CAHAYA matahari mulai menyingsing dari balik pegunungan, saat kapten Win Warsono, kopilot pesawat Cesna Cravan 208 milik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama seorang pilot berkewarganegaraan Amerika berupaya mendaratkan pesawat di sebuah landasan kecil (airstrip) Bandara Ninia, Kabupaten Yahukimo, Papua, Selasa (25/8).
Yang tidak biasa dari bandara itu adalah letak runway yang berada tepat di atas bukit setinggi 2.600 kaki (793 meter) di atas permukaan laut.
Setelah meliuk-liuk di antara beberapa bukit, pesawat bermesin turboprop tunggal itu terbang ke kiri.
Perlahan bandara itu mulai terlihat samar berbaur awan yang lazim menyelimuti pegunungan.
"Descending (pesawat terbang turun)," kata sang pilot bule.
Pun mulai tampak jelas apa yang mereka sebut airstrip sepanjang sekitar 450 meter dan lebar sekitar 15 meter.
Di sanalah pesawat mencecahkan rodanya dengan guncangan kuat di landasan tanpa aspal ataupun beton.
Hanya tanah, kerikil, dan rerumputan liar yang seolah menjadi karpet penyambut pesawat.
"Landing!" teriak pilot.
Adrenalin lebih terpacu karena di ujung landasan sebuah tebing menanti.
"Sulit disingkirkan karena itu batu padat," jelas Win sambil menghembus napas lega.
Di daerah berjarak sekitar 20 menit penerbangan dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu, pesawat udara ialah satu-satunya moda transportasi penumpang, pemenuhan logistik, bahan baku konstruksi dan lainnya.
"Itu tempat jatuh Komala Air pertengahan Agustus 2015," kata Win sambil menunjuk sebuah tempat berjarak sekitar 30 meter dari landasan pacu itu.
Tidak ada menara air trafic control (ATC).
Seluruh aktivitas bergantung pada operator yang mencari informasi mengenai lalu lintas udara dan cuaca.
"Tidak ada petugas, kecuali yang disewa operator sendiri."
Uji nyali harus kembali dijalani saat pesawat meninggalkan wilayah itu di tengah hari.
Di landasan sependek itu pesawat harus dapat mengudara (take off) dengan akurat supaya tidak terjun bebas ke jurang curam di ujung landasan yang di bawahnya mengalir sungai deras.
"Ini memprihatinkan. Standar fasilitas tidak memenuhi," ucap Rita Nur Harianti, senior specialist safety and standar, Airnav Indonesia.
Penerbangan itu bukan tanpa tujuan, karena bakal menjadi input untuk workshop 'Tropical Mountainous Terrain Flaying Operation' pada 25-26 Agustus 2015.
"Ini agar penerbangan di Papua bisa lebih baik. Kita cari solusi di sini untuk selanjutnya ditindaklanjuti pemerintah," tutur Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Muzaffar Ismail.