghadap ke atas ialah tanda pujian atau tanda persetujuan. Kelak dia harus tahu bahwa jempol ialah jari yang sarat makna.

Isyarat dengan menggunakan jempol telah ada sejak berabad-abad silam. Dalam pertarungan gladiator zaman Romawi, jempol menentukan nasib si pecundang. Jempol ke atas artinya ia dibiarkan hidup, jempol ke bawah ia akan dibunuh.

Di era modern, simbol jempol ke atas konon dipopulerkan para pilot AS di Perang Dunia II untuk memberikan kode kepada kru bahwa mereka siap. Ketika si kru membalas dengan kode serupa, artinya si pilot telah mendapat persetujuan menara kontrol untuk take-off.

Sekarang, kode jempol digunakan di mana-mana dengan arti yang berbeda-beda. Jika jempol diacungkan seseorang di pinggir jalan, artinya butuh tumpangan. Atau di kebudayaan kita, jempol dipakai untuk menunjukkan arah dengan cara yang lebih sopan alih-alih menggunakan telunjuk.

Untuk kita di Indonesia yang banyak mendapat pengaruh kebudayaan Barat, tanda jempol berarti baik. Namun, berhati-hatiah jika kita memberi kode jempol di sejumlah negara.

Di Rusia, Amerika Selatan, Yunani, Afrika Barat, Italia, Bangladesh, dan beberapa negara di Timur Tengah, isyarat itu sama artinya dengan kita mengacungkan jari tengah. Tentu kita tahu apa artinya, kan? Wow....

Namun, menurut saya, isyarat jempol paling hebat itu ada di jalanan Ibu Kota. Jika dilakukan 'Pak Ogah', artinya siapa pun kita harus berhenti karena ia sedang 'membantu' pengendara lain untuk memotong jalan atau berputar meskipun ada tanda larangan untuk itu.

Jika itu dilakukan pengendara motor, artinya ia minta diberi sedikit celah untuk lewat meskipun terkesan memaksa. Yang paling hebat jika dilakukan sopir metromini atau Kopaja. Artinya dia meminta dimaklumi ketika menyerobot, bahkan melawan arus. Mereka tidak peduli jika hal tersebut berefek pada kemacetan panjang. Metromini memang jempolan! (H-3)

Baca Juga

Ilustrasi

Nama-nama Dinosaurus yang Terpopuler yang Pernah Hidup di Zaman Mesozoikum

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Senin 08 Agustus 2022, 23:15 WIB
Tak jarang animasi tentang dinosaurus banyak diminati anak-anak karena bentuknya yang lucu dengan suara khasnya yaitu...
AFP

Kenali Jenis Vaksin dan Kombinasi Booster yang Diberikan

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Senin 08 Agustus 2022, 22:05 WIB
Penting bagi kita untuk mengetahui jenis vaksin dan booster yang tepat untuk bisa melawan virus...
Dok. Pribadi

Ini Salah Satu "Rahasia" Waroeng Steak and Shake Terus Berkembang

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 21:47 WIB
Video itu pun mendapatkan banyak tanggapan positif warganet yang juga ikut membuka rahasia "amalan" Waroeng Steak and...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya