Jumat 10 April 2015, 00:00 WIB

Industri Pipa Baja Minta Proteksi

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Industri Pipa Baja Minta Proteksi

ANTARA/Asep Fathulrahman

 
MASIFNYA penetrasi pipa baja impor dikeluhkan oleh pelaku industri pipa baja nasional. Mereka berharap pemerintah melindungi industri pipa baja nasional.  Kendati saat ini industri pipa baja nasional belum mampu memenuhi kebutuhan pipa baja nasional, tetapi pelaku industri merasa mampu bila diberikan kesempatan.

"Permintaan pipa baja itu tinggi dengan per tahunnya bisa mencapai 1,5 juta ton, sedangkan untuk produksi pabrikan pipa baja nasional sekitar 900 ribu ton per tahun. Jadi ada selisih tersebut yang diisi oleh impor," ujar Presiden Director Bakrie Pipe Industries, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi di Jakarta, Kamis (9/4).

Di sisi lain, pemanfaatan kapasitas pabrik pipa baja nasional belum mencapai 100%. Saat ini pabrikan pipa baja baru berproduksi 60% - 70% dari kapasitas terpasang.  Ketika produksi pabrikan pipa dalam negeri sedang berupaya mencapai titik maksimal kapasitas, produk impor sudah telanjur banyak memenuhi pasar.

Wigratoro menyatakan pemerintah dapat memberikan dukungan agar kapasitas pabrikan pipa dalam negeri bisa termanfaatkan secara penuh.  Salah satu caranya adalah dengan membatasi impor pipa baja yang masuk. Sedangkan untuk bentuk mekanisme pembatasan impor, dirinya menyerahkan kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Selain persoalan impor, Wigrantoro mengakui kurangnya daya saing produk dalam negeri jika dibandingkan dengan pipa baja impor. Produk dalam negeri jusrru lebih mahal. Namun, ia melihat ada beberapa faktor eksternal di luar kemampuan pelaku industri yang membuat harga jual pipa baja nasional lebih mahal.

"Seperti suku bunga, biaya logistik, kebijakan pajak, biaya listrik yang cukup mahal, sehingga membuat harga lebih mahal 20% daripada harga pasaran. Harga barang impor jauh lebih murah bisa sampai 25% ketimbang barang produksi lokal," jelas Wigrantoro.

Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan oleh pihaknya, Wigrantoro yakin produktivitas antara pabrikan lokal dengan yang ada di Korea Selatan berada dalam kisaran yang sama. Hal tersebut baru dapat benar-benar terasa jika pemerintah melenyapkan faktor-faktor eksternal yang menyebabkan biaya tinggi.

Industri pipa baja merupakan industri yang mengikuti pergerakan permintaan dari sektor lain, misalnya migas dan properti. Dengan turunnya harga minyak dunia, sudah tentu kegiatan eksplorasi akan berkurang dan berdampak pada menurunnya permintaan pasar. Namun untuk pasaran properti, menurut Wigrantoro, saat ini masih stabil. (Dro/E-1)

Baca Juga

dok.ist

Kementan dan DPR Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian Melawi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:40 WIB
KEMENTAN RI melalui Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru berkolaborasi dengan Komisi IV DPR RI terus berupaya...
Antara/Boyek Lela Martha

Kemendagri: Produk dalam Negeri Harus Jadi Tuan di Rumah Sendiri

👤Yakub Pryatama WIjayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:17 WIB
UMKM harus jadi perhatian  karena sektor ini paling luas serapan lapangan kerjanya,"...
Antara/HO BNBR

Realisasikan Investasi RI-Inggris, Bahlil bakal Bentuk Tim Khusus

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:25 WIB
“Saya pikir kita perlu membuat tim khusus untuk merealisasikan kerja sama ini yang akan kita teken saat Konferensi Tingkat Tinggi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya