Headline
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
LIMA mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi menciptakan Plato, yaitu sebuah alat pengolah limbah batik portabel. Alat ini mudah digunakan pelaku industri serta dapat mendegradasi limbah batik secara optimal.
“Industri batik Pekalongan menjadi salah satu daerah pengamatan kami. Di Kota Pekalongan, jenis industri batik yang mendominasi adalah industri rumah tangga yang tersebar luas di Kota Pekalongan,” kata salah seorang mahasiswa pencipta Plato, Sharfan, di Kampus UI Depok, Senin (21/8).
Kelima mahasiswa tersebut adalah Nur Sharfan (teknik kimia), Ahmad Shobri (teknik elektro), Fadhila Ahmad Anindria (teknik kimia), Rickson Mauricio (teknik kimia), dan Muhammad Akbar Buana (teknologi bioproses).
Sharfan mengatakan pertumbuhan industri batik Pekalongan tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Jumlah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal batik di Pekalongan baru ada tiga dengan kapasitas yang belum mampu menampung seluruh limbah produksi dari unit usaha batik.
Proses pengecatan dan pemberian warna kain menghasilkan limbah yang tidak sedikit yang dibuang ke sistem perairan setempat. Oleh karena itu, lima mahasiswa ini mencari solusi akan masalah limbah tersebut.
“Alat yang kami ciptakan menggunakan teknologi elektrokoagulasi dan fotokatalis sehingga dapat mendegradasi limbah batik secara optimal,” kata dia.
Di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik UI Slamet, Plato menjadi sebuah prototipe alat pengolah limbah portabel yang dirancang sedemikian rupa agar mudah digunakan para pelaku home industry batik.
Plato memiliki keunggulan di antaranya dapat digunakan secara mobile dan dapat digunakan secara bergantian oleh pelaku usaha dalam suatu kawasan tanpa harus mengumpulkan limbah hasil pencucian batik ke IPAL.
“Dengan demikian, jumlah limbah yang dibuang ilegal ke sungai dapat berkurang,” kata dia. (Ant/H-1)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved