Selasa 03 Maret 2015, 00:00 WIB

Indonesia sebagai Penyangga Iklim Dunia

Akhmad Kusaeni | Alumnus Ateneo de Manila University, Filipina | Opini
Indonesia sebagai Penyangga Iklim Dunia

ANTARA/FB Anggoro

BUMI makin panas, rata, dan penuh sesak. Hot, Flat and Crowded.

Itu judul buku yang ditulis Thomas L Friedman, kolumnis harian The New York Times, yang menjadi tanda peringatan agar semua pihak menyelamatkan Planet Bumi dari kehancuran.

Fakta-fakta yang diungkap di buku itu membuat miris dan mengguncang.

Misalnya saja, soal suhu bumi yang konstan naik dari tahun ke tahun dengan sangat mengkhawatirkan.

Para pakar iklim sepakat bahwa bumi telah menghangat sampai rata-rata 0,8 derajat celsius di atas temperatur 1750, dengan kenaikan paling cepat terjadi sejak 1970!

Temperatur rata-rata bumi yang berubah sebesar 1 derajat barangkali dianggap bukan apa-apa, tetapi itu sesungguhnya sebuah informasi tentang kesalahan dalam iklim sebagai sebuah sistem.

Ini sama seperti perubahan sedikit pada suhu badan manusia yang mengatakan kesehatan atau kondisi normal orang itu sedang terganggu.

Temperatur tubuh manusia yang normal ialah 37 derajat celsius, dan ketika angka itu naik beberapa derajat sampai 38,8 derajat celsius, itu sebuah perkara besar.

Itu menyatakan ada yang tidak beres pada tubuh orang itu, sama dengan yang berlaku untuk perubahan temperatur rata-rata permukaan bumi.

Menurut mantan Wapres AS Al Gore, kenaikan yang hanya 0,8 derajat celsius itu menginformasikan bahwa Planet Bumi mengalami 'sumeng' atau demam.

World Meteorogical Organization mencatat bahwa 10 tahun terpanas sejak orang mulai mencatat dengan termometer pada 1860 semua terjadi antara 1995 dan 2005.

Thomas Friedman, meski bukan seorang ilmuwan, di buku itu menggambarkan fenomena bumi makin panas, penyebab, dan apa-apa yang harus dilakukan.

Friedman mengutip Richard Richel, ilmuwan dari Electric Power Research Institute, yang mengumpamakan dunia sebuah bak mandi.

Bak mandi tersebut oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju lain, dengan pertumbuhan industri mereka sendiri, telah diisi penuh sampai bibirnya.

Kemudian datang India, Tiongkok, Jepang, Korea, dan negara-negara ASEAN--dengan industri yang juga tumbuh--yang membuka lagi keran air di bak mandi yang sudah penuh tersebut.

Tidak mengherankan jika air melimpah sampai membanjiri lantai kamar mandi.

Peran Indonesia
Di tengah kondisi bumi makin panas dan es di Kutub Utara yang meleleh, keberadaan Indonesia yang telah diakui sebagai paru-paru dunia selain Brasil dan Zaire bisa berperan banyak.

Indonesia bisa menjadi penyangga iklim dunia.

Jika Australia memiliki the Great Barrier Reef sebagai pelindung daratan Australia, kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke berfungsi sebagai the World Natural Barrier Islands yang memisahkan antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindia.

Indonesia ialah negara kepulauan terbesar di dunia dengan pulau-pulaunya berjejer sambung menyambung menjadi satu.

Terbentang dari Sabang sampai Merauke sepanjang 5.140 km atau sama dengan jarak Inggris ke Turki yang menjadi 'Pulau-Pulau Penghalang Dunia Alamiah' menghambat laju pemanasan dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia.

Dengan demikian, suhu di Lautan Hindia lebih dingin jika dibandingkan dengan suhu di lautan Pasifik (berbeda sekitar 4 derajat celsius).

Jika hutan di pulau-pulau Indonesia rusak parah, tentunya itu akan mengakibatkan erosi besar di kepulauan Indonesia.

Itu berdampak lanjut pada melebarnya selat-selat yang ada sehingga menciptakan penyatuan air laut di utara dan selatan dalam skala yang lebih besar.

Hal ini selanjutnya berdampak pada peningkatan suhu Lautan Hindia sehingga mengakibatkan percepatan pencairan es Kutub Selatan.

Ujung akhirnya menuju ke peningkatan ketinggian permukaan laut di dunia yang menenggelamkan pulau-pulau dan daerah pesisir.

Pemerintah dan semua pemangku kepentingan harus mempromosikan peran penting Indonesia itu sebagai penghalang pemanasan iklim dunia serta 'memaksa" negara-negara maju memberikan kontribusi lebih besar kepada Indonesia dalam upaya konkret menjaga keutuhan lingkungan Indonesia bagi kepentingan dunia.

Badan-badan PBB dan lembaga-lembaga internasional harus membantu Indonesia dalam kegiatan di bidang konservasi hutan, satwa, dan laut seperti yang dilakukan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Taman Nasional Bukit Barisan Bagian Selatan.

Kawasan itu terletak di semenanjung selatan Pulau Sumatra seluas 50 ribu hektare.

Itu kawasan konservasi dan rehabilitasi bagi satwa liar dan langka, hutan, flora dan fauna, laut, serta terumbu karang.

Kawasan TWNC dikelola dalam bentuk kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pengelolaan hutan, satwa, flora, fauna, dan laut di TWNC dilakukan atas dasar kecintaan pendiri Artha Graha Peduli Tomy Winata terhadap lingkungan dan kehidupan, mungkin jauh-jauh hari sebelum isu perubahan iklim global digaungkan.

Di dalam TWNC, ada sejumlah program yang dilaksanakan.

Salah satu yang terkenal ialah program penyelamatan dan pelepasliaran harimau sumatra, satwa liar yang dilindungi dan saat ini berada di ambang kepunahan.

Dengan kondisi hutan dan ekosistem yang terjaga baik, diperkirakan terdapat lebih dari 30 harimau sumatra yang hidup di dalam kawasan TWNC.

Bukan hanya harimau, di kawasan konservasi itu juga telah dilakukan pelepasliaran berbagai satwa lain, di antaranya buaya dan kura-kura.

Hingga 2014 sudah ada lima harimau yang dilepasliarkan di kawasan tersebut.

Awal Maret ini dilepasliarkan dua harimau lagi.

Andai kata kawasan hutan TWNC seluas sekitar 50 ribu hektare yang sudah dikelola Artha Graha Peduli selama 13 tahun itu kemudian rusak, semenanjung di kaki Sumatra tersebut suatu saat akan 'patah' dan hilang.

Kalau kawasan di semenanjung kaki Sumatra itu hilang, itu berdampak lanjut pada melebarnya Selat Sunda sehingga menciptakan penyatuan air laut di utara dan selatan dalam skala yang lebih besar.

Dunia harus terlibat dan tidak boleh berpangku tangan kalau tidak ingin kenaikan suhu melonjak, pemanasan global tidak terkendali, dan es Kutub Selatan terancam meleleh.

Lebih 20 tahun lalu, orang menilai gila ketika ada yang menjual air di botol.

Sekarang di mana-mana orang minum dan membawa-bawa air mineral dalam kemasan.

Saat ini mungkin juga orang menilai gila kalau ada yang menjual oksigen di botol.

Namun, 20 sampai 50 tahun yang akan datang, ketika pemanasan global tak terkendali dan kenaikan suhu udara terus melonjak, tidak mustahil botol oksigen dijual di lampu merah dan orang menghirup udara segar dalam botol kemasan.

Atau pergi ke kawasan TWNC untuk menikmati udara segar tanpa menghirupnya dari botol kemasan.

Baca Juga

Yeremias Jena Dosen Filsafat/Etika di Unika Atma Jaya, dan Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (Hidesi)

Salah Kaprah Revolusi Akhlak

👤Yeremias Jena Dosen Filsafat/Etika di Unika Atma Jaya, dan Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (Hidesi) 🕔Sabtu 05 Desember 2020, 05:05 WIB
NOVEMBER 2019, Robert Baker menerbitkan sebuah buku berjudul The Structure of Moral Revolution (MIT,...
Dok.UI

Deklarasi Papua Barat Merdeka yang Cacat Hukum

👤Arie Afriansyah Dosen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia 🕔Sabtu 05 Desember 2020, 05:00 WIB
AWAL Desember 2020, rakyat Indonesia kembali dikejutkan dengan adanya sebuah pernyataan kontroversial. Benny...
Dok. Pribadi

Obat Covid-19

👤FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM 🕔Jumat 04 Desember 2020, 02:10 WIB
TELAH dilakukan sebuah penelitian yang membandingkan efek beberapa jenis pengobatan untuk penyakit Coronavirus disease 2019...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya