Minggu 15 Agustus 2021, 05:00 WIB

Kias, Tradisi Tutur Orang Lampung

Syahrial | Weekend
 Kias, Tradisi Tutur Orang Lampung

Dok.Pribadi
Imam Rojali saat menampilkan kemampuannya ber-Kias di Gedung PKK Kecamatan Kalianda, 2016

 

                                  

Wahai angin yang bertiup
Ombak kembali ke tengah
Perahu tanpa pendayung
Siapa dalam kesedihan?

Wahai bunga kampung yang pendiam
Pergi ke lain tempat
Bambu apus penjemuran
Kini berkurang kain gantungan

Sayang cintaku padamu
Tiada bandingnya lagi
Jodoh belum bertemu
Kini berpisah mati.

Syair di atas dilantunkan lirih oleh Imam Rozali di antara sekian  syair yang dilantunkannya malam itu. Imam ialah salah seorang seniman Kias yang cukup dikenal di wilayah Lampung Selatan.  Dia merupakan salah satu dari sedikit pemuda yang mencoba melestarikan tradisi lisan ini agar tidak punah.  Malam itu, di Desa Palembapang, Imam diminta oleh Abdul Mu’in yang  tengah menyelenggarakan pesta pernikahan anak bungsunya untuk  berkias atau ngias. Maka, tampillah lelaki 47 tahun itu menunjukkan kepiawaiannya berkias di panggung, ditemani sebuah gitar listrik yang dia mainkan mengikuti tema tiap-tiap syair.   

Kias ialah pelantunan syair, berisi ungkapan perasaan atau berisi cerita. Tema-temanya selalu hubungan sukaduka dan cerita-cerita keseharian orang Lampung. Kadang ditampilkan juga tema kesejarahan, seperti perjuangan Raden Inten atau bagaimana orang Lampung bersikap terhadap sepak terjang Belanda di tanah mereka. Pada masa lalu, Kias merupakan tradisi berlantun masyarakat di waktu senggang. Syair-syairnya biasanya bertemakan nasihat kepada seseorang atau kepada khalayak yang menontonnya. Kisahnya biasanya berhubungan ajaran moral dan kese­hari­an dalam masyarakat.

Seorang seniman Kias harus memiliki pengetahuan terhadap situasi ling­kungan dan  memiliki kepekaan pada situasi di sekitarnya. Pengetahuannya itu dia gunakan sebagai dasar menciptakan syair-syair yang akan didendangkan. Syarat lainnya ialah suara.  Seorang tukang Kias harus memiliki suara yang enak didengar. Tanpa kedua syarat itu, walaupun Kias merupakan kesenian rakyat yang banyak menarik minat, tidak banyak yang akhirnya muncul sebagai ‘artis’ yang dikenal luas masyarakat.

Tradisi ber-Kias biasa ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat, terutama yang berhubungan dengan upacara-upacara daur hidup, seperti dilakukan oleh  keluarga Abdul Mu’in tadi. Pelantunan Kias biasanya dilakukan pada malam hari hingga menjelang pagi.  Hal itu disebabkan masyarakat jurai (subsuku) Peminggir atau disebut juga Sai Batin ialah masyarakat petani sehingga pada malam harilah waktu yang ideal untuk orang berkumpul karena seha­rian penuh waktu mereka dihabiskan di ladang atau di sawah. Sementara itu, para ibu dan anak-gadis sibuk di rumah masing-masing mengerjakan tugas-tugas domestik.  

Alat kontrol

Kias tidak terbatas sebagai media hiburan belaka. Keberadaan tradisi ini difungsikan sebagai alat kontrol sosial bagi masyarakat, termasuk para pemimpin (Sai Batin), yakni sebutan bagi para kepala adat yang mengepalai buay atau marga. Masyarakat Peminggir yang tinggal di Pesisr Barat Krui, Pesisir Semangka (Semaka), Pesisir Teluk Betung, dan Persisir Way Handak (Kalianda) terbagi dalam berbagai buay (marga). Mereka  mendiami pekon-pekon atau desa-desa dan disatukan semangat  muakhi atau kekeluargaan.

Sai Batin tidak dipilih. Dia diangkat berdasarkan keturunan dan jatuh pada anak laki-laki pertama Sai Batin sebelumnya. Pengukuhannya melalui upacara pemberian adok (gelar) yang di dalamnya dibacakan sejarah keberhasilan marga dan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Juga dibacakan riwayat hidup Sai Batin yang baru, kemudian ditutup dengan pemberian gelar kepadanya. Bila dilihat dari pro­sesnya, tampak bahwa seorang Sai Batin ialah ’mejong dihejongan’, yakni  ’duduk yang didudukan’.  Istilah ini bermakna bahwa seseorang telah didudukkan oleh adat karena ia terpilih untuk duduk di situ. Jadi, seorang menjadi Sai Batin haruslah dipandang sebagai takdirnya karena takdirlah yang mendudukkannya di situ.     

Menjadi Sai Batin selain memiliki kehormatan yang tinggi, dia juga memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Adat Peminggir menyebutkan bahwa Sai Batin ialah pemilik adat (kedau adat), yakni kehidupan beradat kebuayan sangat bergantung padanya karena masyarakat telah menyerahkan adat kepadanya. Seorang Sai Batin bertugas memelihara pusaka leluhur (pemanohan) milik kebuayan. Pusaka itu biasanya gong, kenong, keris, tempat sirih, seperangkat pakaian adat, dan beberapa benda-benda lain yang dipandang sakral, bertuah,  dan memiliki kaitan langsung dengan sejarah kebuayan.

Gelar yang disandang seorang Sai Batin ialah kehormatan diri dan masyarakat yang dipimpinnya sehingga  tidak boleh ia melakukan hal-hal tercela dari segi moral dan agama. Seorang Sai Batin dimuliakan oleh adat dan masyarat. Sebagai manifestasinya dia dipanggilnya dengan sebutan ‘Pangeran’, menggantikan nama panggilannya sehari-hari.  Warga masyarakat di kebuayan harus patuh pada Sai Batin karena masyarakat itu merupakan rakyat. Mereka harus patuh, sebaliknya Sai Batin harus menjaga muakhi dalam masyarakat.  

Turun-temurun

Bagi orang Lampung dari jurai Pe­minggir, khususnya yang tinggal di wilayah Kalianda dan sekitarnya, Kias merupakan kesenian turun-temurun yang tidak diketahui kapan mulai ada. Orang-orang tua yang ditanya mengenai hal ini hanya menjawab  bahwa sewaktu kecil mereka sudah kenal dengan tradisi ini. 

Seniman Kias atau Tukang Kias kini dapat dihitung dengan jari. Mereka yang menggeluti tradisi ini biasanya seketurunan, orang dekat, atau murid pelantun yang lebih senior. Kalaupun tidak, biasanya dia ialah orang lain yang memiliki perhatian khusus. Biasanya dia ialah orang yang rajin hadir pada pertunjukan-pertunjukan Kias atau menjadi murid merangkap asisten si pelantun senior. Namun demikian, seiring perubahan gaya hidup, pewaris­an Kias berdasarkan garis keturunan mengalami kemunduran, digantikann oleh pewarisan yang sifatnya bebas, dalam arti siapa aja yang suka. Akhirnya, seorang pelantun Kias mewarisi kete­rampilannya itu karena dia memang suka, memiliki kemampuan mencipta,  di samping bersuara indah.        

Kias tampaknya masih memiliki pendukung walaupun memperlihatkan kecenderungan ditinggalkan kalangan muda.  Alasannya klasik dan terjadi pada semua seni tradisi, yakni tergerus modernisasi. Anak-anak muda, terlebih yang memiliki pendidikan, lebih suka kesenian modern semacam organ tunggal karena dipandang cocok dan tidak ketinggalan zaman. Dengan kesenian itu, mereka serasa mendapatkan oase bagi pelepasan gairah jiwa muda yang meledak-ledak. Hal ini perlahan menyeret Kias dan seni tradisi lainnya di Lampung ke wilayah yang relatif sepi.

Padahal, di masa keemasannya dulu, seorang juru Kias duduk dikelilingi oleh para penontonnya. Sang seniman mendapat penghargaan tinggi dalam masyarakat sebagai juru nasihat yang menjadi andalan para kepala adat. Kini pertunjukan Kias dilaksanakan di atas panggung. Seorang juru Kias melantunkan syair dengan latar belakang suara gitar listrik yang ia mainkan. Para penonton ada yang duduk di tanah berlaskan tikar atau  duduk di kursi-kursi yang telah disediakan menghadap kepada si juru Kias seperti layaknya menonton wayang atau orkes dangdut.     

Menurut seorang pelantun Kias senior bernama Hasan Mataraja, seorang juru Kias harus dapat menyesuaikan syair yang akan dibawakan dengan karakter penontonnya agar pesan yang disampaikan tercapai. Karena itulah seorang juru Kias harus tanggap terhadap situasi. Inilah yang barangkali menjadi syarat terberat bagi orang yang hendak terjun sebagai Juru Kias. Sementara itu, tidak semua orang dikaruniai oleh Tuhan dengan suara yang merdu.  

Kian sunyi


Itu sebabnya, keberadaan Kias dewasa ini mengalami perubahan ke arah yang sunyi. Ini terlihat dari durasi penampilannya dan posisinya dalam rangkaian acara. Juru Kias pada zaman dulu akan melantunkan syair-syairnya semalam suntuk di antara para penonton yang mengerumuninya. Namun, kemajuan teknologi informasi dan pergeseran pola hidup dewasa ini membuat semua itu berubah. Timbul semacam kompromi masyarat dalam menyikapinya. Di satu pihak, mereka melihat Kias sebagai bagian dari adat. Di pihak lain, faktor sosialekonomi dan zaman yang telah jauh berubah tidak dapat diabaikan begitu saja.

Ini terlihat di malam itu, kala Imam melantunkan syair-syair yang diciptakannya, tetapi ditonton oleh hanya sedikit orang.  Malam itu, dia melantunkan sebuah kisah sedih mengenai pasangan yang tidak sampai berjodoh karena sang perempuan mati sebelum mereka menikah. Suara Imam yang mampu membangkitkan kesedihan di hati pendengarnya seakan jeritan hati seniman itu terhadap nasib Kias saat ini. (M-4)

Baca Juga

Dok. ZYNGA

Tiktok Uji Coba Fitur Bermain Gim

👤M-2 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:20 WIB
TIKTOK tengah menguji coba fitur terbaru mereka terkait dengan...
AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JUSTIN SULLIVAN

Perjalanan Dua Dekade Ipod

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:15 WIB
Gawai ini menjadi terobosan untuk alat pemutar musik dengan ruang penyimpanan besar serta baterai yang tahan lama pada era...
Charly TRIBALLEAU / AFP

Taiko, Tradisi Gendang Jepang yang masih Bergema di Era Kiwari

👤Adiyanto 🕔Jumat 20 Mei 2022, 10:32 WIB
Kunci dari evolusi itu adalah seorag drummer jazz Daihachi Oguchi, yang memindahkan festival taiko ke panggung pertunjukan pada 1950-an dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya