Minggu 13 Juni 2021, 02:00 WIB

Bahaya Dibalik Fenomena K-Pop

Faustinus Nua | Humaniora
Bahaya Dibalik Fenomena K-Pop

AFP
BTS saat tampil di malam penghargaan MTV Video Music Awards.

 

DEMAM K-Pop atau pun drama Korea bukan fenomena baru bagi generasi muda saat ini. Budaya Korea sudah masuk dan menjadi sangat kuat di kalangan milenial di Asia, khususnya Indonesia.

Pakar Budaya Universitas Indonesia (UI) Pudentia mengatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan promosi budaya hingga saat ini, Korea telah mempersiapkan semuanya sejak lama. Butuh perencanaan yang panjang, bahkan hingga lebih dari 20 tahun.

Baca juga: Keputusan Arab Saudi Tepis Gempuran Hoaks soal Haji

"Mereka menyiapkan K-Pop secara serius sekitar 20 tahun dengan mempertimbangkan hasil semacam Feasibility Study sasaran konsumennya," ungkapnya kepada Media Indonesia, Sabtu (12/6).

Menurutnya, persiapan itu dimulai dengan semacam penelitian. Mereka mencari tahu kebutuhan pasar kemudian menemukan konsep yang tepat untuk dikembangkan sesuai potensinya.

Persiapan seperti itu tidak hanya dilakukan oleh industri saja. Korea didukung penuh pemerintahnya dan juga modal yang besar, sehingga ketika mempromosikan betul-betul efektif.

"Penelitian penting untukk menyusun perencanaan, untuk membuat action program," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa fenomena seperti K-Pop memang bisa berdampak buruk bagi budaya Indonesia sendiri. Kegilaan anak muda sekarang termasuk ibu-ibu pada K-Pop menandakan telah terjadi bencana budaya yang tidak dirasakan adanya tapi besar akibatnya untuk pembangunan karakter bangsa.

"Bisa-bisa anak-anak kita telah tumbuh dalam situasi buta budaya, cultural blind spot pada miliknya sendiri. Kita kehilangan penanda identitas sebagai bangsa atau berada dalam keadaan gagap budaya," kata dia.

Lantas, Indonesia pun seharusnya bisa mewaspadai dampak buruk tersebut. Budaya luar memang tidak bisa dibendung di era teknologi saat ini. Namun, harus ada filter dan terutama punya strategi seperti Korea sendiri dalam mempertahankan atau menyebarluaskan budaya kita sendiri. Studi budaya, regulasi pemerintah dan promosi yang masif jadi kekuatan mempertahankan budaya sebagai karakter bangsa.

"Strategi yang baik dalam memertahankan budaya adalah penghargaan mereka pada tradisi, adat istiadat yang berlaku. Yang melanggar atau mengabaikan tradisi biasanya menjadi tersisih. Tradisi tersebut slalu diwujudkan dalam karya-karya mereka tidak saja dalam musik tapi juga dalam drama dan film," tandasnya. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA/Sigid Kurniawan

Menlu Retno Minta Saudi TInjau Kebijakan Vaksin dan Umrah Bagi WNI

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 22 September 2021, 11:30 WIB
Kewajiban melampirkan sertifikat vaksin penguat ini dianggap memberatkan...
Ist

Lembaga Riset Taiwan CDRI Gelar Indonesia Urban Life Safety

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 22 September 2021, 11:28 WIB
CDRI mengadakan “Indonesia Urban Life Safety” dengan bimbingan dari Biro Perdagangan dan Ekonomi Internasional Kementerian...
Ist/Wikipedia

Mahasiswa UGM Teliti Potensi Jamur Endorfit untuk Antivirus Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 22 September 2021, 11:13 WIB
Empat mahasiswa UGM mencoba berinovasi dalam mengembangkan antivirus SARS-CoV-2 atau Covid-19 menggunakan jamur endofit dari mangrove...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Miliarder Baru dari Pundong

MASYARAKAT dihebohkan dengan video viral warga Dukuh Pundong III, Kelurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membeli tiga mobil dengan uang tunai.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya