Jumat 10 September 2021, 05:00 WIB

Masa Depan Green Economy di Indonesia

Agus Sugiarto Kepala OJK Institute | Opini
Masa Depan Green Economy di Indonesia

MI/Seno

MASYARAKAT internasional di berbagai negara sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap aspek lingkungan hidup sebagai bagian penting dari keberadaan generasi manusia berikutnya yang akan hidup di bumi ini. Kepedulian itu bahkan telah didukung PBB untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat internasional, mengenai pentingnya memelihara dan menjaga bumi beserta lingkungan hidup di dalamnya.

Tujuan dimaksud mendapatkan respons yang positif dari pemerintahan di hampir 143 negara, ribuan korporasi besar dan multinasional, jutaan penggiat lingkungan hidup, ribuan LSM, ratusan akademisi, maupun para selebritas internasional.

Perlunya kita menjaga lingkungan hidup bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Pertama, dari sudut lingkungan sendiri, bumi beserta isinya mengalami berbagai perubahan sebagai akibat eksplorasi dan eksploitasi manusia sehingga menimbulkan dampak kerusakan relatif besar dan sulit diperbaiki maupun direhabilitasi. Pembangunan gedung pencakar langit yang menimbulkan efek rumah kaca dan polusi dari hasil pengolahan pabrik, merupakan contoh nyata yang kita hadapi sehari-hari.

Kedua dilihat dari sisi sosial, lingkungan hidup harus terus dijaga dan dipelihara keberadaannya, agar generasi manusia berikutnya yang akan menjadi penghuni bumi tetap dapat menikmati kehidupan di bumi beserta isinya seterusnya.

Ketiga dari sudut pandang ekonomi, pengelolaan SDA beserta lingkungannya, harus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia, tanpa harus mengabaikan faktor alam dan merusak lingkungan. Semangat pentingnya menjaga lingkungan hidup itu diperkuat pendapat Sekjen PBB Antonio Guterres yang menyatakan, “We need a green economy not a grey economy.

Dengan demikian, green economy mempunyai peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global yang berwawasan lingkungan. Pentingnya green economy itu pada akhirnya dijabarkan lebih konkret dalam beberapa isu turunan terkait dengan aspek environmental, social, and governance (ESG), yang saat ini menjadi isu hangat dan terkini di hampir semua negara.

 

Green economy dan circular economy

Dalam paparan konsep, orang sering menganggap green economy sama dengan circular economy. Selintas keduanya memang memiliki persamaan, yaitu bagaimana memanfaatkan dan mengelola bumi beserta isinya untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, keduanya memiliki fokus berbeda dalam mencapai tujuannya.

Konsep green economy bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengharmonisasikan kesejahteraan masyarakat, dengan kelestarian SDA agar pembangunan ekonomi terus berkelanjutan, sedangkan konsep circular economy lebih mengedepankan pemanfaatan proses daur ulang sehingga barang-barang yang telah diproduksi tidak perlu dibuang, bisa diregenasikan kembali menjadi barang baru.

 

Perlunya green economy

Melihat pentingnya menjaga kelangsungan lingkungan hidup untuk kesejahteraan umat manusia, baik untuk generasi sekarang maupun generasi berikutnya, kegiatan ekonomi yang memproduksi barang dan membuka lapangan kerja tidak boleh mengganggu kelestarian alam.

Kegiatan produksi di sektor ekonomi sedapat mungkin menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, mampu mencegah kerusakan ekosistem, dan mengurangi emisi karbon. Untuk itulah, green economy diperlukan dalam rangka mendukung kesejahteraan manusia maupun kulitas hidup yang lebih baik.

Kita berharap visi pembangunan nasional ke depan harus berbasis green economy, untuk menjaga keseimbangan, antara meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian alam. Kita berharap pembangunan ekonomi makro yang dijalankan pemerintah sudah mengadopsi prinsip-prinsip green economy dalam implementasi di lapangan.

Prinsip-prinsip green economy telah disusun PBB, dalam pertemuan The UN High Level Forum on Sustainable Development di New York, pada 16 Juli 2019. Lima prinsip yang menjadi acuan semua negara yang ingin membangun perekonomiannya berbasis green economy. Prinsip pertama, green economy harus mampu menciptakan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Kedua green economy harus dapat menciptakan kesetaraan, baik dalam satu periode generasi maupun dengan generasi berikutnya. Ketiga green economy harus mampu menjaga, memulihkan, dan berinvestasi di berbagai kegiatan yang berbasis sumber alam. Keempat green economy diharapkan mampu mendukung tingkat konsumsi maupun produksi yang berkelanjutan. Kelima pelaksanaan green economy harus didukung adanya kelembagaan yang kuat, terintegrasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Kesiapan Indonesia

Melihat pentingnya peran green economy itu, sudah selayaknya pemerintah menjadikan isu ESG sebagai salah satu acuan pembangunan ekonomi nasional ke depan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan hanya dicapai dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi SDA, melainkan juga harus menjaga keberlanjutan SDA yang tersedia.

Generasi manusia yang hidup saat ini tidak boleh terlalu egois dengan menguras semua SDA yang ada sampai habis. Mereka harus memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kelangsungan semua generasi bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera. Dengan menjaga keseimbangan itu, generasi berikutnya dapat menikmati segala SDA yang ada saat ini.

Pemerintah telah memiliki beberapa ketentuan dalam mendukung green economy. Antara lain, UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, UU No 16/2016 tentang Pengesahan Paris Agreement terkait Perubahan Iklim, dan juga peraturan-peraturan lainnya.

Di satu sisi, kita telah memiliki ketentuan-ketentuan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun, di sisi lain kita belum memiliki visionary maupun cita-cita mengenai arah green economy dalam jangka panjang seperti apa. Eksosistem pengaturan nasional yang kita miliki belum sepenuhnya mencakup semua aspek dari ESG.

Memang diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk menjalankan ESG itu. Diperlukan leadership yang kuat dari pemerintah dan juga kebijakan terstruktur ke depan terkait dengan green economy, agar ESG dapat dilaksanakan dalam semua sektor kehidupan. Sebagai negara besar dengan kekayaan alam yang melimpah, serta dukungan 270 juta penduduk, sudah saatnya kita memiliki arah yang jelas dalam penerapan ESG itu. Oleh karena itu, sudah saatnya kita memiliki cetak biru ataupun peta jalan mengenai masa depan green economy di Indonesia.

Beberapa negara telah memiliki cetak biru terkait dengan green economy, seperti Singapura, memiliki The Green Plan 2030, Thailand telah menyusun rencana strategis yang disebut The Bio, Circular and Green Economy 2021-2026 guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Lalu, Vietnam mempunyai Vietnam Green Growth Strategy dengan jangka waktu 2011-2050.

Dengan memiliki cetak biru terkait dengan green economy, negara-negara itu telah memiliki pedoman dan arah yang lebih jelas mengenai tujuan jangka panjang yang akan dicapai, bagaimana strategi mencapai tujuan, dan tahap implementasinya. Dengan demikian, tujuan jangka panjang untuk mencapai target green economy itu dapat dilakukan dengan lebih baik, terencana, dan sistematis.

Disamping itu, dengan melihat betapa pentingnya peran green economy dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, sudah selayaknya pemerintah juga memberikan insentif kepada para pelaku usaha yang mengadopsi faktor-faktor ESG dalam kegiatan usaha mereka. Salah satunya, dengan memberikan insentif tarif pajak yang lebih rendah. Sebaliknya, bagi kegiatan usaha korporasi yang menghasilkan emisi karbon yang sangat besar, dapat diganjar dengan tarif pajak yang lebih tinggi.

Di samping itu, industri perbankan juga dapat memberikan pinjaman dengan suku bunga lebih murah, bagi korporasi yang telah mengadopsi skema ESG itu. Dengan berbagai insentif yang menarik itu diharapkan prospek ekonomi hijau di Indonesia dapat mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk generasi penerus.

 

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

Baca Juga

Dok. L’Arc de Triomphe

Membungkus L'Arc de Triomphe 

👤Iwan Jaconiah  🕔Jumat 24 September 2021, 11:00 WIB
Pameran seni instalasi bertajuk "L'Arc de Triomphe, Wrapped, Christo and Jeanne-Claude" di Paris,...
MI/Seno

Halal Lifestyle Tren Global dan Peluang Bisnis

👤Sapta Nirwandar Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center 🕔Jumat 24 September 2021, 05:00 WIB
APA yang Anda pikirkan saat melihat label halal pada...
Dok pribadi

Menelisik Roadmap Reforma Agraria

👤Usep Setiawan, Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.  🕔Kamis 23 September 2021, 12:10 WIB
Presiden Jokowi (29/5/20), meminta percepatan Program Strategis Nasional yang berdampak langsung bagi pemerataan dan penguatan ekonomi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

El Diablo Waspada Sodokan Pecco

Trek lurus sepanjang 1,2 kilometer di Circuit of The Americas, Austin, AS, dapat dimanfaatkan Pecco dengan tunggangan motor Ducati Desmosedici yang kian tangguh di beberapa seri terakhir.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya