Rabu 21 November 2018, 12:55 WIB

Indonesia Disebut Masih Loyo Soal Regulasi Perubahan Iklim

Putri Anisa Yuliani | Humaniora
Indonesia Disebut Masih Loyo Soal Regulasi Perubahan Iklim

Ilustrasi

 

DIREKTUR Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengungkapkan optimisme Indonesia untuk berkontribusi mencegah perubahan iklim. Namun, optimisme itu tidak sesuai dengan implementasi regulasi.

Dalam agenda Peluncuran dan Diskusi Panel Brown to Green Report 2018 Transformasi Indonesia Menuju Ekonomi Hijau yang berlangsung di Jakarta, Rabu (21/11), Fabby menyebut regulasi di Indonesia pada tataran teknis tidak mengatur detail tentang ambisi ikut serta dalam menahan penaikan suhu bumi yang telah diratifikasi di Paris pada 2015 lalu.

Contohnya, Indonesia tidak cukup konsisten untuk mendorong pembangunan energi terbarukan yang masif. Padahal Indonesia memiliki teknologi yang dahulu dijadikan acuan bagi negara lain.

"Indonesia punya sumber energi terbarukan yang sangat banyak, yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain mulai dari angin, surya hingga gelombang laut. Tetapi tidak diimplementasikan dengan baik karena tataran teknis yang tidak detail," ujar Fabby.

Indonesia malah justru memperpanjang pemakaian batu bara melalui program PLAN hingga 2025 untuk penyediaan listrik nasional. Pemakaian energi terbarukan dalam bidang industri dan transportasi hingga kini belum terwujud. Padahal menurut data Enerdata 2018, emisi terbesar Indonesia di sektor energi berasal dari produksi listrik (36%), industri (31%), dan transportasi (27%).

Baca Juga:

RI Dorong Kebijakan Perubahan Iklim Responsif Gender

Maka, Fabby pun tidak heran target Nationally Determined Contribution (NDC) disebut 'sangat tidak mencukupi' berdasarkan perhitungan Climate Action Tracker (CAT).

"Kita perlu pemimpin dengan visi jangka panjang yang baik untuk mewujudkan ini. Karena siapa pun presiden yang terpilih tahun depan, visinya lah yang akan berpengaruh terhadap nasib sustainable energy serta kontribusi kita terhadap perubahan iklim," imbuhnya.

Indonesia juga akan banyak terdampak dari perubahan iklim apabila tidak memiliki kontribusi yang berarti dalam menahan laju kenaikan suhu bumi. Menurut Fabby, dampak tersebut akan menyasar alam dan ekonomi Indonesia, jika tidak segera bertransformasi ke energi hijau.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA

Pemerhati Anak Soroti Bahaya BPA

👤Widhoroso 🕔Selasa 13 April 2021, 01:50 WIB
DORONGAN agar BPOM memberi peringatan akan bahaya zat BPA dalam galon air guna ulang dan plastik kemasan makanan atau minuman terus...
Dok. Pribadi

Tanah Papua Mozaik Indonesia yang Perlu Dirawat

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Senin 12 April 2021, 23:18 WIB
Dia menjelaskan, Indonesia merupakan mozaik yang sangat beragam dari orang-orangnya serta etinisnya. Kekayaan ini tentu harus dikelola...
Ilustrasi/Ist

Waspada Gejala Long Covid-19 Bagi Penderita Penyakit Kronis

👤Eni Kartinah 🕔Senin 12 April 2021, 20:53 WIB
Gejala Long Covid adalah pasien yang sudah pernah terinfeksi virus Covid-19 masih mengeluhkan gejala setelah dinyatakan sembuh....

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya