Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
Strategi program transmigrasi diarahkan untuk tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana penduduk bisa lebih sejahtera di tempat barunya. Karena itu, alih-alih 'mengirim semut', pemerintah ingin menciptakan 'gula' terlebih dahulu agar semut datang dengan sendirinya. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Demikian disampaikan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanegara dalam Rapat Koordinasi Teknis Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Tahun 2025 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (29/8).
Untuk menjadikan sebuah kawasan menjadi gula-gula yang dapat menarik pendatang, potensi wilayah itu harus dikembangkan. Menteri Iftitah memberikan contoh inspirasi dari Sumba Timur. Wilayah yang gersang itu digali potensinya oleh peneliti dari Queensland University Australia dan peneliti dari Brasil. Para peneliti mengatakan daerah itu bagus sekali untuk industri tebu.
Perbedaan suhu ekstrem di Sumba Timur antara siang dengan malam hari, ketika siang sangat panas dan malam dingin sekali, membuat tebu stres. Kondisi itu membuat tebu menghasilkan kadar gula yang jauh lebih tinggi.
"Per satu ton tebu, kalau di Sumba Timur bisa 120 kg gula. Sementara di Jawa dan di Sumatra itu sekitar 70 kg gula," kata Iftitah.
Belum lagi, ampas tebunya bisa untuk energi terbarukan. Hasil dari industri tebu yang di Sumba Timur ini menghasilkan 22 megawatt (MW). Sementara yang dibutuhkan untuk industri sekitar 10 MW, dan yang dibutuhkan oleh satu kabupaten hanya 6 MW.
"Jadi kalau ilmu pengetahuan dan teknologi terlibat di dalam pembangunan kawasan transmigrasi melalui SDM-SDM unggul, insya Allah, bisa jauh lebih baik. Harapan Bapak Presiden (menciptakan) industrialisasi dan hilirisasi di kawasan transmigrasi bukan impian kosong. Sudah ada di Sumba Timur," papar mentrans.
Ia menyebut potensi-potensi kawasan lainnya tidak terbatas hanya pertanian atau perkebunan. Namun bisa juga pertambangan, perikanan, hingga pariwisata. "Saya inginkan ada gulanya di kawasan transmigrasi itu," ujarnya.
Terinspirasi dari kisah temuan peneliti asing di Sumba Timur, Kementerian Transmigrasi menciptakan program Transmigrasi Patriot. Caranya dengan mendistribusikan SDM unggul ke wilayah-wilayah transmigrasi untuk pemetaan potensi masing-masing daerah.
"Dari kunjungan-kunjungan ke wilayah transmigrasi, kami mendapat gambaran. 'Pak, kami ini bukan menolak pendatang tapi bagaimana kawasan kami bisa maju kalau yang datang itu pendidikannya rendah, pengetahuannya terbatas. Apa yang mau diolah dari alam yang ada di tempat kami?'," ungkap menteri menirukan masukan dari warga lokal di sebuah wilayah.
Lewat program Transmigrasi Patriot, Kementerian Transmigrasi saat ini telah mengirimkan 2.000 peneliti ke 154 kawasan transmigrasi. Mereka terdiri dari 1.022 mahasiswa S1, dari 7 perguruan tinggi terbaik Indonesia, yakni UI, ITB, IPB, Unpad, Undip, UGM, dan ITS.
Dari jumlah itu, ada sekitar 400-500 lulusan S1 dan 400 lulusan S2 dan S3, serta 44 guru besar. Program itu juga berkolaborasi dengan 17 universitas di daerah.
Menteri Iftitah menjelaskan, para peneliti yang disebut tim Ekspedisi Patriot merupakan tim advance atau tim pendahulu yang bertugas melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi. Mereka akan bekerja selama 4 bulan sampai dengan akhir Desember 2025.
"Tindak lanjutnya tahun depan jika perlu penelitian lebih lanjut, nanti akan kita kirim gelombang kedua dari tim Ekspedisi Patriot. Tidak semuanya, tapi di beberapa tempat yang memang betul-betul di situ perlu penelitian lebih lanjut," ujarnya.
"Kemudian insya Allah juga tahun depan kita akan membuka kesempatan Beasiswa Patriot. Targetnya mudah-mudahan bisa tercapai 2.000 Beasiswa S2 dan S3. Bagi putra-putra terbaik bangsa yang terdaftar di perguruan tinggi negeri terbaik Indonesia tetapi nanti kuliahnya di kawasan transmigrasi," pungkasnya. (E-3)
Mentrans Iftitah menyatakan bahwa kawasan Melolo menjadi bukti bahwa tanah kering dan tandus justru bisa memberikan peluang besar.
MENTERI Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dari kementerian teknis lain untuk membangun kawasan transmigrasi.
MENTERI Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara mengendus 17 perusahaan menjalankan kegiatan usaha tanpa izin resmi di kawasan Rempang, Batam, Kepulauan Riau.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mendampingi Menteri Transmigrasi berdialog bersama dengan warga Rempang
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman menandatangani MoU mendorong petani dan transmigran memperoleh pendapatan di atas gaji Menteri.
MENTERI Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan bahwa bencana alam tsunami yang melanda Aceh pada 2004 menjadi momen penting dalam membangun Indonesia.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan komitmen pemerintah untuk serius membangun Papua, khususnya di kawasan Merauke, Papua Selatan.
Ada empat arahan untuk Munas ke-V PATRI yang akan memilih ketua umum baru serta menetapkan anggaran dasar da anggaran rumah tangga (AD/ART)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved