Minggu 30 Juni 2019, 00:50 WIB

Jalan Panjang Paradigma Keluarga Kecil

Rizky Noor Alam | Weekend
Jalan Panjang Paradigma Keluarga Kecil

MI/Adam Dwi
Dwi Listyawardani

 

MOMEN Hari Keluarga Nasional yang jatuh tiap 29 Juni selalu membawa refleksi akan pencapaian program Keluarga Berencana (KB). Mulai direa­li­sasikan secara nasional pada awal 1970-an, program KB kini tampak semakin meredup.

Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi perkembangan program KB saat ini? Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang merangkap Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di kantornya, Kamis (27/6), mengenai isu itu, serta mengenai pendidikan kesehatan reporduksi bagi anak-anak dan tantangan-tantangan lain dalam menyukseskan program keluarga berencana:

Pada survei demografi dan kesehat­an Indonesia 2017, terungkap jika penggunaan metode KB modern menurun. Apakah masih terjadi hingga kini dan bagaimana BKKBN menanggulanginya?
Penggunaan KB modern memang tidak meningkat, bahkan sedikit turun. Yang naik justru KB tradisional dan itu di perkotaan. Kita memang sedang melakukan analisis lanjut tentang tren baru ini. Sepertinya memang karena ada perubahan cara berpikir sehingga mereka mungkin lebih nyaman dengan tradisional. Yang jelas anaknya tetap dua, pakai metode apa pun jumlah anaknya tetap menurun. 

Hal ini juga merupakan tantangan karena berarti metode modern kita masih memiliki kekurangan sehingga belum diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Bisa jadi akses pelayanan metode mo­dern ini juga mengalami hambatan, salah satunya di daerah DKI Jakarta yang sebetulnya membutuhkan, tapi yang tidak pakai itu jumlahnya sampai 21%. Ada apa dengan DKI? apakah karena penduduknya begitu mobile sehingga tidak punya akses karena kalau akses lewat BPJS kan harus berdasarkan status kartu kependudukannya, bisa jadi seperti itu, kita masih menengaranginya. 

Apakah ada alasan agama dalam penyebab penurunan itu? 
Justru dari awal adanya KB di Indonesia itu, kita mendapatkan support dari ulama dan organisasi keagamaan berbagai agama. Karena kita mayoritas muslim, tentu dari organisasi besar ke­aga­aman muslim seperti Muhamma­diyah dan Nahdlatul Ulama, itu sudah sejalan bahkan ada fatwanya dari Majelis Ulama Indonesia tentang KB. Indonesia menjadi percontohan, terutama bagi negara muslim lain. Mengapa Indonesia bisa menerima KB, padahal mayoritas muslim dan kita sampaikan karena kita bergandengan dengan para tokoh agama. Jadi dari awal, dari 1970-an sudah kita mulai dan tidak berjalan sendiri, justru karena peran para tokoh agama ini, KB di Indonesia bisa diterima masyarakat luas.

Lalu sebenarnya apa saja tantangan KB modern mengingat dulu pernah sangat sukses?
Dari dulu sampai sekarang, KB di Indonesia itu mengajak pengubahan paradigma atau cara berpikir masyarakat, terutama pasangan usia subur mengenai konsep keluarga. Kita memperkenalkan konsep keluarga kecil. Mengapa? karena kalau keluarga itu besar, secara logika dia akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraannya karena sumber daya yang dimiliki tetap terbatas. Misalnya ada kue satu loyang, mana yang lebih mengenyangkan jika memiliki anak dua atau lima? Kalau anaknya dua, dibagi dua, kalau lima ya dibagi lima. Itu contoh-contoh yang logis saja. Kalau dianalogikan dengan sumber daya lain, misalnya, kemampuan orangtua untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya dengan keputusan anaknya banyak dan ingin bersekolah tinggi, dia harus cari rezeki lebih banyak lagi, itu konsekuensi. 

Jadi, kita mengenalkan konsep agar terjadi perubahan. Ada yang bisa menerima konsep ini dan ada yang tidak. Di Indonesia kan tidak pernah ada denda bagi mereka yang memiliki anak banyak. Berbeda di Tiongkok, yang mana memiliki kebijakan satu anak. 

Jadi, ketika ingin anak kedua, orangtuanya harus membayar sejumlah uang kepada pemerintah karena di sana sudah ada penghitungan satu manusia yang lahir itu memiliki kebutuhan berapa, mulai penggunaan listrik, air, dan itu semua dikelola negara. Maka dari itu, harus bayar ke negara dan pembayarannya itu disetorkan ke negara selama 3 tahun, itu contoh ekstrem di Tiongkok. Namun, sebagian besar negara di dunia itu sifatnya ajakan untuk sama-sama berpikir. 

Bagaimana dengan pelayanan KB sendiri, apakah sudah merata?
Dulu awalnya ada perbedaan yang siginifikan antara orang desa dan kota. Dulu orang di desa anaknya lebih banyak daripada orang di kota, sekarang hampir sama. Bahkan, ada beberapa indikator pokok tentang penggunaan metode tradisional itu justru sekarang banyaknya di perkotaan bukan di perdesaan. Jadi, bisa dikatakan pelayanan KB sudah merata antara desa dan kota karena perbedaannya tipis.

Adanya perbedaan pendidikan tidak menghalangi pasangan subur untuk mendapatkan akses pelayanan kontrasepsi dan menerima untuk bersedia menggunakan layanan kontrasepsi. Namun, yang masih terasa signifikan itu antarwilayah. Jadi, di Indonesia Timur itu relatif belum berhasil karena terkait dengan akses layanan kesehatan, tenaga kesehatan yang bisa melayani KB di sana belum merata di berbagai daerah sehingga otomatis keseluruhan program KB-nya belum semuanya berhasil. Namun, mereka di sana sebenarnya sudah menerima konsep KB, hanya karena keterbatasan itu, mereka banyak yang belum menggunakan.

Bagaimana dengan penggunaan KB di keluarga milenial?
Sudah semakin bagus kalau saya lihat, apalagi mereka sudah lebih logis. Mereka sudah merencanakan keluarganya dengan sudah lebih bagus. Artinya, dengan usia perkawinan yang sudah lebih dewasa dari generasi sebelumnya karena mereka menjalani pendidikan dulu se­tinggi-tingginya, baru kemudian me­ren­canakan menikah dan punya anak. 

Sifatnya kalau milenial itu mandiri, jadi mereka mengelolanya itu secara independen. Ada kondisi mereka menikah, tetapi tidak ingin punya anak dulu dengan salah satu alat kontrasepsi. Kemudian jika sudah memiliki anak, mereka mengatur jarak kelahiran. Sekarang jarak kelahiran semakin lebar, kalau dulu hanya setahun, dua tahun, sekarang jaraknya jauh. Semakin jauh jarak kelahiran berarti semakin adanya indikator pengaturan kelahiran, itu perubahan sikap dari generasi ke generasi.

Bagaimana dengan urgensi pendidikan seks?
Ini salah satu yang sedang kita perjuang­ankan dan memang secara global disebut dengan comprehensive sexual education, memang itu harus masuk ke jalur yang lebih formal. Selama ini kita memang masuk lewat jalur yang informal, jalur formalnya belum kelihatan, dan ini memang terus kita lakukan pendekatan dengan Kementerian Pendidikan bagaimana menyosialisasikan hal-hal tersebut. Sekarang, misalnya, usia akil balig setiap anak sekarang makin muda karena faktor perbaikan gizi. 

Oleh karena itu, salah satu program kita itu kaitannya dengan seksualitas dan remaja-remaja itu sudah mulai kita perkenalkan apa itu alat reproduksi, perkembangannya seperti apa dan sete­rusnya, tapi itu jalurnya bukan formal karena tidak berupa kurikulum khusus dan ini sedang diperjuangkan. Kami memilih istilahnya ialah kesehatan reproduksi karena kalau pakai kata seksual, orang sudah alergi terlebih dahulu. Oleh karena itu, sampai pemilihan istilah harus sangat hati-hati. 

Bisa lebih dijelaskan soal upaya pendidikan kesehatan reporduksi lewat jalur formal itu?
Kita mengintegrasikan dengan kurikulum yang sudah ada karena tidak mungkin menjadi kurikulum tersendiri.
Mungkin kita masuk ke mata pelajaran apa pun yang relevan dan tidak harus menjadikan ini menjadi kurikulum yang terpisah dan itu sudah dilakukan. 
Orangtua sendiri responsnya mendukung. Itu karena sampai dengan saat ini komunikasi orangtua dengan anak dalam hal komunikasi seksual itu masih ada jarak, masih ada keengganan orangtua secara terbuka untuk membicarakan hal itu, akhirnya anak justru mendapat sumber informasi lain. Kita harapkan kalau orangtua tidak bisa, harus dapat dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dalam hal ini sekolah ataupun petugas kita, kader yang kita latih. Jadi, jangan sampai salah info karena ini masalah komunikasi antarorangtua dan anak. Bukan soal orangtua menentang atau tidak, tapi orangtuanya yang tidak mau ngomong soal itu karena mungkin sungkan. Kalau gurunya yang bicara atau teman-temannya mungkin akan jauh lebih terbuka, tapi kita juga tetap mengawal orangtua lewat Bina Keluarga Remaja tentang masalah-masalah remaja kita berikan agar orangtua nanti juga bisa jawab. Persoalan remaja kita ini salah satunya ialah soal komunikasi. (M-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho G

Studi: ASI Tingkatkan Kemampuan Kognitif Anak pada Keluarga Miskin

👤Putri Rosmalia 🕔Senin 04 Juli 2022, 07:30 WIB
Penelitian yang dilakukan pada 6 ribu anak tersebut dilakukan pada kalangan keluarga miskin di berbagai wilayah di...
nsplash.com/Daniel Mingook Kim

Gelisah dan Mudah Marah, bisa jadi Tanda Anda Mengalami Kelelahan Welas Asih

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 04 Juli 2022, 07:17 WIB
Kondisi ini ditandai dengan gejala emosional yang timbul seperti mudah marah, gelisah,  berkurangnya rasa kepuasan dalam membantu...
MI

Sudoku edisi 03 Juli 2022

👤MI 🕔Minggu 03 Juli 2022, 06:10 WIB
SUDOKU atau dikenal juga dengan tebak angka (number...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya