Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR kebumian dan kebencanaan Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur, menyatakan solusi bencana yang diperlukan saat ini memadukan mitigasi, pemetaan, kearifan lokal dan inovasi sederhana.
"Terpenting semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam mitigasi melibatkan masyarakat," tegas Guru Besar Geofisika, Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya Adi Susilo, Selasa (19/1).
Adi mengungkapkan sesungguhnya mitigasi itu murah dan tidak rumit. Pasalnya masyarakat bisa diedukasi dengan cara yang sederhana memadukan dengan kearifan lokal."Di daerah rawan tanah longsor, bisa memasang peralatan sederhana, kawat yang ditancapkan ke tanah untuk mendeteksi tanah gerak. Bila kawat menegang itu tanda ada peegerakan tanah," ungkapnya.Cara sederhana itu bisa diterapkan sebagai bentuk mitigasi. Saat tanda-tanda akan ada tanah gerak, warga agar berupaya ke tempat aman. Sehingga berkomunikasi dengan masyarakat itu lewat pengetahuan mitigasi sederhana tapi efektif sebagai bentuk penyadaran dan bagian dari pemetaan.
Demikian pula mitigasi gelombang laut bisa dengan memasang pelampung yang dilengkapi sirene. Pelampung itu mendeteksi naik turunnya air laut ketika ada gempa bumi dan tsunami.Saat ini, kata Adi, semua pihak agar meningkatkan mitigasi dan pemetaan mengingat yang dominan bencana hidrometeorologi karena puncak musim hujan. "Dalam mengatasi bencana itu pemerintah dan masyarakat harus gotong royong," tuturnya.
Adi menjelaskan saat bencana melanda, yang merasakan langsung dampaknya ialah masyarakat. Namun, penanganan bencana bukan semata tugas pemerintah, tapi menjadi kewajiban bersama mulai warga, aparat, relawan termasuk akademisi."Jangan saling menyalahkan ketika telanjur ada bencana, semua kita bantu. Semua pihak kerja sama mitigasi dan saling membantu," kata Ketua Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan UB tersebut.
Adapun soal solusi bencana, lanjutnya, pemetaan sangatlah penting. Daerah rawan longsor, misalnya, bencana tidak bisa dihindari tapi hanya mengurangi dampaknya. Pemetaan sejak dini menjadi vital dipadukan dengan teknologi dan keatifan lokal."Bila daerah rawan longsor itu tanah endapannya rendah bisa diberi tiang pancang atau potensi longsor diarahkan ke tempat lain," ungkapnya.
Demikian juga peran kearifan lokal sangat penting karena masyarakat umumnya sudah berpengalaman dalam mengatasi bencana. Terkadang, bayangan orang kota, pemerintah maupun akademisi berbeda dengan warga dalam memahami potensi bencana.Adi mencontohkan pernah penelitian di Poncokusumo, Kabupaten Malang. Daerah itu paling dekat dengan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Akademisi semula beranggapan daerah setempat memiliki potensi bahaya guyuran hujan abu vulkanik. Ternyata, sudut pandang masyarakat dalam memahami bencana berbeda, bukan potensi bahaya gunung seperti yang dikira kebanyakan orang. Akan tetapi warga justru memahami bahaya pada tikungan tajam jalan raya yang kerap terjadi kecelakaan lalu lintas.
"Cara pandang mitigasi ternyata bisa beda, apa yang kita bayangkan berbeda dengan warga. Karena itu mengedukasi masyarakat harus terus-menerus dan berkelanjutan," pungkasnya. (OL-13)
Baca Juga: Banjir di Kabupaten Nunukan Berangsur Surut
BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir.
Jepang telah menjadikan geosains sebagai basis pengambilan keputusan tertinggi.
Korban merupakan warga Penjaringan, Jakarta Utara, yang sedang mengemudikan kendaraan bernomor polisi B 2148 BOK.
WAKIL Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, memberikan peringatan keras kepada seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.
Tim CIS Jepang, Universitas Budi Luhur dan Pemprov Jatim akan melakukan riset kolaborasi jalur drone untuk mitigasi bencana di wilayah Cangar Pacet Kabupaten Mojokerto
Sejak Januari 2026, pusat-pusat tekanan rendah tersebut telah mulai terpantau di wilayah selatan Indonesia dan berkontribusi terhadap peningkatan intensitas hujan di sejumlah daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved