Selasa 19 April 2022, 05:00 WIB

Membudayakan Tilawah Al-Qur'an

Jenderal TNI Dudung Abdurachman SE, MM Kepala Staf Angkatan Darat | Opini
Membudayakan Tilawah Al-Qur

MI/Seno

 

“SESUNGGUHNYA orang-orang yang selalu tilawah (membaca) kitab Allah, dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri,“ (QS Al Fathiir: 29-30).

Kata tilawah, yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al Fathiir ayat 29-30 tersebut, memberikan petunjuk bahwa tilawah Al-Qur’an merupakan suatu kewajiban yang harus kita lakukan sebagai umat Islam. Membaca Al-Qur’an, termasuk amal yang sangat mulia dan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan, membaca Al-Qur’an bukan saja menjadi amal dan ibadah, tetapi menjadi obat penawar (assyifa) bagi yang gelisah jiwanya. Menenteramkan hati dan menjernihkan pikiran.

Bahkan, Ibnu Katsir sampai menjelaskan bahwa dalam ayat ini merupakan ayatul qurro, yakni ayat yang ditujukan untuk pecinta Al-Qur’an, para keluarga Al-Qur’an, para ahli Al-Qur’an, para pembaca Al-Qur’an, dan juga para penghafal (hafiz) Al-Qur’an. Intinya, ayat ini tentang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an.

Namun sayangnya, di era milenial saat ini, digitalisasi media yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti teknologi HP, televisi, dan gadget lainnya, telah menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu selama berjam-jam daripada harus menyediakan waktu beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, perlu memaksakan diri, membiasakan dan membudayakan untuk meluangkan waktu tilawah Al-Qur’an agar kita semua termasuk kategori orang yang mencintai Al-Qur’an.

Keagungan Al-Qur’an sampai saat ini tetap tidak terbantahkan hingga oleh kitab samawi lainnya sekalipun. Kehebatan kitab samawi terakhir ini, selain merupakan doktrin keimanan, juga pembuktian realitas di atas durasi zaman, yang selalu menyuguhkan kebenaran-kebenaran ungkapan Al-Qur’an, tidak akan pernah terlampaui kandungan-kandungan maknanya, yang selalu senapas dengan denyut peradaban manusia. Bahkan sampai kiamat kelak.

 

Memaknai tilawah Al-Qur’an

Diriwayatkan dari Aisyah ra, berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang tilawah (membaca) Al-Qur’an, dan ia mahir dalam membacanya, maka kelak ia berkumpul bersama para malaikat yang mulia dan taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata, dan ia merasa kesulitan dalam membacanya, maka ia mendapatkan dua pahala,” (HR Bukhari Muslim).

Makna dari Hadis Bukhari Muslim tersebut menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya, mereka akan mendapatkan balasan khusus dari Allah. Selain itu, keistimewaan tilawah Al-Qur’an adalah kitab satu-satunya yang bernilai ibadah (Al-Ta’abbud) ketika dibaca. Dengan demikian, dalam hadis itu disebutkan bahwa ganjaran pahala membaca Al-Qur’an tidak dihitung oleh Tuhan dengan jumlah kalimat, tapi dengan hitungan huruf.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan, “Inti tilawah yang hakiki adalah tilawah atau membaca makna dari ayat-ayat Allah, ittiba’ atau mengikutinya, membenarkan semua beritanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, mematuhi seluruh tuntunannya. Sedangkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya, Majalis Syahri Ramadhan, menguraikan cakupan makna tilawah dalam dua macam, yakni yang pertama tilawah hukmiyah, yakni membenarkan segala informasi Al-Qur’an dan menerapkan segala ketetapan hukumnya dengan cara menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafdziyah, yakni membacanya. Lirik irama kata-katanya senantiasa memabukkan pencandu sastra. Setiap lirik dari bait ayat Al-Qur’an memiliki nilai dan maksud tersendiri, bahkan semua penempatan kata tidak akan pernah mungkin sia-sia.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak hal yang bersifat imanen, transendental, dan berada dalam area yang abstrak. Walau demikian, kitab suci Al-Qur’an tidak melulu fokus pada persoalan kerohanian. Keagungannya justru dijumpai dan dirasakan pada nilai-nilai kontekstualitas yang dinamis, tidak pasif apalagi mati. Ungkapan Al-Qur’an juga tidak mengerucut pada aturan-aturan teoretis yang terkesan sangat idealistik (mitsaly), tetapi selalu berdialog dengan realitas yang selalu progresif. Bahasan Al-Qur’an senantiasa dialogis dalam segala ruang dan waktu. Hal ini karena cakupan Al-Qur’an sangat menyeluruh, mencakup segala dimensi kehidupan, baik dimensi keduniaan maupun keakhiratan.

 

Membudayakan tilawah Al-Qur’an

Aktivitas tilawah Al-Qur’an mempunyai dampak yang positif bagi pembentukan karakter. Karakter yang dimiliki seseorang terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Karakter manusia bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Karakter merupakan bentukan atau tempaan lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Karakter seseorang biasanya akan sejalan dengan perilaku dan aktivitasnya. Bila seseorang selalu melakukan aktivitas yang baik maka kemungkinan besar karakter orang tersebut juga baik.

Akan tetapi, jika perilaku seseorang buruk, kemungkinan karakter orang itu juga buruk. Karakter adalah pakaian dan penampilan atau lebih jelasnya identitas. Apa yang ditampilkan akan berpengaruh pada penilaian dan umpan balik (feedback) dari orang lain berupa sikap dan penghormatan.

Orang akan menilai dari tampilan luar, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan. Karena, hampir tidak mungkin sikap kasar, tidak sopan, dan tidak beradab keluar dari jiwa yang bersih seperti halnya orang yang sering membaca Al-Qur’an. Semua manusia memiliki potensi berbuat salah sehingga dalam sebuah lembaga pendidikan, amar ma’ruf nahi munkar harus dihidupkan sebagai manifestasi perbaikan, salah satunya dengan tilawah Al-Qur’an. Jika kesalahan adalah busuk pada daun maka pembiasaan yang baik adalah pisau pemangkasnya.

Dengan melihat penjabaran di atas, tergambar begitu pentingnya dan bermanfaatnya seorang muslim untuk bertilawah Al-Qur’an. Hal tersebut mendorong TNI-AD untuk membudayakan tilawah Al-Qur’an melalui pelaksanaan lomba tilawah Al-Qur’an, yang akrab disebut MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an).

Pada Senin, 18 April 2022, secara resmi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional TNI-AD Tahun 1443 H/2022 M telah dibuka dan akan berlangsung sampai dengan 22 April 2022 di Gedung AH Nasution Mabesad, Jakarta. Temanya kegiatan itu ialah Melalui MTQN TNI-AD Tahun 2022kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai landasan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Penyelenggaraan MTQ Nasional TNI-AD Tahun 2022 tidak hanya diikuti oleh anggota TNI-AD, tetapi juga melibatkan orang sipil sebagai peserta. Dengan begitu, dalam pelaksanaannya nanti penyelenggara akan membagi menjadi empat kategori lomba. Pertama, kategori putra yang terdiri atas prajurit dan PNS di lingkungan TNI-AD. Kedua, kategori putri yang terdiri atas Kowad, Persit, dan PNS di lingkungan TNI-AD. Ketiga, kategori putra dari masyarakat umum. Adapun yang terakhir ialah kategori putri dari masyarakat umum.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di dalamnya menyuguhkan nuansa kehangatan spiritualitas dan pesona budaya keagamaan khas. Bagi komunitas muslim, MTQ menjadi cermin kesalehan spiritual dan sebagai gambaran aktivitas sosial keagamaan yang tecermin dari partisipasi semua komponen umat Islam dalam kegiatan MTQ, yang secara tulus memfungsikannya sebagai wahana syiar Islam. Yang lebih utama dari pelaksanaan MTQ ini ialah dapat menjadikan moralitas kita bisa bersenyawa dengan orientasi tilawah, tidak hanya sebatas menyelengarakan MTQ.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) menjadi upaya untuk membentengi diri dan menjadi nilai tambah dalam peningkatan iman dan takwa serta karakter di lingkungan masing-masing. Yang rajin membaca Qur’an, karakternya akan damai dan lemah lembut. MTQ juga memicu generasi islami bukan saja pandai melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, tetapi juga memotivasi untuk lebih mengimani. Harapannya, mental umat akan semakin baik. Dengan demikian, perilaku umat juga akan semakin baik pula.

MTQ juga menjadi tolok ukur dari keberhasilan pembangunan di bidang keagamaan. Karena, penyelenggaraan MTQ dianggap telah membangkitkan ghirah yang kuat bagi generasi muda muslim untuk senantiasa memelihara kesucian dan meningkatkan kecintaan terhadap kitab suci Al-Qur’an. Perlombaan tilawah ini diharapkan dapat dijadikan injeksi spirit dalam memahami serta upaya mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an di kehidupan yang sesungguhnya, baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat.

Baca Juga

MI/Ebet

Menyelesaikan Kontradiksi

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:10 WIB
APAKAH kita sebagai bangsa memiliki nilai-nilai baik bagi Indonesia...
MI/Seno

Spirit Harkitnas dan KKN di Desa Penari

👤Dewa Gde Satrya Dosen hotel & tourism business School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:00 WIB
FILM bergenre horor KKN di Desa Penari yang telah ditonton hampir 4 juta orang dalam kurun waktu 11...
MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya