Jumat 25 Maret 2022, 05:00 WIB

Langkah-Langkah Semi-endemi

Iqbal Mochtar Doktor dan dokter bidang kedokteran dan kesehatan, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan anggota Perdoki | Opini
Langkah-Langkah Semi-endemi

MI/Seno

 

BANYAK berharap Indonesia cepat-cepat masuk fase endemi. Mungkin dikira status endemi berarti covid-19 sudah hilang dan manusia dapat hidup normal kembali. Apalagi, saat ini banyak negara sudah melakukan relaksasi maksimal. Inggris, Prancis, dan Norwegia sudah tidak mewajibkan masker dan karantina. Negara tetangga Thailand, Malaysia, dan Filipina juga sudah menyetop program karantina bagi pendatang yang sudah divaksin. Artinya, turis kini bebas melancong ke negaranegara tersebut. Presiden Denmark bahkan sudah menyatakan covid-19 bukan lagi sesuatu yang berbahaya bagi masyarakat dan telah menanggalkan semua restriksi pandemi sejak beberapa bulan lalu. Bila banyak negara sudah melakukan relaksasi maksimal, kenapa Indonesia tidak?


Proses spiral pandemi

Dalam sejarah, pandemi umumnya berlangsung selama 1,5-4 tahun. Tidak lebih dari itu. Sebelum covid-19, pandemi H1N1 melanda dunia dan berakhir setelah 14 bulan. Dalam proses mencapai akhir, pandemi mengalami siklus spiral, biasa juga disebut fenomena yoyo. Ketika wabah tiba-tiba muncul dan merebak, manusia melakukan tindakan sesuai dengan kapasitas yang tersedia. Tindakan ini membuat wabah terkontrol sebentar, tapi sejurus kemudian kasus meningkat lagi. Dilakukan lagi tindakan selanjutnya, hasilnya tetap memberikan efek perbaikan sementara.

Perlangsungan seperti ini terus berlaku dan membuat pandemi indentik dengan multi-waves phenomenon, banyak gelombang. Tambahan gelombang akan terus terjadi hingga manusia mendapatkan penatalaksanaan definitif. Sambil menunggu penatalaksanaan definitif, manusia melakukan tindakan apa saja yang tersedia. Kasarnya, buying time.

Sebagian besar ahli sepakat bahwa penatalaksanaan definitif pandemi covid-19 adalah vaksin. Vaksin akan menjadi end-game pandemi. Makanya program vaksinasi digenjot habis-habisan. Vaksin memang terbukti secara ilmiah sangat manjur mencegah orang terinfeksi serta mengurangi keparahan penyakit dan kematian. Jika dibandingkan dengan orang yang divaksin, orang yang tidak divaksin berisiko terinfeksi dua kali lipat, berisiko masuk rumah sakit sepuluh kali lipat, dan berisiko meninggal sebelas kali lipat.

Semakin banyak orang tervaksin, semakin berkurang penyebaran infeksi, pemberatan penyakit, dan kematian. Para ahli bahkan menetapkan benchmark bahwa bila 70%-80% penduduk sudah tervaksinasi, covid-19 sudah tidak mengganas dan telah dikontrol. Virus tetap ada dan bersirkulasi, tapi tingkat keparahan dan kematian yang ditimbulkan sudah relatif lebih rendah. Kondisi inilah yang disebut endemi. Intinya, cakupan vaksinasi berbanding lurus dengan tercapainya status endemi. Semakin tinggi cakupan vaksin, semakin dekat jarak ke status endemi.

Saat ini, lebih 11 miliar dosis vaksin telah disuntikkan di lebih 180 negara. Sebanyak 87 negara telah memberikan paling tidak satu dosis vaksin kepada 75% penduduknya. Pada tingkat global, 64% penduduk telah memperoleh satu dosis dan 57% telah memperoleh dosis lengkap. Dengan status ini, sebenarnya masih diperlukan 9 bulan untuk mencapai cakupan global 75%. Namun, banyak negara yang sudah merasa tidak sabar dan ingin cepatcepat keluar dari pandemi.

Status vaksin yang ada saat ini dianggap modal kuat untuk landing ke status endemi. Dua tahun pandemi benar-benar menguras energi mereka. Apalagi mereka juga terbentur dengan berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan politik. Bila program-program restriksi terus dijalankan, beban mereka makin berat. Makanya cakupan vaksin saat ini dijadikan alasan melakukan relaksasi maksimal, termasuk menggaungkan harapan perubahan segera status pandemi menjadi endemi.


Pandemi vs endemi

Berbeda dengan anggapan sebagian orang, endemi bukan berarti kasus dan kematian covid-19 menurun drastis atau menghilang. Justru, endemi memberi sinyal bahwa covid19 akan terus ada dan bersirkulasi dalam kehidupan manusia, tidak hilang total. Cuma tingkat kasus dan kematian yang ditimbulkannya tidak setinggi saat pandemi. Malaria, tuberkulosis, dan HIV/AIDS adalahtiga contoh penyakit yang telah menjadi endemi. Ketiga penyakit ini tetap ada dalam kehidupan manusia dan tetap menimbulkan kematian. Bahkan, penyakit ini justru menjadi beban kronis bagi pemerintah dan masyarakat. Setiap tahun, 241 juta kasus malaria terjadi dengan 627 ribu kematian. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meminimalkan tingkat kesakitan dan kematian penyakit-penyakit endemi.

Endemi juga terkait state of mind, yaitu kesiapan psikologis masyarakat untuk menerima beban yang ditimbulkan. Dalam endemi, masyarakat tidak panik lagi melihat angka-angka kasus dan kematian yang terjadi. Angkaangka itu dianggap dalam batas yang dapat ditoleransi (whithin tolerable limit). Malaria menyebabkan lebih 600 ribu kematian per tahun, tapi berapa banyak masyarakat yang panik? Demikian pula kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun, kecelakaan di jalan raya membunuh 1,3 juta orang. Namun, masyarakat tidak shocking dengan jumlah kematian itu dan menganggapnya sebagai risiko normal kegiatan keseharian. 

Bila pandemi berubah status menjadi endemi, state of mind masyarakat langsung berubah melihat penyakit ini. Covid-19 akan dianggap sebagai penyakit biasa dan tidak perlu diseriusi. Kalau mereka sakit, mereka merasa tidak perlu mencari pengobatan. Program vaksinasi akan covid-19 diremehkan. Banyak konsekuensi psikologis lain akan muncul terkait perubahan state of mind pada endemi.
 
Saat endemi, kasus dan kematian tetap ada dan bahkan jumlahnya bisa serius. Karena itu, program penatalaksanaan terus intensif dan bukan justru diminimalkan. Pada endemi, program pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi terus jalan. Cuma orientasi dan strateginya beda. Pada endemi, fokus pelayanan utama akan disentralisasi pusat layanan primer seperti puskesmas. Tes hanya dilakukan pada orang bergejala,
bukan pada semua orang. Tracing mungkin diminimalkan tergantung sumber daya. Tidak ada lagi tes PCR saat akan bepergian atau menghadiri acara.

Program vaksinasi covid-19 akan menjadi program rutin, sama dengan vaksin influenza yang diberikan setahun sekali. Bandara juga akan dibuka dengan lebar, tidak ada lagi tes saat akan berangkat meski skriningsederhana akan tetap dilakukan. Pekerja akan kembali bekerja offline penuh dengan mitigasi minimal. Artinya, endemi tidak identik minimalisasi program. Endemi adalah label untuk menegaskan perubahan strategi penatalaksanaan dari massive, universal treatment menjadi scattered, focused treatment.


Semi-endemi

WHO adalah lembaga yang menetapkan status pandemi, dan karenanya berhak menetapkan berakhirnya status pandemi. Namun, beberapa negara bergegas ingin masuk ke status endemi dan memby pass WHO. Tanpa persetujuan WHO, Presiden Portugal, misalnya, beberapa waktu lalu telah mengumumkan negaranya telah memasuki fase endemi. Alasannya, laju kasus di negaranya sudah merendah dan cakupan vaksinasi sudah tinggi. Pengumuman ini menimbulkan perdebatan. Alasannya, basis penetapan pandemi bukan hanya jumlah kasus dan cakupan vaksinasi.

Memang ada jalan, pemerintah suatu negara, setelah berkonsultasi dengan WHO, dapat mendeklarasikan status endemi di negaranya. Namun, langkah ini tidak ujug-ujug karena banyak persyaratannya. Di antaranya, positivity rate mesti di bawah 5%, perawatan RS kurang 5%, dan reproduction number harus 1/kurang. Semua indikator ini mesti terpenuhi, paling tidak beberapa bulan. Artinya,trennya sudah stabil.

Saat ini, Indonesia mengalami perbaikan signifikan profil pandemi, tapi belum memenuhi semua indikator endemi. Makanya, kecil kemungkinan pemerintah akan mengumumkan status endemi dalam waktu dekat. Meski demikian, pemerintah tampaknya telah mengancang-ancang menuju ke sana. On the way to the endemic phase. Banyak restriksi yang sudah mulai amat dilonggarkan.

Saat ini tidak ada lagi tes PCR untuk bepergian dan menghadiri acara. Karantina pendatang dari luar negeri pun telah mulai dipangkas dari beberapa hari hingga tinggal 1 hari saja. Jadi, walau status endemi belum dikumandangkan, tindakan lapangan menunjukkan ke arah sana. Kata kasarnya, kita ini sebenarnya telah berada pada fase semi-endemi. Tergantung hasil lapangan, fase semi-endemi ini akan ending sebagai status endemi atau perpanjangan status pandemi. Kata Bob Marley, “Time will tell.”

Baca Juga

MI/SUMARYANTO BRONTO

Cinta Buya Syafii kepada Bangsa

👤Hajriyanto Y Thohari Ketua PP Muhammadiyah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:10 WIB
BUYA Syafii, panggilan akrab Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, adalah pengagum berat Mohammad Hatta, wakil presiden pertama kita. Keduanya...
MI/Duta

Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

👤Ahmad Baidhowi AR Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:05 WIB
JUMAT (27/5), di hari yang penuh berkah, Buya Syafii Maarif mengembuskan napas terakhir dan menghadap Allah dengan penuh...
MI/Duta

Diaspora Nahdiyin dan Penyebaran Islam Inklusif

👤Sukron Ma’mun Nahdiyin di Sydney, Australia, sedang menyelesaikan program doktor di Western Sydney University 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:00 WIB
MENJELANG seabad usianya, Nahdlatul Ulama menggaungkan pesan damai untuk peradaban dunia dengan tema Merawat jagat, membangun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya