Minggu 05 September 2021, 05:00 WIB

Menelusuri Jejak Wayang Cecak

MU’JIZAH | Weekend
Menelusuri Jejak Wayang Cecak

Dok.Pribadi
Wayang Cecak

 

 SEBUAH panggung besar di lapangan sudah disiapkan, tidak jauh dari Masjid Pulau Penyengat, yang sekaligus cagar budaya. Irama Melayu yang khas terdengar merdu dan menghangatkan suasana. Panggung kecil dengan latar biru tempat boneka-boneka wayang berlagak telah disiapkan. Hari itu, dalang wayang cecak sedang berkonsentrasi.Dia akan menyuguhkan cerita yang dicuplik dari episode Syair Siti Zubaedah, cerita tentang keteguhan perempuan bernama Zubaedah, yang sangat populer pada masa lalu.

Kerinduan pada pertunjukan seni tradisional itu direalisasikan melalui rekonstruksi wayang cecak yang digelar di Festival Pulau Penyengat (2017). Event itu merupakan hasil kerja sama seniman dan budayaan setempat dan peneliti, yang didukung beberapa lembaga pemerintah di Riau. Penonton yang sebagian besar ialah masyarakat
Melayu yang berada di sekitar Pulau Penyengat dan Pulau Bintan. Mereka, terutama yang berusia 50-an tahun ke atas, ingin bernostalgia menyaksikan wayang cecak yang dulu pernah mereka saksikan. Upaya revitalisasi tradisi yang hampir punah itu membuat banyak penonton penasaran sehingga mereka antusias menonton warisan
tradisi teater tradisional yang sisa hidupnya hanya ada dalam memori.

Wayang cecak ialah sebentuk teater tradisional, yang pertunjukannya menggunakan boneka kecil yang dibuat dari kain perca. Ukuran bonekanya kecil, yakni sebesar telapak manusia sehingga disebut wayang cecak. Panggung tempat boneka-boneka juga disesuaikan sehingga ukurannya kecil sekitar 1,5 x 1,5 meter. Biasanya cerita yang dibawakan ialah cerita yang hidup dalam tradisi sastra Melayu, seperti Siti Zubaidah, Si Giring-Giring Kuning, Silindung Delima, Nak Kapiten, Raja Haji Fi Sabillah, dan Hang Jebar, dan Engku Putri.

Hidup wayang cecak kini sekarat jika tidak ingin dikatakan punah. Seni tradisi ini terakhir dipentaskan tahun 40-an di Tanah Melayu, khususnya Pulau Penyengat, Bintan, dan Lingga.Maestro wayang cecak sudah tidak ada lagi. Ingatan pada wayang cecak hanya dimiliki oleh penonton yang pada masa lalu pernah menyaksikannya dan sebagian besar sudah masuk lansia. Untuk merekonstruksi pertunjukan itu, penelusuran dilakukan melalui penelitian selama satu tahun. Ada niatan untuk mementaskannya lagi, tetapi kemudian muncul pandemi covid-19.

Azmi Mahmud (kini 49 tahun), seniman yang merekontruksi wayang cecak, selama berbulan-bulan menyiapkan bersama tim agar seni tradisi ini dapat dihadirkan kembali. Ia pun telah mempelajari wayang cecak sejak lama dari para tetua adat. Menurutnya, cerita Siti Zubaedah pada masa lalu sangat dekat dengan masyarakat
Melayu. Ia pun lantas melatih para seniman remaja yang ada di pulau kecil ini untuk mementaskannya.

Zainal dan Zubaidah

Pertunjukan cecak kali itu dikreasi sekitar 30 menit dengan mengambil episode bagian awal cerita Siti Zubaedah. Dikisahkan perjalanan tokoh Zainal Abidin, putra Sultan Darmawansyah, mengembara mencari Siti Zubaedah yang berparas cantik, pandai, dan baik hati. Putri berhasil ditemukan dan dipinang. Dalang dalam pertunjukan ini ialah seniman remaja dari Pulau Penyengat yang bernama Alfi Rizwan. Pemuda berusia 25 tahun itu bercerita dan menggerakkan tujuh wayang boneka yang terbuat
dari kain perca, sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Alfi dibantu oleh teman-teman sebayanya, di antaranya Zulfi anda, gadis bersuara merdu yang menghiasi jalannya cerita.

Selain kendang, rebana, dan gong, alat musik yang dipakai meliputi akordion dan biola untuk mendapatkan irama khas Melayu (dulu hanya memakai kendang). Para pemain merasa puas karena melihat antusiasme para penonton, mulai anak-anak, pemuda, dan orang tua. Bahkan ada beberapa tamu asing dari mancanegara yang
terlihat asyik merekam jalannya pertunjukan.

Pertunjukan itu tentu hanya pemantik untuk menghidupkan kembali wayang cecak yang telah hilang. Pembenahan dilakukan seiring dengan temuan-temuan fakta wayang cecak, termasuk kritik dari para penonton zaman dulu. Pertunjukan yang sama juga dipentaskan dimal besar di Tanjungpinang untuk melihat rekasi masyarakat perkotaan menengah ke atas dan kaum milenial dan ternyata cukup menyedot antusiasme pengunjung mal.

Adaptasi wayang Cina


Wayang cecak milik masyarakat Melayu di Pulau Penyengat dan sekitar Kepulauan Riau itu merupakan hasil adaptasi dari wayang Cina. Jejak pengaruh Tiongkok dapat dilihat di antaranya melalui boneka wayang, mirip wayang potehi. Saling pengaruh budaya Melayu dan Tiongkok sudah terjadi sejak lama. Hal itu misalnya tecermin
dalam Syair Baba Tik Sing dan Syair Kawin Tan Tik Cu. Syair-syair itu pada masa lalu juga menjadi bagian dari pementasan wayang cecak.


Pada tahun 40-an wayang cecak cukup popular dan penyebarannya di tanah Melayu cukup luas, sampai ke Pulau Lingga, Pulau Karimun, dan beberapa kepulauan sekitarnya. Dalang yang kondang waktu itu, Khatijah Terung, dulu mentransfer wayang cecak dengan berbagai modifi kasi dari Kapiten Cina yang sering memainkan
wayang dari Tiongkok dengan menggunakan kotak.

Ada lagi nama dalang Salamah yang tinggal di Pulau Penyengat. Ayahnya cepat sekali menjadi duda karena ibunya meninggal saat melahirkan Salamah. Sang ayah memberi nama Salamah yang berarti ‘perempuan pembawa damai’. Suami Salamah ialah Encik Muhammad, pegawai mahkamah kerajaan di pulau itu.

Baru empat bulan menikah, Encik Muhammad pergi ke Mekah untuk memperdalam ilmu nahwu dan fi kih. Namun, lelaki itu meninggal dunia di Mekah. Pada suatu waktu, seorang pemuda asing diperkenalkan kepada Nenek Lamah, panggilan untuk Salamah. Ia lantas tinggal di pulau selama beberapa bulan untuk mempelajari
wayang cecak sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, kecuali cerita yang kedua belas. Pertunjukan perdananya digelar secara resmi setelah hampir satu tahun belajar.

Dalam Pengantin Boneka karya Yunus (2020) diceritakan, pertunjukan wayang cecak digelar pada suatu malam di ruang tengah rumah Salamah yang besar. Kepandaian Salamah diturunkan oleh Nenek Anjung, yang mengasuhnya sejak kecil dengan keras, mulai pekerjaan rumah tangga, adab sopan santun, sampai menghafal dialog. Cerita wayang cecak tak boleh salah walau sedikit pun. Di panggung, satu demi satu boneka-boneka kain perca disusun. Rebana dan nafi ri terdengar, mula-mula sayup, lalu makin mendekat bunyinya makin gemuruh.

Semua boneka wayang cecak itu berbaris berarak menuju pintu. Sebelum pertunjukan, dalang melakukan ritual khusus. Yunus menulis, “Setanggi dibakar dan mantera pembuka dibaca oleh si nenek dengan suara tuanya yang gemetar.” (M-4)

Baca Juga

Dok GoSend

GoSend Rilis Buku Kiat UMKM jadi Best Seller di Era Digital

👤Irana 🕔Kamis 26 Mei 2022, 12:56 WIB
Dalam penulisan buku ini, pihaknya melibatkan sejumlah pakar bisnis dan UMKM yaitu Rhenald Kasali, Yudo Anggoro, Yuswohady, Wulan Ayodya,...
MI/HO

Ohaiaho Rilis Serum untuk Atasi Jerawat

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 26 Mei 2022, 07:15 WIB
Riset dari  The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology menunjukkan 22% perempuan dewasa terkena jerawat, dibanding laki-laki...
MI/adiyanto

FIB UI Gelar Seminar dan Pameran Foto Keberagaman dan Toleransi Masyarakat Singkawang

👤Adiyanto 🕔Rabu 25 Mei 2022, 20:31 WIB
Seminar ini kelanjutan penerbitan buku “Memoar Orang-Orang Singkawang” yang diterbitkan pada 15 Februari 2022 , bertepatan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya