Selasa 11 Januari 2022, 05:00 WIB

Komunikasi Sains untuk Membumikan Riset

Dyah R Sugiyanto Wakil Ketua Umum Ikatan Pranata Humas Indonesia, Sekretaris Bidang Penelitian Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran | Opini
Komunikasi Sains untuk Membumikan Riset

MI/Seno

 

RISET, entah berapa dekade, tidak pernah terdengar apalagi dianggap seksi. Tiba-tiba ia ramai diperbincangkan publik akibat sebuah pemilihan diksi pesan yang keliru. Cuitan pamit oleh tim di unit riset biologi molekuler dari kantor lawasnya sah-sah saja. Namun, tidak berarti aktivitas riset otomatis berhenti dan pesan di dalamnya boleh bias dimaknai publik. Hasil riset ialah karya besar. Proses riset harus dipotret. Lensa kamera para komunikator sains sangat dibutuhkan untuk membumikan riset.

Dengan dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tugas, fungsi, dan kewenangan pada unit kerja yang melaksanakan penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan kementerian/lembaga dialihkan menjadi tugas, fungsi, dan kewenangan BRIN. Prosesnya diikuti dengan pengalihan pegawai negeri sipil, perlengkapan, pembiayaan, dan aset yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut.

Sekadar mengingatkan, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) dikumandangkan. UU Sisnas Iptek selanjutnya diturunkan dalam Perpres No 78 Tahun 2021 tentang BRIN. Konsep sistem nasional itu, intinya, ialah jejaring. Untuk itu, kualifikasi SDM iptek harus memiliki jejaring yang baik. Kapasitas BRIN mengomunikasikan riset juga harus baik.

Menteri Bappenas, dalam Forum Komunikasi Riset dan Inovasi 2021 lalu, mengatakan, jika mau menargetkan 20%, setidaknya ada 1700an SDM yang harus ditingkatkan kualifikasi dan kompetensinya. Mengajar dan riset harus beriringan.

Riset dan inovasi di Indonesia berasaskan pada sembilan pedoman dalam Sisnas Iptek. Iptek menjadi landasan segala bidang kehidupan dan wajib menjadi pedoman dan landasan dalam penyelenggaraan riset.

Pada Undang-Undang Sisnas Iptek tertuang bahwa riset menjadi landasan dalam perencanaan kebijakan pembangunan nasional. Itu cukup membuktikan pentingnya kebijakan nasional berbasis ilmu pengetahuan atau dikenal dengan science based policy. 

Undang-undang itu juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi harus didukung tata kenegaraan dan tata pemerintahan, guna mencapai tujuan negara, serta meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa. Bangsa ini diyakini bisa maju apabila segala kebijakannya didasari oleh ilmu pengetahuan.

 

Sentuhan public relations

Sejak dulu, teknologi selalu mengubah kehidupan dan menciptakan perubahan. Ada perubahan radikal yang kita sebut sebagai disrupsi. Perubahan radikal tersebut sukes membuat teknologi yang lama menjadi usang. Kini kita memasuki era digital disruption. Era yang mengubah cara pandang, mindset, dan cara belajar, serta ilmu yang bisa diterapkan dalam lapangan pekerjaan, profesi, dan jenis usaha. Namun, jangan lupa, era ini juga bisa memicu perubahan struktural dan global lainnya, termasuk pada manajemen riset di Indonesia.

Memotret riset membutuhkan keahlian, khususnya di bidang komunikasi sains. Era digital memicu tantangan para praktisi science public relations untuk menaklukkannya. Ilmu pengetahuan bukan hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan juga untuk stakeholder dan komunitas. Bagaimana para praktisi science public relations di BRIN menyikapinya?

Semua orang mungkin tahu dan mudah membayangkan bahwa BRIN memiliki sumber daya periset yang banyak. Jumlahnya kira-kira mencapai 14.000-an. Namun, tidak semua orang tahu bahwa BRIN juga memiliki 254 pejabat fungsional pranata hubungan masyarakat (humas). Sekadar informasi, jumlah itu, beda tipis dengan kondisi di Kementerian Agama yang memiliki 300-an pranata humas.

Integrasi membuat BRIN mencapai jumlah tersebut. Pranata humas menjalankan fungsi-fungsi public relations melalui beragam aktivitas. Kondisi integrasi yang cukup rumit di internal perlahan terurai. Pada tahap awal, BRIN mengintegrasikan lima entitas, yaitu LIPI, Lapan, Batan, BPPT, dan Kemenristek/BRIN. Jadi wajar, tidak mudah menyatukan lima budaya kerja yang selama ini telah berjalan dengan versi masing-masing.

Meski sulit di awal, prinsip adaptif mutlak dilakukan oleh para pranata humas BRIN. Kolaborasi dan sinergi juga tidak bisa dihindari. Masa transisi rupanya tidak berhenti pada lima entitas tersebut. Sebelum Januari 2022, BRIN mengintegrasikan 28 badan penelitian dan pengembangan (Balitbang) dari berbagai kementerian dan lembaga.

Sebuah hasil penelitian tentang humas, sedikitnya menyebutkan bahwa humas di lembaga riset pemerintah harus adaptif (Rachmawati, 2016). Integrasi ini telah menunjukkan ilmu pengetahuan tentang kehumasan, berkontribusi untuk ilmu pengetahuan itu sendiri (science for science).

Selanjutnya tentang hubungan ilmu pengetahuan dengan stakeholder (science for stakeholders). Sudah harus bebenah di internal masih pula harus mencitrakan lembaga. Kira-kira demikian tanggung jawab profesi yang ideal dilakukan tim kerja sama BRIN. Berbagai mitra kerja sama, dalam dan luar negeri terus diyakinkan, bahwa dengan terintegrasinya kelima entitas, layanan BRIN akan semakin lengkap.

Meskipun, tahun baru tidak diwarnai dengan kembang api, tahun baru BRIN tetap meriah. Ilmu pengetahuan untuk komunitas atau science for community mendadak punya kesempatan emas untuk hadir di tengah netizen. Di hari pertama 2022, Humas BRIN menerbitkan tiga siaran pers. Dua siaran pers awal bertujuan menunjukkan aktivitas riset tetap berjalan, bukan untuk menjawab isu yang viral. Siaran pers ke tiga sebagai upaya penyeimbang isu negatif publik.

Memotret riset dan inovasi membutuhkan komunikator sains yang andal dan terlatih. Komunikator sains menjalankan peran public relations melakukan soft selling, dan berinteraksi dengan para periset. Begitulah cara pranata humas BRIN memberikan sentuhan, berkontribusi membangun ekosistem riset yang mengglobal.

Kesadaran juga diperlukan pranata humas dalam bertugas bahwa BRIN lebih luas cakupan risetnya. Hubungannya dengan media, komunitas, stakeholder, pemerintah, industri, dan masyarakat umum perlu inovasi komunikasi sains. Inovasi yang diawali dengan adaptasi, kolaborasi, dan sinergi science public relations yang baik.

Pakar Manajemen Perubahan, Rhenald Kasali dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa setiap zaman ada tantangan yang berbeda. Dengan lugas, ia juga pernah mengatakan kita perlu meremajakan diri, dan berinovasi, karena untuk apa tua, tapi tidak bermakna. Jadi, mari beradaptasi agar masa tua kita menjadi bermakna.

 

Baca Juga

Dok. Pribadi

Budaya Damai di Sekolah

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma 🕔Senin 17 Januari 2022, 05:10 WIB
PENYELESAIAN masalah dengan menggunakan kekerasan masih sering dijumpai di...
MI/Duta

Mediasi Teman Sebaya

👤Siti Sarayulis Guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe Alumnus University of Tampere 🕔Senin 17 Januari 2022, 05:05 WIB
Jurus menasihati dengan tujuan mengingatkan merupakan solusi pertama yang dipilih para...
MI/Ebet

Wajah Baru KRL Commuter Line

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 16 Januari 2022, 05:00 WIB
Gerbongnya pun bersih, dingin, wangi, serta dilengkapi bapak-bapak petugas keamanan berseragam rapi. Intinya, jauh lebih nyaman ketimbang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya