Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
KONTROVERSI keberadaan Planet Nibiru yang dikaitkan dengan kejadian kiamat setelah gerhana matahari 21 Agustus lalu sebenarnya bukan kali pertama ramai diperbincangkan. Sebelumnya pun, pernah ada yang mengklaim bahwa pada Jumat 21 Desember 2012, bumi yang ditempati manusia bakal berbenturan dengan planet raksasa bernama Nibiru. Namun hal itu tak terbukti.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tenang dan jangan resah dengan isu sebuah buku Planet X - The 2017 Arrival (2016) yang ditulis David Meade yang menyatakan bahwa planet Nibiru akan menabrak bumi pada Oktober 2017.
Sebab jauh sebelumnya, Nancy Lieder, pendiri Zeta Talk yang merupakan kelompok yang percaya adanya alien abu-abu berwarna Zeta juga pernah menyebut Nibiru sebagai pemicu kiamat pada 1995, 2003 dan 2010 namun semua prediksi itu salah.
Peneliti Observatorium Bosscha Lembang, Mohamad Irfan menjelaskan, bahwa dalam jangka waktu dekat ini tidak akan ada planet yang bakal mengganggu keberlangsungan bumi. Pernyataan yang mengatakan jika Nibiru yang ukurannya sama besar dengan planet Saturnus dan diklaim bakal menimbulkan bencana di bumi, adalah salah.
"Tidak benar, karena tidak ada planet atau benda angkasa bermassa besar yang berpeluang mengancam bumi hingga saat ini. Walaupun ke depan ada ancaman seperti ini, tentunya sudah terdeteksi oleh instrumen yang saat ini terpasang untuk memantau objek-objek benda di langit," tegas Irfan di Observatorium Bosscha Lembang Kabupaten Bandung Barat, Kamis (24/8).
Meski demikian, dia menyatakan, setiap saat sering jatuh berbagai objek benda langit ke bumi tapi dengan massa yang sangat kecil seperti pasir, kerikil dan debu antariksa yang jumlahnya sangat banyak. Berbagai objek kecil itu jatuh di sepanjang perjalanan bumi mengitari matahari yang oleh para peneliti lebih sering disebut meteor yang diamati saat malam hari.
"Untuk objek massa yang besar, sampai saat ini tidak terdeteksi, kita yakin untuk beberapa waktu ke depan tidak terlihat adanya objek yang bisa membahayakan bumi. Jika membahayakan, tentunya bendanya harus besar, kalau bendanya besar dan jaraknya dekat bumi, harusnya bisa terpantau teleskop yang sekarang sudah tersebar di seluruh area permukaan bumi," ungkapnya.
Irfan menerangkan, sudah banyak teleskop yang didedikasikan untuk memantau objek-objek benda langit di seluruh dunia. Pada saat ini, planet di antariksa yang terpantau di teleskop juga lintasannya telah diketahui dan masih berada di porosnya.
"Peneliti setiap saat memotret, kemudian dihitung, kan benda langit itu berseliweran, gerakannya masih di lintasannya. Pengamatan objek yang lebih jauh dari pluto, dan diameternya jauh lebih kecil dari pluto sekalipun sudah bisa terdeteksi oleh teleskop," ujarnya.
Lebih jauh, dia menyebutkan, planet Nibiru bukan merupakan bagian dari planet tata surya karena sama sekali tidak terpantau. Sampai sekarang, tata surya yang terpantau jumlahnya masih delapan, antara lain merkurius, venus, bumi, mars, saturnus, uranus, neptunus dan pluto yang setiap saat mengelilingi matahari.
"Peneliti astronomi juga mempunyai The Panoramic Survey Telescope dan Rapid Response System (Pan-STARRS) yang berada di Haleakala Observatory Hawai, lalu di Australia, Eropa dan Afrika yang fungsinya mendeteksi benda-benda di sekitar bumi dan berpeluang membahayakan bumi kita. Pan-STARRS ini menyajikan database semua objek yang terlihat," bebernya.
Tidak adanya ancaman atau gangguan yang mengintai bumi juga diperkuat oleh sebuah buku berjudul "The Astronomical Almanac 2017" keluaran US Naval yang edarannya sangat terbatas karena hanya dibagikan untuk observatorium-observatorium di seluruh dunia, dan di Indonesia hanya dimiliki oleh Bosscha.
Dari buku tersebut, dijelaskan secara detail keseluruhan peristiwa atau fenomena benda langit yang akan terjadi selama kurun waktu 2017.
"Buku The Astronomical Almanac ini berisi data-data temuan astronomi yang diperoleh dari ilmuwan di seluruh dunia. Buku ini sebagian besar berisi ephemeris sistem surya dan katalog bintang. Dari buku ini juga tidak ditemukan informasi tentang planet Nibiru yang bakal mengancam bumi," tandasnya. (OL-6)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved