Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
INDONESIA akan mengalami bonus demografi pada rentang 2020 hingga 2030. Bank Dunia memprediksi bahwa pada 2030, Indonesia akan menjadi negara besar ketujuh dunia, seiring dengan 70% warga usia produktif. Sebagian besar dari warga usia produktif merupakan anak-anak muda dengan masa depan cerah. Anak-anak muda usia produktif akan menjadi penopang negeri ini dengan segudang ide, gagasan, tawaran kesempatan serta skill kompetitif. Inilah peluang sekaligus tantangan yang perlu dikaji secara mendalam serta disiapkan infrastruktur dan sistem untuk mengawalnya. Namun, peluang berupa bonus demografi ini menghadapi tantangan nyata, berupa merebaknya kebencian, fitnah, dan gelombang radikalisme di kalangan anak muda. Banjir informasi di media sosial yang beragam sumbernya menyasar pada anak muda sebagai pengakses utama. Perkembangan teknologi kemudahan membeli telepon pintar dan tren media sosial memicu traffic interaksi anak muda di dunia digital.
Potensi kebencian
Perkembangan anak-anak muda ialah menghadapi tantangan berupa minimnya analisis atas informasi dan tingginya potensi kebencian terhadap kelompok yang berbeda. Anak-anak muda mudah terjebak pada kesesatan informasi, provokasi, dan berita palsu yang menjadi viral di media sosial. Anak muda bernama IAH, berusia 18 tahun, nekat melancarkan aksi pengeboman yang membuat gaduh jemaat gereja dan melukai Pastor Albert Pandiangan. Ironisnya, IAH mengaku aksi nekatnya terpengaruh dari informasi yang diakses dari media sosial dan tawaran uang dari orang yang tak dikenal. Dari peristiwa insiden Gereja Katolik Santo Yosep, ingatan kita berputar pada kasus-kasus sejenis di berbagai kawasan, dari kasus pembakaran Klenteng-Vihara Tanjung Balai (Sumatra Utara), insiden Sunni-Syiah di Madura, Ahmadiyah di Lombok dan interaksi lintas agama di Bali, Manado, hingga Papua. Dari spektrum keragaman Indonesia yang luas, anak-anak muda menjadi penanda utama.
Hasil survei Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survey Indonesia (2016) menunjukkan anak muda memiliki potensi tinggi untuk masuk jaringan dan kelompok radikal. Survei Wahid Foundation terfokus pada pemuda muslim negeri ini sebagai bahan analisis. Anak-anak muda, dengan luapan emosi, egoisme, amarah yang dikombinasi dengan pencarian jati diri, menjadi sasaran utama rekrutmen kelompok radikal yang mengembangkan jaringan. Melalui media sosial, informasi-informasi tentang jaringan radikal, dan bahkan teroris, membangkitkan minat anak-anak muda untuk terhubung ke dalam kelompok radikal.
Data Wahid Foundation mengungkap fenomena ini. Dari 1.520 responden, yang tersebar di 34 provinsi, ternyata 59,9% memiliki kelompok yang dibenci. Dari angka 59,9% tersebut, sebanyak 92,2% menolak jika kelompok yang dibencinya menjadi pejabat negara. Survei ini menjelaskan faktor kebencian terhadap kelompok, ideologi, dan etnik tertentu juga berdampak pada kepemimpinan. Dalam bidang keseharian, kebencian juga berimplikasi pada penolakan terhadap tetangga yang berbeda agama, keyakinan, dan etnik tertentu. Data survei, sebanyak 82,4% tidak setuju jika kelompok yang dibenci menjadi tetangga dekat. Sementara itu, dari sisi radikalisme, ada 7,7% yang bersedia melakukan tindakan radikal serta 0,4% tercatat telah bertindak radikal. Persentase potensi radikal ini tidak bisa dibilang kecil karena jika dihitung angka 150 juta umat muslim Indonesia, sebanyak 11 juta orang bersedia bertindak radikal. Tentu saja, ini merupakan preseden yang menghawatirkan. Kemudahan informasi dari media sosial, jika tidak ada filter dan analisis kebenaran serta cross-check, akan berpotensi menjadi sumbu konflik yang siap meledak.
Membangun perspektif
Tentu saja, potensi radikal yang demikian besar menjadi tantangan bagi kita semua; pemerintah, akademisi, tokoh agama, aktivis pemuda, dan simpul komunitas untuk bergerak bersama. Anak-anak muda perlu dibentengi dari kebencian dan potensi radikal. Caranya ialah dengan menguatkan perspektif atas keindonesiaan, kebangsaan dan keagamaan, serta lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan media. Kecerdasan menggunakan media, di antaranya jernih menganalisis data, melakukan tabayun atas berita dan mengganti kebencian dengan ungkapan cinta. Dalam risetnya, Stephanie Schwartz (2010) mengungkap anak-anak muda memiliki potensi besar sebagai agen perdamaian. Jika diberdayakan dan mendapat dukungan, anak-anak muda menjadi tulang punggung dalam menyembuhkan luka-luka komunitas, etnik, dan bangsa pascakonflik. Riset Schwart yang dipublikasikan dalam karya Youth and Post-Conflict Reconstruction menjelaskan bagaimana anak-anak muda memiliki energi besar sebagai referensi membangun perdamaian. Jika mendapatkan iklim sosial yang sehat, anak-anak muda berpotensi membangun wilayah dengan ide-ide kreatif dan gagasan visioner.
Ruang-ruang publik yang menumbuhkan interaksi antaranak muda perlu diperbanyak. Tidak hanya ruang fisik, tapi juga ruang keilmuan yang menumbuhkan perspektif, membangun mental anak-anak muda. Gerakan atau kerja nyata untuk melibatkan anak-anak muda dalam sebanyak mungkin agenda positif menjadi penting. Agenda pengembangan soft skill, pengalaman lintas etnik dan agama, serta beragam kegiatan yang menumbuhkan semangat kebangsaan-keindonesiaan harus menjadi prioritas. Semangat kebangsaan-keindonesiaan inilah yang dapat mengubur kebencian menjadi cinta, menjadi persaudaraan. Anak-anak muda perlu terlibat dalam komunitas yang menguatkan pengalaman lintas kultur. Pengalaman merasakan kebinekaan harus menjadi bagian dari proses hidup. Dari riset Wahid Foundation, juga ditemukan informasi menarik yang positif, berupa keberpihakan pada demokrasi dan penerimaan Pancasila dan UUD 1945. Sebanyak 82,4% anak muda muslim bersedia mengikuti sistem demokrasi dan menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan pilar bernegara. Penerimaan anak muda terhadap Pancasila ini menjadi gerbang awal untuk terus mengampanyekan nilai-nilai utama keindonesiaan yang telah dirumuskan pendiri bangsa. Nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, dan kecintaan terhadap bangsa harus terus dinyalakan di tengah keringnya dialog.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved