FINLANDIA menyatakan perang terhadap Jerman, seiring meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Setelah Jerman menginvasi Polandia, Soviet ingin mempertahankan Leningrad.
Soviet mulai meminta kontrol atas berbagai area sengketa di Finlandia.
Daerah itu termasuk Karelian Isthmus yang merupakan jalur masuk ke Leningrad.
Finlandia sempat menolak tuntutan Soviet itu sebagai respons Soviet menginvasi Finlandia pada 30 November 1939 berdasarkan pakta Molotov-Ribbentrop (juga dikenal sebagai pakta Nazi-Soviet).
Pakta nonagresi itu memberikan legitimasi sepihak atas pendudukan terhadap Finlandia.
Pertempuran musim dingin antara Soviet dan Finlandia pecah.
Selang beberapa waktu, negosiasi dilakukan dan akhirnya pihak Finlandia menandatangani kesepakatan The Moscow Peace Treaty pada 12 Maret 1940.
Meski telah dibuat pakta, setelah itu Finlandia melirik Jerman sebagai sekutu potensial untuk mengembalikan teritorial yang dikuasai Soviet. Bahkan, Finlandia membantu Jerman menaklukkan Leningrad.
Namun, kekuatan Soviet kembali menguat, terbukti dengan keberhasilan tentara merah menembus Karelian Isthmus pada 1944.
Setelah itu terjadi kesepakatan lagi antara Finlandia dan Soviet yang berakibat pengusiran seluruh tentara Jerman di Finlandia.