Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
UPAYA diversifikasi pangan terus dilakukan pemerintah. Hal ini agar masyarakat tidak hanya bergantung pada sumber pangan tertentu. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro menyebut untuk pengganti karbohidrat, Indonesia memiliki 77 produk seperti kentang, singkong, jagung, ubi dan masih banyak lagi.
Tentunya, upaya tersebut juga memperhatikan kandungan gizi yang lebih baik. Keanekaragaman pangan juga dapat mendorong kinerja berbagai komoditas dan menumbuhkan banyak usaha pengolahan pangan. Salah satu komoditas pangan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan ialah sagu.
“Indonesia memiliki luas area sagu lebih dari empat juta hektare dan itu menjadikan kita sebagai penghasil sagu terbesar di dunia,” ujar Syukur di acara Gelar Pangan Nusantara, di Jakarta, Jumat (27/7).
Sagu, singkong, jagung, sorghum dan talas dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti nasi jagung, papeda, kapurung dan lain-lain. Hal itu tentu akan memberikan efek positif bagi masyarakat yang bergelut di sektor pangan.
Pemerintah pun memberikan fasilitas kepada usaha kecil dan menengah yang bergerak di pengolahan pangan dengan mempertemukan mereka dengan pelaku usaha besar. Sebagai informasi, kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan dengan peningkatan skor Pola Pangan Harapan mengalami pertumbuhan yakni berada pada skor 90,4, naik dari tahun sebelumnya yang hanya di angka 86,0.
Ekspor Sagu
Tren ekspor sagu erus mengalami peningkatan dari hanya 4.195 ton pada 2010 menjadi 10.832 ton pada 2016.
Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Seluruh Indonesia (Fokus-Kapassindo) Irwan Nasir mengatakan terdapat 67 kabupaten penghasil sagu di seluruh Indonesia. Namun, belum banyak yang benar-benar digarap secara baik dan profesional.
Salah satu pengelolaan industri sagu yang sudah baik berada di Kepulauan Meranti. Kabupaten yang juga dipimpim Irwan itu mampu memproduksi 3.000 ton olahan sagu dan diekspor ke Jepang, Singapura, serta Malaysia.
Secara nasional, sagu bukanlan komoditas pangan strategis. Ia pun meminta pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih sehingga komoditas itu bisa semakin memberikan kontribusi besar kepada kesejahteraan masyarakat dan perekonomian dalam negeri.
"Ini perlu terus kita sosialisasikan agar masyarakat mengetahui bahwa sagu bisa dikembangkan dan bisa dijadikan makanan laiknya beras atau gandum," tandasnya.(OL-6)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved